Suara kursi berdecit, kala orang yang mendudukinya menggesernya pelan. "Mau langsung pulang aja atau..." Ucapan Dion menggantung. Tatapannya jatuh pada Sella yang kini juga sudah bersiap. Fanaya menatap keduanya dengan senyum penuh makna. "Kalian mau pulang bareng?" "Iya. Aku udah janji bakal antar dia pulang setelah kami mengobrol. Tapi tadi-" "Dia pulang bersamaku." Suara tegas itu berasal dari Dimas yang baru saja berdiri. Ia langsung menatap tajam sepupunya, seolah ucapan itu sengaja ia lontarkan untuknya. Sella dan Dion sama-sama menatapnya, kaget. Begitu juga dengan Fanaya. "Maksudnya?" bingung Dion. Dimas kelihatan linglung. Seolah apa yang keluar dari mulutnya tadi adalah kata-kata refleks yang belum sempat ia pikirkan matang-matang. Namun, ia akhirnya memberanikan diri memb

