Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu jalan yang temaram, menciptakan ilusi bayangan panjang yang bergerak seiring laju kendaraan. Erika duduk di kursi belakang mobil, jemarinya mengepal di pangkuan. Di sampingnya, Alvaro menatap lurus ke depan, wajahnya tegang. Sementara Reno, yang biasanya tenang, kali ini tak banyak bicara. Amplop cokelat berisi bukti transfer masih berada di tas Alvaro. Beratnya terasa seolah bukan hanya kertas, tapi nasib hidup mereka sendiri. Mereka menuju sebuah gudang tua di pinggiran kota, tempat Jona menunggu bersama informan barunya. Begitu pintu besi berderit terbuka, aroma lembap dan karat langsung menyergap. Lampu neon berkelip-kelip di atas, seolah bisa padam kapan saja. Jona berdiri di dekat meja kayu reyot, waja

