Lamaran???

1135 Kata
Hari ini Giana beserta kedua orangtuanya diminta menemani Jesi. Kira-kira kenapa ya Jesi? Ya hari ini Jesi akan dilamar Nathan, Jesi sangat shock dengan keputusan Nathan yang begitu cepat langsung melamarnya. Pagi-pagi sekali Jesi sudah bangun dan mengajak oma serta adiknya untuk berbicara. Tentu saja omanya sangat terkejut apalagi Jesi dan Nathan baru pertama kali bertemu. Omanya sempat menolak rencana tersebut sampai Jesi meminta tolong orangtua Giana untuk berbicara dengan omanya. Papa Gio menjelaskan pada Oma Rina semuanya. Dari background keluarga Nathan, sampai kenapa Nathan ingin cepat melamar Jesi. Tentu saja hal tersebut tidak langsung mendapat persetujuan Oma Rina. Karena mengetahui background keluarga Nathan yang bukan orang sembarangan membuat tanda tanya besar bagi Oma Rina. Oma Rina merasa Jesi hanya akan dipermainkan oleh Nathan, karena latar belakang keluarga mereka yang sangat berbeda. Dengan sabar Mama Liana menjelaskan secara detail gambaran dari rencana Nathan. Mama Liana pun menjelaskan kalau orangtua Nick yang adalah besan keluarga Nathan pun akan mewakili keluarga Nathan untuk melamar Jesi. Orangtua Nathan yang juga seorang dokter berhalangan hadir dan akan hadir pada saat Nathan dan Jesi menikah bulan depan. Setelah dijelaskan panjang lebar barulah Oma Rina mengerti dan menyerahkan keputusan kepada Jesi karena Jesi yang akan menjalaninya. Oma Rina hanya ingin cucunya bahagia dengan pilihannya dan tidak sampai salah pilih. Semua menjadi lega mendengar persetujuan Oma Rina. Oma Rina juga sudah dijelaskan kalau Jesi ingin Oma dan adiknya ikut bersamanya pindah ke Aussie. Semalam setelah semua teman Giana pulang, Nathan masih lanjut ngobrol dengan orangtua Giana dan juga Jesi. Nathan meminta tolong Papa Gio dan Mama Liana untuk membantunya menjelaskan pada Oma Jesi. Karena Nathan yakin Oma Jesi tidak akan dengan mudah menyetujui rencana dadakan Nathan. Jesi pun awalnya menolak rencana Nathan untuk langsung menikahinya bulan depan karena Jesi sendiri cukup shock dan tidak yakin pada saat Nathan menembaknya malam itu. Justru Giana dan Nick lah yang meyakinkan Jesi kalau Nathan serius dengan omongannya. Jesi yang merasa tertarik pada Nathan akhirnya menyetujui rencana Nathan dengan syarat Nathan harus melamarnya didepan omanya. Jesi yang selama ini jomblo karena sibuk mencari nafkah untuk adik serta omanya tidak menyangka jodoh impiannya datang begitu saja didepan matanya. Ya selama ini Jesi hanya bisa berangan-angan kalau ingin mempunyai suami yang ganteng, baik hati, mempunyai pekerjaan pasti, mapan dan mempunyai keluarga utuh. Ternyata Tuhan menjawab semua doanya tanpa diedit. Dan Jesi sangat bersyukur kalau Nathan mau memboyong serta oma dan adiknya untuk pindah bersamanya. Acara lamaran sederhana berlangsung dengan lancar dirumah Jesi. Semua orang yang hadir merasa lega saat Oma Rina memberi restu dan juga setuju untuk ikut pindah bersama Jesi. Adik Jesi pun akan melanjutkan sekolah di Aussie. Dan mulai besok Jesi dan Nathan akan mengurus semua surat-surat kepindahan Jesi dan keluarganya. Setelah semua tamu pulang, Jesi dan Nathan masih membahas apa saja yang diperlukan untuk mengurus kepindahan oma juga adiknya. Jesi pun akan mengajukan resign mulai besok. "Beib..." "Haahh...??" Jesi merasa canggung dengan panggilan Nathan padanya yang begitu luwes seperti orang yang sudah berpacaran lama. "Kenapa?" tanya Nathan "Enngh... ga kok, ga apa." jawab Jesi bingung. "Kamu ga suka aku panggil beib??" "Ehmm... suka kok, a-ku cuma kaget aja. Belum terbiasa mungkin." jawab Jesi sambil terbatuk. "Aku benar-benar yakin dengan keputusanku beib, aku langsung merasa nyaman saat bersama kamu. Jadi jangan ragu lagi ya, kamu cukup terima aja semua perhatian tulus aku buat kamu. Supaya perasaan cinta kita semakin bertumbuh setiap harinya." ucap Nathan sambil menggenggam tangan Jesi. "Eh... iyaa. A-aku ga ragu kok. Aku cuma belum terbiasa aja dengan semuanya. Juga berbicara aku kamu seperti ini." Nathan tersenyum sambil menarik Jesi kedalam pelukannya. "Gw sayang lu Jes. Untuk panggilan senyaman lu aja Jes. Gw ga akan memaksa, sesantainya aja. Lu menarik perhatian gw sejak pertama kali gw lihat lu dirumah Giana kemaren. Gw tanya Nick dan Giana sebelum gw ajak lu ngobrol dan nembak lu kemaren. Dan gw yakin kalau gw ga salah pilih. Lu percaya sama gw kan Jes?" jelas Nathan sambil tetap memeluk Jesi. "I-iyaa... gw percaya kok. Giana dan Nick juga tadi bilang kalau lu orang yang baik." "Maaf ya kalau semuanya seperti terburu-buru. Gw emang nyarinya istri bukan pacar. Dan gw yakin lu orang yang tepat buat gw Jes. Kita jalanin ya. I Love You Jes." "........" Jesi membeku dalam pelukan Nathan. Jesi yang tomboi, Jesi yang selama ini berantakan, Jesi yang selama ini cuek, Jesi yang selama ini terlihat mudah bergaul dengan siapapun, Jesi yang terlihat berani nyatanya belum pernah pacaran. Pelukan Nathan membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Dia tidak pernah merasakan pelukan laki-laki selain papanya. Makanya jantung Jesi langsung memberontak tidak karuan. Jesi merasa malu dengan degupan jantungnya. Dia merasa seperti bukan dirinya yang selama ini selalu terlihat santai dengan segala situasi. Nathan menyadari kegugupan Jesi dan merasakan degup jantung Jesi yang terasa sampai ke pelukannya. Tapi Nathan justru semakin mendekap erat Jesi sambil tersenyum. " I Love You Jesi. " ucap Nathan semakin menggoda Jesi. "........." "Jes... jangan pingsan!" goda Nathan pada Jesi. "Iiihh...lepas ah." ucap Jesi sambil mencubit lengan Nathan. "Aduh... aduh... sakit beib." "Jangan iseng!" ancam Jesi sambil manyun yang membuat Nathan tertawa. "Iyaa beib." "Kita jadi pergi bareng Giana kan?" "Iya jadi, tadi Nick juga dah bilang ketemu di butik aja. Ayo pamit sama oma dulu." "Iya ayo nanti keburu sore. Kenapa sih senengnya buru-buru, kan jadi mepet siap-siapnya." "Gw takut lu diambil orang Jes." ucap Nathan sambil berbisik yang membuat wajah Jesi langsung memerah. "Nathaaannn...!!!" teriak Jesi yang membuat Nathan semakin gemas pada calon istrinya. Setelah berpamitan pada Oma Rina, mereka langsung menuju butik kenalan orangtua Nick. Disana ternyata Giana dan Nick sudah menunggu. "Jess... sini!" panggil Giana pada Jesi. "Giii... udah lama? Sorry ya jadi lu yang nunggu." ucap Jesi pada sahabatnya. "Santai aja Jes, gw juga abis cari-cari gaun juga buat pernikahan lu nanti. Selamat yaa, akhirnya temen gw dah ga jomblo lagi. Gw shock dengernya tapi gw seneng banget sahabat gw dapet orang yang tepat. Semoga semuanya lancar ya Jes." "Thanks ya Gii. Gw juga ga nyangka ternyata jodoh gw diumpetin lu." ucap Jesi yang sontak membuat keduanya tertawa bersama. Nick dan Nathan yang melihatnya pun ikut tersenyum. "Congrats bro... semoga jalannya mulus selalu. Gw ga ngira lu secepet itu ngelamar Jesi." "Hahaaa... gw watir ada yang nikung gw lagi kalo kelamaan bro." "Sialan lu!" ucap Nick sambil menonjok ringan lengan Nathan. "Tenang aja bro... perasaan gw buat Giana udah ga ada sejak gw tau perjuangan lu buat dapetin Giana. Perasaan gw buat Giana jadi ga ada artinya kalo dibandingin sama perasaan lu yang udah sejak lama dan masih berjuang buat dapetin cinta sejati lu. Gw salut sama lu bro, makanya gw mundur dengan mantap." "Thanks bro udah mundur dengan mantap." ucap Nick sambil menjabat tangan Nathan dengan mantap. Dan keduanya pun jadi ikut tertawa bersama Giana dan Jesi. Ya begitulah perjuangan dan pengorbanan dua lelaki ini untuk mendapatkan cinta sejatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN