“Kamu salah dengar kali, Kalil—-” “Nggak, aku dengar jelas nama wanita yang Ok Darius sebut.” Darius menjauhkan diri, pertanyaan yang Kalila berikan tadi tidak digubris sama sekali. Darius sama sekali tidak bermaksud menjadikan Kalila pelampiasan, apalagi membayangkan mendiang istrinya, dia menyebutnya tanpa sadar. “Kenapa nggak dijawab?” tanya Kalila, baru saja dia merasa senang, tetapi kembali dibuat kesal. Di saat ingin memperbaiki hubungan, Kalila tidak mau Darius berada dalam bayang-bayang mendiang istrinya. “Aku akan mandi, kamu istirahat saja, aku ada kerjaan di ruang kerja,” balas Darius memutar alihkan pembicaraan, sengaja mengubah topi supaya tidak terjadi perdebatan. Kalila mendengkus kasar, dia menyugar rambutnya ke belakang sembari menahan rasa sesak. “Jawab dulu pertan

