Bab34

1458 Kata

Suara gedoran di pintu semakin keras, seperti palu godam yang menghantam jantung malam. Erika berdiri kaku, tubuhnya bergetar, tapi sorot matanya sudah bukan lagi milik seorang korban. Ada sesuatu yang lain kini tumbuh di dalam dirinya—api yang ditanamkan oleh rasa takut, tapi tumbuh menjadi keberanian yang tak bisa dipadamkan. Alvaro bergerak cepat. Ia menurunkan tirai, lalu memberi isyarat pada Jona. “Jalur belakang,” bisiknya tegas. Jona mengangguk, wajahnya pucat tapi matanya menyala. Ia berlari ke dapur, membuka pintu kayu yang mengarah ke kebun belakang. Namun sebelum ia sempat keluar, suara pecahan kaca terdengar dari arah ruang tamu. Batu berhamburan masuk, disusul teriakan yang makin keras. “Pengkhianat! Hancurkan mereka!” Sari memeluk laptopnya erat, wajahnya penuh kecemasan.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN