Pagi itu, mereka bertiga duduk mengelilingi meja kecil di ruang kerja. Ruangan itu sempit, penuh tumpukan kertas dan kabel-kabel berserakan. Bau kopi bercampur dengan asap rokok Jona yang membuat udara semakin pekat. Alvaro menyalakan laptop, jari-jarinya bergerak tegas membuka folder yang berisi rekaman. Begitu layar menampilkan wajah Xavier di tengah pertemuan rahasia, ruangan itu mendadak hening. Hanya suara rekaman yang terdengar—suara Xavier sedang berbicara tentang transaksi gelap dengan nada santai, seolah membicarakan cuaca. “Ini video yang bisa bikin dia tamat,” kata Jona setelah menonton beberapa menit. Suaranya datar, tapi tangannya yang bergetar memperlihatkan betapa besar bobot bukti ini. Asap rokoknya melingkar pelan ke udara, lalu hilang, seperti kesabaran yang hampir habi

