Setelah mobil Surya menghilang di balik pagar, aku juga menstarter mobil. Seperti biasa, setiap hari kecuali minggu tugasku mengantar-jemput anak-anak. Setelah memastikan bekal Baim dan Bayu masuk ke dalam tas, aku mengemudikan sedan hitam yang dibelikan Surya setahun yang lalu meninggalkan pekarangan rumah. Meski otakku kusut karena sikap mencurigakan Surya, aku harus tetap berkonsentrasi. Belajar memilah emosi, mana yang harus didahulukan. Bukan masalah rumah tanggaku tidak penting, tetapi aku harus menjaga perasaan anak-anak. Aku tidak mau mereka menjadi pelampiasan buruknya perasaanku pada Surya. Sedapat mungkin aku menjaga mood anak-anak terutama Bayu. Dia pernah menjadi saksi prahara rumah tanggaku dengan Mas Irwan yang kandas di tengah jalan. Butuh waktu mengembalikan kepercayaan

