Sonia melajukan mobilnya dengan sangat kencang masuk ke pelataran rumahnya dengan napas tersengal-sengal, masih belum reda rasa cemasnya saat tadi lari dari toko roti. Dia langsung turun dari mobil dan menemui ibunya. “Mama! Mama! Gawat, Ma!” teriaknya, mencari sosok sang ibu di dalam yang sedang mengoleskan bedak di wajahnya. Helena menoleh mendengar suara teriakan Sonia yang terdengar terengah-engah itu. Dia meletakkan peralatan make-up di atas meja. Namun, sebelum beranjak, anak perempuannya sudah berada di belakangnya. “Ma, gawat, Ma!” ucapnya gugup. “Ada apa?” tanya Helena ikut mengerutkan dahinya melihat wajah pucat anak perempuan kesayangannya itu. Keringat dingin meleleh dari dahi Sonia. Helena merasa ada sebuah masalah besar yang dilakukan oleh Sonia, karena sebelumnya dia

