Pagi itu, Jakarta tidak benar-benar damai meski matahari berusaha menembus awan kelabu. Suara klakson bersahut-sahutan di kejauhan, burung-burung beterbangan dari pohon hujan yang basah semalam. Tetapi di rumah besar Alvaro dan Erika, udara justru menegang, seolah setiap sudut ruangan tahu bahwa badai sesungguhnya baru akan dimulai. Erika duduk di kursi makan, matanya terus menatap ponselnya yang kini ada di tangan Alvaro. Jemarinya bergerak gelisah di pangkuannya, meremas gaun rumahnya. Sementara Alvaro berdiri, tubuhnya tegap tapi sorot matanya tajam, penuh perhitungan. “Dia pikir bisa kontrol kita pakai ancaman ini,” gumam Alvaro, matanya masih menatap layar ponsel. Erika menelan ludah. “Xavier bukan cuma ancam, dia benar-benar akan lakukan itu. Kalau rekaman itu keluar, aku…” Suaran

