Di ruangan paling atas perusahaan Alex, Samuel sedang berdiri di hadapan Alex dengan menunduk, menyesali bahwa dia tak mampu mencari identitas wanita pelayan cafe itu. Alex bersandar di kursi lalu menggigit bibirnya, menjalin jemari memikirkan apa yang akan dia lakukan. “Cafe,” gumamnya. “Tuan, bukankah Cafe itu sedang membutuhkan karyawan? Bagaimana kalau kita mengirimkan seseorang untuk melamar pekerjaan di sana untuk mendekati wanita itu?” usul Samuel, membuat Alex meliriknya, karena dirasa usul itu menarik. “Pendapatmu bagus,” sahut Alex. “Saya akan menyuruh orang untuk melakukan misi itu, Tuan.” Alex berdeham. Dia membuat Samuel terdiam menunggu keputusan atasannya. Jika bersikap seperti itu, pasti Alex telah memiliki orang yang dia pilih untuk melakukan misinya. “Begini,

