Kegelapan di gudang 47B terasa seperti makhluk hidup yang sedang menahan napas. Udara menjadi lebih berat, dingin, dan mengikat kulit seperti jaring tipis yang basah. Erika merasakan detak jantungnya berdentum keras di d**a, tetapi wajahnya tetap setenang permukaan laut sebelum badai. Ia mengangkat satu tangan memberi isyarat agar yang lain tidak bergerak. Tuk. Tuk. Suara langkah itu berhenti. Namun rasa kehadirannya masih menyelimuti ruangan, seperti ada seseorang berdiri tepat beberapa meter dari mereka—mengawasi, menunggu, menghitung. Erika memiringkan kepala sedikit, menangkap arah suara dengan lebih presisi. Sari yang bersembunyi di sisinya gemetar halus, tetapi tetap setia diam, percaya pada intuisi Erika meski setiap detik terasa memanjang seperti seutas kabel listrik yang siap

