"Papa!" Seruan Baim membuatku mengintip ke arah gerbang yang perlahan terbuka melalui jendela. Mobil fortuner hitam yang biasa dikendarai Surya masuk ke pekarangan rumah. Aku menganjur napas dalam. Meletakkan buku resep yang baru k****a setengah halaman. Setelah meletakkan kembali buku tersebut ke dalam rak, aku menghampiri Surya yang berjalan melewati ruang tamu menuju tangga. "Mau makan dulu, Mas?" Aku berinisiatif mengambil tas kerja Surya. Berdiri di depan lelaki itu agar dia berhenti dan menatapku. Alih-alih Surya terus berjalan setelah tas kerjanya berpindah tangan. "Aku udah kenyang" jawabnya singkat. Aku menatap punggung Surya yang menjauh dengan tatapan getir. Tidak ada sorot rindu yang dulu sering tampak di matanya bila kami berpisah lebih dari dua hari. Aku benar-benar tid

