Giana terbangun ketika mendengar suara-suara dari bawah. Sayup-sayup terdengar suara Mama Liana sedang berbicara dengan Nick. Giana bangun dan langsung menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya dan sikat gigi.
Ketika hari libur Giana selalu bangun siang, tapi hari ini Giana mau ga mau harus bangun pagi. Selain ada Nick yang menginap, orangtua Nick juga akan datang kerumahnya.
Setelah rutinitas di kamar mandi selesai, Giana pun turun ke bawah.
"Pagi Maa... pagi Paaa..." sapa Giana pada orangtuanya.
"Pagi sayaaanng..." sapa Nick pada Giana sebelum Giana menyapa Nick.
"Pagi." jawab mama papa Giana bersamaan.
"Pagi Nick."
"Tumben anak mama udah bangun." celetuk Mama Liana.
"Iiisshh... mama nih. Ya dah Giana tidur lagi nih."
"Duuhh... ngambeeekkk... malu dong Naaa. Ada yayang kok ngambekan." ledek Mama Giana.
"Mamaaa........!!!!!! Paaaaa....... mama tuh." Giana merajuk pada papanya sambil cemberut.
"Udah... udah... malu itu ada Nick. Ga mama ga anak ya sama aja. Maklum ya Nick kalo dirumah ya begini ini Giana sama mamanya." ucap Papa Gio sambil tertawa.
"Iya ga apa Om." jawab Nick sambil tersenyum.
"Ayo pada sarapan dulu terus mandi. Nanti orangtua Nick datang masih pada bau asem." ucap Mama Liana sambil membawakan sarapan ke meja makan.
Di meja makan sudah tersedia sandwich, ada juga bolu jadul bertabur keju dan coklat beserta coklat hangat.
"Ayo Nick sarapan." ajak Papa Gio.
"Iya Om."
"Na, kasih piring buat Nick." Mama Liana menyodorkan piring pada Giana.
"Ayo sarapan, kamu suka apa? Mau sandwich atau bolu? Suka ga sarapannya?" tanya Giana
"Apa aja aku suka Naa." jawab Nick sambil tersenyum.
"Coba aja semua Nick, masih banyak kok." sambung Mama Liana.
"Iya terima kasih Tante."
Mereka sarapan sambil berbincang hangat. Selesai sarapan, Giana langsung mandi dan Nick juga bersiap-siap karena Nick sudah mandi setelah bangun tidur. Sedangkan Mama Liana sibuk di dapur menyiapkan hidangan makan siang untuk menyambut orangtua Nick.
Orangtua Nick datang sekitar pukul 11 siang mereka membawa buah tangan untuk orangtua Giana.
"Permisi..." sapa orangtua Nick pada Papa Gio dan Nick yang sedang ngobrol di teras.
"Maa...Paaa... ayo udah ditunggu daritadi." sapa Nick pada orangtuanya.
"Mari silahkan masuk Pak Kendrick, Bu Laura." sapa Papa Gio mempersilahkan masuk.
"Apa kabar Pak Gio?" sapa Papa Ken sambil menyalami Papa Gio.
"Baik. Sehat-sehat Pak, Bu?" jawab Papa Gio sambil menyalami Mama Laura juga.
"Sehat Pak. Terima kasih."
"Silahkan masuk Om, Tante." Giana yang melihat kedatangan orangtua Nick langsung keluar dan menyalami orangtua Nick.
Mereka semua masuk kerumah Giana dan duduk di ruang keluarga. Kemudian Giana masuk ke dapur untuk memberitahu mamanya dan mengambilkan minuman. Giana berjalan ke ruang keluarga bersama mamanya dengan membawa minuman dan cemilan.
"Apa kabar nih Bu Laura, Pak Kendrick. Sudah lama juga kita ga ketemu." sapa Mama Liana saat sampai ruang keluarga.
"Kami baik Bu." jawab Mama Laura sambil tersenyum.
"Iya karena sudah lama makanya kita mampir kesini ya Maa." jawab Papa Ken sambil menatap istrinya dan tersenyum.
"Silahkan diminum Om, Tante." ucap Giana setelah menaruh gelas di meja.
"Terima kasih ya Giana." jawab Mama Laura.
"Baiklah... biar cepat, saya utarakan dulu maksud kedatangan saya ya Pak Gio, Bu Liana." ucap Papa Ken yang membuat orangtua Giana heran karena mereka pikir hanya akan bertamu biasa saja.
"Ya silahkan Pak." jawab Papa Gio
"Jadi begini, sepengetahuan saya...anak-anak kita ini akhirnya sudah pacaran. Saya ingin berdiskusi bersama Giana, Pak Gio dan Bu Liana untuk masa depan anak-anak kita."
"Waaahhh... ternyata benar dugaan kita Paah." Mama Liana langsung bersuara.
"Iya Bu, biasa anak-anak. Galaunya curhat ke kita, giliran udah seneng kita ga dikabarin. Bener begitu Nick?! goda Mama Laura menggoda Nick.
"Mamaaa... ga gitu Maaa. Aku cuma ga mau nanti Giana kena masalah. Papa juga pasti denger tentang Susan. Tapi sekarang pelan-pelan kita udah go public kok."
"Iyaa mama papa juga tau, makanya papa mau diskusi bareng Giana dan orangtua Giana juga."
"Iya Paa."
"Setelah saya melihat perkembangan pekerjaan Giana dan Nick setahun ini, saya akan membebankan tanggung jawab yang lebih besar untuk mereka. Karena setau saya Giana adalah anak tunggal, maka saya kesini juga untuk bertanya pada Pak Gio dan Bu Liana. Apakah keberatan kalau Giana saya bebankan tugas untuk membantu Nick mengurus rumah sakit. Karena secepatnya Nick juga harus memimpin rumah sakit. Kalau Pak Gio dan Bu Liana keberatan ya tidak apa, saya akan memfokuskan Nick mengurus rumah sakit."
"Saya rasa kalau dari kita orangtua Giana tidak keberatan, tapi itu semua tergantung dari Giana sendiri." jawab Papa Gio.
"Apa Giana tidak harus mengurus toko Pak, Bu?" tanya Mama Laura.
"Kalau toko itu tidak terlalu rumit Bu, semua bisa diurus orang kepercayaan. Hanya perlu dipantau saja sebetulnya." Mama Liana menjelaskan.
"Kalau Bapak Ibu tidak keberatan berarti kita serahkan ķeputusan tentang pekerjaan pada Giana. Melihat anak-anak yang sudah serius, saya juga berharap mereka akan langgeng sampai jenjang yang lebih serius. Setelah melewati perjalanan yang sangat panjang, akhirnya kita sampai di tahap calon besan. Benar begitu Pak Gio, Bu Liana?" jelas Papa Ken yang disambut tawa bersama kecuali Giana yang tertunduk malu.
"Betul Pak. Kita orangtua hanya bisa mendoakan yang terbaik." jawab Papa Gio
"Bagaimana kalau kita sambil makan siang dulu. Nanti kita sambung lagi obrolannya setelah makan." ucap Mama Liana.
"Wah repot-repot loh Bu."
"Ga juga Bu, saya juga biasa masak jadi ga repot."
"Ayo mari Pak, kita isi perut dulu. Setelah makan obrolan kita sepertinya akan berat."
"Hahaaa... sepertinya memang mengisi perut dulu adalah pilihan tepat ya Pak."
"Ayo... ayo... silahkan dicoba. Mudah-mudahan suka dengan masakan saya." Mama Liana mempersilahkan sambil menaruh nasi hangat ditengah meja.
Mereka makan sambil berbicara hal-hal ringan tentang keseharian mereka. Orangtua Giana dan orangtua Nick sudah seperti teman lama yang bertemu kembali. Mereka hanya bertemu satu kali saat Nick dirawat di rumah sakit waktu itu, tapi mereka bisa langsung akrab tanpa ada rasa canggung sama sekali.
Mungkin karena mereka adalah tipe orangtua yang sama-sama mempunyai pikiran terbuka, santai dan senang bercanda makanya mereka langsung akrab satu sama lain. Giana dan Nick sudah tidak kaget lagi melihat keakraban mereka. Sampai muncul panggilan baru diantara mereka yaitu kakak adik. Giana dan Nick hanya menggelengkan kepala saja. Papa Gio dan Papa Ken ternyata seumuran sedangkan Mama Liana lebih muda dari Mama Laura.
Semakin mengalirlah obrolan-obrolan diantara kedua orangtua mereka. Mereka bahkan tak segan saling mengejek, benar-benar seperti sahabat yang sudah lama tidak bertemu.