Di cafe, seperti biasa, banyak pengunjung berdatangan. Namun, hanya Sarah yang bekerja. Dia mencatat pesanan orang-orang, mengambilkan pesanan lalu membersihkan segala yang ditinggalkan oleh pengunjung usai mereka puas menikmati sajian di sana. Sarah mencoba melakukan semua pekerjaannya dengan ikhlas meski dia melihat Dara hanya bermain-main dengan ponselnya saja sewaktu Sarah harus berjibaku dengan waktu. “Sarah, kamu bisa ambil bungkusan makanan yang aku letakkan di lokermu,” bisik Irma, mengedipkan sebelah mata ke arah Sarah. “Kak, kalo ketahuan—“ Sarah menggigit bibirnya. Masakan cafe sangat menggiurkan, tapi dia takut untuk membawa pulang untuk disantap di kamar kostnya. Dara pasti tak akan rela jika dia mencolek sedikit saja kudapan cafe. Bagaimana mungkin dia membawa pulang?

