Go public ?

1682 Kata
~ flashback ~ Bulan pertama Giana bekerja Disaat jam makan siang, Giana dan teman-temannya berjalan menuju ke kantin. Saat melewati toilet dekat kantin, tidak sengaja Giana ditabrak seorang ibu yang keluar dari toilet. Seketika kertas yang dibawa berhamburan. Giana membantu mengumpulkan kertas yang berhamburan yang ternyata hasil pemeriksaan dan bukti pembayaran rumah sakit. Ibu itu berjalan sambil menunduk dan terlihat sedang sedih. Saat akan menyerahkan kertas-kertas yang Giana kumpulkan, Giana melihat raut wajahnya. Tidak disangka Giana mengenalinya, Giana langsung memanggil dan memeluknya. "Bu Karto??!" Si Ibu merasa dipanggil pun melihat kearah Giana dan ikut terkejut. "Mbak Gi-ana??!" "Ibu apa kabar? Siapa yang sakit Bu? Ibu sendirian? Bapak mana?" "Ibu baik, mbak. Baa-ppak..." Bu Karto langsung menangis di pelukan Giana. "Bu... kenapa?? Duduk dulu sini yuuk." "Bapak dirawat mbak." "Sakit apa Bu?" "Sakit tua mbak. Bapak udah ga ada kerjaan, jadi sering kepikiran makanya jadi suka sakit-sakitan." "Bapak udah ga jaga sekolah Bu? Kan ibu masih ada warung nasi." "Itulah mbak, bapak udah ga kerja jadi penjaga sekolah. Diganti sama yang muda-muda, jadi ibu ga boleh lagi jualan di area sekolah." "Ooo... ibu sekarang tinggal dimana?" "Dikontrakan Sehati mbak, daerah belakang rumah sakit. Ibu terima cuci gosok saja buat sehari-hari mbak." "Giana boleh tau alamat ibu? Ibu ada no hp?" "Boleh mbak, ada mbak no hp ibu 08xxxxxxxxxx" "Ibu yang sabar yaa. Kalau Giana ada kerjaan, ibu mau ga? Nanti Giana tanya-tanya dulu ya Bu." "Iya mbak, makasih banyak ya mbak." "Ayo Bu, Giana antar ke kamar bapak." Itulah awal mula berdirinya kantin mess Hope Hospital. Setelah bertemu Bu Karto, Giana cerita pada Nick. Giana membicarakan dengan orangtuanya juga, awalnya Giana ingin meminta pekerjaan untuk Bu Karto di toko orangtuanya. Tapi setelah Nick bercerita pada orangtuanya akhirnya diputuskan membuka kantin mess untuk dikelola Bu Karto. Pak Karto dipekerjakan untuk bantu-bantu mengawasi mess saja, karena usia juga tidak memungkinkan untuk pekerjaan berat. Pekerjaan mengawasi mess diberikan supaya Pak Karto punya kegiatan dan tidak stress. Bapak dan Ibu Karto pun diberikan mess untuk tinggal supaya memudahkan dan meringankan beban mereka. Setelah Pak Karto keluar rumah sakit, mereka langsung tinggal di mess. Dan langsung memulai pembangunan kantin mess. Semua dipercayakan kepada Bu Karto dan sementara dibantu 2 orang karyawan kantin rumah sakit. Bu Karto berulang kali mengucapkan terima kasih pada Nick dan Giana. Giana dan Nick pun senang bisa membantu dan pastinya mereka tidak kesusahan lagi kalau pulang malam harus cari makan. ~ flashback off ~ Nick dan Derrel sibuk membahas pekerjaan sehingga tidak menyadari datangnya Giana. "Ehhh-eemm... mesra bener nih bapak-bapak." "Eh Kak... udah beres kerjaan?" sapa Derrel "Naa... duduk sini sayang." panggil Nick lembut kepada Giana dan Giana langsung duduk disebelah Nick. "Heeehh... apa tadi??? Sayaaangg??? Ga salah denger gw kan?? Lu berdua??? Yang beneeerr Kaaakkk... seriiiuuusss luuu??? Dari kapaaann??? Kok ga bilang gw???" cerocos Derrel dengan suara berbisik-bisik. Karena walaupun terkejut dan senang, Derrel masih ingat dia sedang berada di tempat umum. Giana langsung menyuruh Derrel diam dengan menaruh telunjuknya di bibir. Nick hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Giana langsung memukul lengan Nick gemas. "Iiisshh... mulutnyaa !!" bisik Giana "Ga apa sayang... aku ga tahan harus ngumpet-ngumpet terus. Sainganku banyak. Aku kesel liatnya. Di kantor aja ada Jefri, Nathan, siapa lagi tuh... belum lagi kemarennya Lois juga tiba-tiba nongol. Aku mau semua orang tau kamu pacar aku. Yaa... yaa..." "Lois? Mantan lu yang tukang selingkuh Kak?" tanya Derrel "Ya siapa lagi." jawab Giana "Kok bisa sih ketemu? Dia tau lu kerja disini Kak?" "Ya gw juga ga tau, ini kan rumah sakit. Siapa aja bisa kesini, tapi gw ga bilang kalo gw kerja disini." jelas Giana "Iya juga sih. Ngomong-ngomong lu berdua dah dari kapan nih? Diem-diem aja." "Udah sejak gw dirawat. Tepatnya sehari setelah gw kecelakaan." jelas Nick "Whaaattt...??? Gila yaa... bisa-bisanya gw ga tau. Bisa-bisanya lu berdua ga kasih tau gw. Waahh... tega emang yaaa. Selama ini gw yang sibuk deketin kalian berdua, nyatanya gw jadi tameng doang selama ini. Pantes aja ya tadi gw bilang masalah gosip baru di rumah sakit, lu santai aja. Ternyata oh ternyata." ucap Derrel sambil mengusap-usap wajahnya. Nick dan Giana hanya tersenyum melihat kelakuan Derrel. "Gosip apalagi emang Rel?" tanya Giana "Lu ga tau Kak? Miss Caper dijodohin ama Pak Bos." jelas Derrel sambil memanyunkan bibirnya. "Ooo... gimana nih pak bos yang dijodohin? Udah diterima belum perjodohannya? Cantik loh... dokter lagi, pasangan serasi banget." celetuk Giana meledek Nick sambil tersenyum. "Aduuhh... ga deh makasih banget. Gw cukup satu aja, ga mau pindah ke lain hati. Dapetinnya susah pake banget, masa dah dapet mau gw tinggalin." jawab Nick memelas. "Dapetnya setelah 3 kali patah kaki lagi. " celetuk Derrel sambil tertawa. "Hussh... udah jangan dibahas. Kok gw jadi berasa jahat jadinya." tegur Giana pada Derrel. "Eh iya... iyaa... maaf Kak." jawab Derrel masih cengengesan. "Udah... udah ayo pesen makan aja. Kamu mau makan apa Naa, aku pesenin." tanya Nick sambil mengusap rambut Giana. "Aku ikan sama sayur aja deh. Bude masak ikan ga yah hari ini?" "Kayanya ada sih. Lu mau apa Der? Gw pesenin sekalian." "Gw ramesan aja Kak. Apa aja gw makan." jawab Derrel cengengesan. Nick meninggalkan Giana dan Derrel untuk memesan makanan. "Eh Kak, tau ga lu tadi si miss caper mau gandeng abang gw masa!" ucap Derrel sambil berbisik dan memajukan kepalanya. "Masaaa? Di rumah sakit tadi??" "Iyaa... di lobi malah. Gila kan ???" "Emang dia putus sama Steve ?" "Setau gw ga tuh. Parah ga sih tuh cewek, bisa-bisanya nyebarin rumor dijodohin terus main mau gandeng cowok sembarangan. Pacarnya kerja ditempat yang sama tapi kok berani ya, ga punya harga diri banget." "Huussh... ga boleh gitu !" "Ya abisnya gw kesel Kak. Semua mau dia mah. Untung aja tadi gw dah liat gelagatnya dari jauh, jadi gw buru-buru samperin Kak Nick." "Terus ga jadi digandeng emang ?" "Jadilah." "Susan gandeng Nick ???" "Wiiihh... santai bu bos santai. Bukan Kak Nick yang digandeng tapi gw. Sampe kesel gw tadi. Dia yang gandeng, dia yang marah-marah." Giana langsung tertawa mendengar ocehan Derrel yang menggebu-gebu, walaupun mereka tetap berbicara dengan mode bisik-bisik. ••• Setelah selesai makan, mereka bertiga asik ngobrol sampai lupa waktu. "Naa, kamu tidur di mess kan? Udah malem ini." tanya Nick "Iya aku tidur di mess, besok pagi mau beresin kerjaan soalnya." "Udah telpon mama ?" "Udah tadi. Besok aku sampe sore kayanya Nick." "Ya besok aku juga ke kantor tapi siangan, pagi mau urus studio bentar ama Derrel. Sore kalo dah selesai kabarin ya Naa." "Wiihh... besok sabtu loh, kok masih pada rajin aja ngantor sih. Heran gw ?" tanya Derrel "Lah lu sendiri ngapain besok pagi ke studio ?" "Ehee... iya ya. Maaf bu bos, besok pinjem pak bos buat beresin kerjaan bentar yaa." jawab Derrel meledek Giana. Giana hanya berdecak sambil menggelengkan kepalanya. "Lu berdua lanjut ngobrol di mess gih. Gw juga mau masuk mess, dah mau jam malem ini. Gw duluan yaa." pamit Giana. "Istirahat ya Naa... nanti telpon ya kalo mau tidur." pesan Nick pada Giana. "Buset... mau tidur aja mesti telponan." komplen Derrel. "Brisik !" jawab Giana dan Nick bersamaan. Derrel hanya cengengesan sambil berjalan bersama mengantar Giana ke mess khusus wanita kemudian berjalan kearah mess khusus pria. Mess Hope Hospital terbagi 3 blok yaitu blok pria, blok wanita dan blok keluarga. Semua blok dijaga security dan ada bude sebagai tambahan penjaga khusus blok wanita. ••• Hari ini Giana sudah sibuk dari pagi didalam ruangan finance. Ada beberapa temannya juga sibuk mengerjakan pekerjaan mereka. Sebentar lagi jam makan siang, Giana masih sibuk dan belum merasa lapar karena tadi pagi dia sudah mampir membeli jajanan di "Sudut Jajan". Giana tidak pernah bosan membeli aneka jajan pasar disana. Orangtuanya sudah mewanti-wanti agar Giana mengambil saja kalau ingin makan jajan pasar dan nanti akan dikurangi dari stok penjualan. Tapi Giana tidak ingin merepotkan karyawan "Sudut Jajan" makanya Giana lebih suka membeli, tidak perlu ribet mengurangi stok dan lain lainnya menurut Giana. "Naa..." Giana menoleh kearah pintu ruangannya dan mendapati Nick berdiri disitu bersama Derrel. "Kak... makan yuk! Ga laper apa lu ?" cerocos Derrel seperti biasa. Giana tersenyum sambil mengangkat kotak snacks nya. "Pantesan yaa lu masih anteng aja. Jajan muluuu..." "Udah mau jam 1 Na, makan dulu yuk. Masih banyak kerjaannya? Nanti aja lanjut lagi." ucap Nick lembut membuat teman Giana yang berada diruangan langsung saling melihat dan batuk-batuk tidak karuan. "Ayo deh. Tapi dikantin mess aja yaa, bude bilang mau masak tuna woku hari ini." "Iya ayoo..." jawab Nick tetap dengan lembut sambil tersenyum. Cara Nick berbicara pada Giana langsung mendapat perhatian dari teman-teman Giana yang ada diruangan finance. Selama bekerja Nick tidak pernah berbicara lembut dengan siapapun, Nick selalu berbicara tegas dan seperlunya. Teman-teman Giana sibuk kasak kusuk melihat kedekatan dan sikap Nick pada Giana. "Nita, Ayu, Dona... ada yang mau bareng? Kalian juga belum makan kan? Yuk bareng!" tanya Giana pada teman-temannya. "Makasih..." dijawab mereka berbarengan. "Duluan aja Gi, kita nyusul." jawab Dona. "Oke deh, duluan ya." pamit Giana ••• Mereka berjalan bersisian sambil bercanda setelah keluar dari rumah sakit. Ketika mereka sedang mencari meja, mereka melewati dokter Susan yang sedang duduk sendiri sambil minum kopi. "Selamat siang Bu dokter. Sendirian aja Bu? Butuh pegangan Bu? Tapi maaf, saya keberatan dijadikan pegangan. Mari Bu dokter." cerocos Derrel jahil begitu melewati meja yang diduduki dokter Susan. Dokter Susan sudah akan membalas tapi dia melihat tangan Nick yang menggandeng tangan Giana dan juga Nick sudah merangkul bahu Derrel untuk menjauh dari situ. Susan memperhatikan Nick yang masih menggandeng tangan Giana sampai ke meja yang mereka duduki. Kemudian dia juga memperhatikan Nick yang berbicara lembut dengan Giana, Nick yang memesankan makanan untuk Giana sampai perhatian-perhatian kecil lainnya. Susan merasa kesal karena dia mati-matian mencari perhatian Nick tapi Nick malah lebih memperhatikan Giana. Susan merasa Giana telah merebut Nick darinya dan merasa dirinya lebih cocok mendampingi Nick. Dia merasa dirinya adalah seorang dokter yang pastinya lebih pantas mendampingi Nick sang pewaris Hope Hospital, bukan Giana yang hanyalah seorang staff biasa. Ketika Steve menghampirinya pun, Susan tetap kesal melihat kearah Giana dan Nick. Steve pun ikut melihat kearah yang diperhatikan Susan dan seketika Steve pun merasa kesal melihat Giana yang tersenyum kearah Nick.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN