Senyumku hilang setelah menutup pintu kamar Baim dan Bayu. Sejak dari Mall hingga selesai makan malam, aku mati-matian menekan gelegak amarah yang membuat darahku mendidih. Aku tak habis pikir, kenapa Surya tega membohongiku? Apa yang sedang dia sembunyikan? Apa karena wanita itu sikapnya berubah. Namun, akal sehatku berkali-kali menolak prasangka yang berlarian liar di dalam tempurung kepala. Sejak mengenal Surya aku sangat tahu sifatnya. Akan tetapi, lagi-lagi hati menghasut, bukankah semua orang bisa berubah? Aku menekan kepala yang terasa penuh. Sakit mencengkeram bagian belakang kelapa, hingga rasanya berat sekali. Dengan perasaan tak menentu aku kembali ke kamar bermaksud menenangkan diri. Tubuhku terduduk lemas di atas pembaringan kami yang mulai dingin. Aku tidak tahu kapan hubung

