Pergerakan Kota Jakarta tidak pernah benar-benar tidur. Namun malam itu, di antara kepulan asap knalpot dan hujan yang kembali turun tipis, kota terasa seperti sedang menahan napas. Erika duduk di kursi belakang mobil sewaan mereka, amplop dari Arman menempel erat di pangkuannya. Matanya sembab, tubuhnya gemetar, tapi dalam tatapannya sudah tak ada lagi ruang untuk keraguan. Ia sudah melewati batas di mana ketakutan bisa menguasai. Alvaro menyetir tanpa suara. Wajahnya keras, rahang terkunci. Di sebelahnya, Jona masih memegang pistol kecilnya, jari-jari gemetar tapi siap kapan pun. Mereka bertiga tahu. Setelah apa yang terjadi di Stasiun Tanah Abang, garis pulang sudah hangus. Tak ada tempat kembali. Menyalakan Api Rumah kayu Sari kembali jadi markas. Hujan deras membuat jalan licin, dan

