"Kau mencintaiku tanpa sepatah kata. Aku mencintaimu dengan kata yang tak pernah patah. Pergilah ... jika dia terbaik untukmu." ---------------- Sejak perdebatanku dengan Surya malam itu, dia berubah menjadi sangat posesif. Hampir setiap hari lelaki yang memiliki garis rahang tegas itu menemuiku di toko. Dia juga lebih sering menelepon. Bertanya aku di mana? Bersama siapa? Sikapnya yang mulai mengintervensi hidupku, membuat aku gerah. Tak ingin terus-menerus direcoki Surya, aku mulai jarang membalas pesan atau mengangkat telepon darinya. Bahkan mulai menghindar setiap kali Ayah Baim itu mengajak bertemu. Sementara itu, Mas Irwan mulai rajin menelepon atau mengirimiku pesan. Meski hanya obrolan ringan, tetapi cukup membuat hubungan kami sedikit lebih mencair. Aku juga mulai merasa nyaman

