Steve mengabari Giana untuk bertemu di taman rumah sakit, karena kantin agak ramai. Giana berjalan kearah taman dengan pikiran yang kacau. Sampai ditaman, Giana memilih duduk dibangku taman dekat pohon rindang. Dari situ Giana bisa melihat kearah jalanan.
"Honey..." Steve memanggil Giana yang sedang asik memperhatikan kendaraan yang lalu lalang.
"Eh Steve, mau ngomong apa?" tanya Giana langsung, karena Giana merasa sudah jelas semuanya.
Ketika Steve meminta putus pun Giana menyetujuinya.
"Aku minta maaf honey... aku ga bermaksud putus sama kamu. Aku cuma kesel karena kamu ngotot nungguin Nick dan ga mau dengerin aku. Kita jangan putus yaaa... aku sayang kamu. Aku cinta kamu Giana. Aku ga mau putus sama kamu. Maaf." jelas Steve sambil berusaha menggenggam tangan Giana.
Namun Giana menghindar, Giana memilih melipat tangannya di d**a.
"Maaf Steve, aku ga bisa. Seperti yang udah aku jelasin kemaren, emang salah aku karena lebih perhatiin cowok lain dibanding pacar sendiri. Aku yang harusnya minta maaf sama kamu. Aku terima kamu disaat aku belum bener-bener lupain masa lalu aku. Aku pikir dengan aku suka kamu itu cukup buat bikin aku cinta sama kamu nantinya seiring berjalannya waktu. Tapi ternyata aku salah, aku udah berusaha tapi aku ga bisa. Lebih baik memang kita pisah. Maaf Steve."
"Engga Honey... aku ga bisa pisah sama kamu. Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Please... kita coba lagi ya. Aku akan berusaha buat kamu mencintai aku."
"Cukup Steve!!! Kamu bilang ga bisa pisah sama aku?? Jangan kamu pikir aku ga tau!! Dibelakangku kamu sering chatting sama Susan, jalan sama Susan. Berapa kali kamu jalan sama Susan?? Kamu bilang sama aku kamu pergi sama Riko, sama Doni, atau kamu sibuk bantu UGD. Aku diam karena aku sendiri belum yakin sama perasaan aku ke kamu. Tapi ternyata diamnya aku justru kamu manfaatkan berulang kali." Giana mulai emosi.
"Tapi aku ga ada apa-apa sama Susan, Honey. Aku sama Susan cuma temenan, ga lebih." bela Steve.
"Temenan??? Temenan harus banget ya anter jemput, anter shopping, nonton berdua, gandengan, duduk dempet-dempetan, rangkul-rangkulan, peluk-pelukan?" berondong Giana yang mulai malas.
"Aku ga pernah begitu sama Susan, Honey. Aku cuma ketemu dirumah sakit aja itu juga kalau pas bareng shiftnya. Kamu kok nuduh aku begitu? Jangan-jangan kamu sering begitu sama Nick, makanya kamu sampai segitu khawatirnya sama Nick?" ujar Steve meninggikan suaranya.
Giana diam sambil membuka galeri HP nya, dia sudah malas berdebat dengan Steve. Awalnya dia hanya ingin memperjelas keputusannya berpisah dan tidak ingin membuka kebohongan Steve tapi karena Steve ngotot dan menuduh Giana, akhirnya Giana menunjukkan bukti yang dikirim teman-temannya. Giana menunjukkan layar HP nya kepada Steve.
"Geser, biar puas liatnya." Giana menyadarkan Steve dari keterkejutannya.
Steve masih menganga melihat banyaknya foto-foto dirinya dan Susan dengan berbagai pose bahkan ada beberapa video juga.
"Puas liatnya? Kalo belum nanti aku kirim semua foto sama video mesranya."
"Ta-pi ini kamu dapet darimana? A-ku..." Steve kehabisan kata-kata.
"Ga penting lagi dibahas. Seperti yang aku bilang, lebih baik kita putus supaya kita ga saling menyakiti. Kalau kamu ga lupa kelakuan Susan kemaren di kamar rawat Nick, itu ga baik buat semua. Jadi aku minta sama kamu, cukup sampai disini hubungan kita dan perbaiki hubungan kamu sama Susan. Jangan kamu ulangi kesalahan kamu!"
"Kamu pilih Nick karena Nick anak pemilik rumah sakit ini kan Gii?? Bukannya dulu Nick tinggalin kamu? Kenapa kamu bisa maafin dia? Kenapa kamu ga bisa maafin aku. Aku ga pernah menganggap Susan lebih dari teman Gi. Kasih aku kesempatan, aku akan perbaiki semuanya. Kalau kamu ga suka aku chatting dan jalan sama Susan, aku ga akan pernah lakuin itu lagi. Aku akan berubah Gii." ujar Steve tidak terima keputusan Giana.
"CUKUP !! Aku mau kita baik-baik ya Steve. Aku ga bisa lagi lanjutin hubungan kita. Jadi tolong ga usah bahas kemana-mana. Aku kenal Nick dari SMP jauh sebelum aku tau dia anak siapa. Aku minta maaf karena aku juga ga cukup baik untuk kamu. Ketika aku tau kamu jalan sama Susan, aku malah diam dan cenderung ga peduli. Itu karena disaat aku berusaha untuk cinta sama kamu tapi kamu bohongin aku, jadi sudah cukup pembahasannya. Lebih baik kita jalan masing-masing. Terima kasih buat semuanya Steve, aku harap kamu bisa lebih baik lagi. Aku balik kekamar Nick ya."
"Gii... kita tetap berteman kan?" tanya Steve.
Giana hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan Steve yang masih tidak percaya dengan semuanya.
Dia tidak menyangka kedekatannya dengan Susan diketahui oleh Giana. Selama ini Steve selalu menghindar jika Susan mengajaknya pergi ketempat-tempat yang biasa dia datangi bersama Giana. Steve memilih menghindar dan pergi ketempat yang lebih jauh dari sekitar tempat kerja maupun tempat tinggal Giana. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Giana justru mendapatkan banyak foto-foto dan video kedekatannya dengan Susan. Dia juga menyesali keputusannya kemaren yang dilandasi karena cemburu.
Melihat kedekatan Giana dengan Nick, melihat kekhawatiran Giana pada Nick, melihat Giana yang menangis untuk Nick, rasanya Steve sangat kesal dan marah. Tapi mengetahui saingannya adalah anak pemilik rumah sakit tempatnya bekerja membuat Steve seperti tidak punya nyali lagi untuk mendekati Giana. Apalagi dia merasa Giana lebih bahagia di dekat Nick.
•••
Giana berjalan meninggalkan taman, dia merasa lega sudah menyelesaikan masalahnya dengan Steve. Selama ini Giana diam karena awalnya dia percaya pada Steve walaupun teman-temannya sudah mengirimkan foto-foto dan video kedekatan Steve dan Susan. Tapi ternyata ga cukup satu dua kali saja, justru waktu Steve dengan Giana lebih sedikit dibanding waktu Steve dengan Susan.
Giana berusaha meyakinkan hatinya dan ingin berbicara langsung dengan Steve tentang perasaanya, tentang Steve dan Susan. Giana ingin mendengar langsung dari Steve tentang hubungannya dengan Susan, setelahnya Giana akan mengambil keputusan sesuai dengan hatinya.
Belum sempat Giana berbicara dari hati ke hati dengan Steve, pertemuan dengan Nick yang tidak disangkanya justru langsung memantapkan hatinya. Siapa yang harus dia pilih dan perjuangkan. Walaupun Giana belum tahu apakah hati Nick masih untuknya.
Giana mampir ke kantin dulu untuk membeli minuman. Giana membeli beberapa macam minuman dan snacks untuk ditaro dikamar Nick.
•••
Sebelum Giana kembali ke kamar Nick, orangtua Nick dan Giana membicarakan mereka dan Derrel dilibatkan untuk membantu kelancaran hubungan Giana dan Nick. Mereka semua berharap tidak ada lagi salah paham dalam hubungan Giana dan Nick. Beberapa rencana sudah diutarakan masing-masing orangtua dan juga Derrel, hingga tercetuslah "Sudut Jajan" yang akan ada di Hope Hospital yang akan melibatkan Giana dan Nick.
Dikamar Nick orangtua Giana dan orangtua Nick masih santai bercerita. Dan ternyata sudah ada Derrel duduk bersama mereka. Ketika Giana masuk, dr. Ken langsung meminta Giana duduk bersama mereka.
"Giana, boleh Om minta tolong ?" tanya dokter Kendrick
"Boleh Om."
"Begini Giana, sebenarnya Om mau kalau Nick membantu Om dirumah sakit ini. Tapi Nick bersikeras tidak suka, malah memilih membuka usahanya sendiri bersama Derrel. Kalau boleh Om minta tolong, Giana mau bantu Om kerja disini? Giana jurusan akutansi ya? Bisa bantu Om di bagian keuangan, gimana? Mudah-mudahan setelah Giana kerja disini, Nick jadi mau bantu Om disini." jelas dokter Ken
"Haahh... eemm gimana ya Om. Giana juga belum pengalaman. Giana baru mulai kerja 1 tahun dan itu juga dibidang F&B." jawab Giana bingung.
"Masalah pengalaman ga masalah. Nanti disini Giana juga pelan-pelan akan dibimbing. Yang penting Giana bersedia dulu. Gimana ?"
"Tapi Om, Giana harus mengajukan pengunduran diri dulu dan menunggu pengganti Giana. Masih harus menunggu 2 bulanan kira-kira."
"Menunggu 2 bulan ga masalah, kamu bersedia kan?"
"Kalau Om ga keberatan dengan pengalaman kerja Giana yang berbeda dan bisa diterima kerja disini ya boleh Om."
"Oke kalau gitu setelah pengajuan resign, Giana kabarin Om ya kapan Giana bisa bergabung. Jadi tinggal meyakinkan Nick yaa Maah, mudah-mudahan Nick ga nolak lagi."
"Mudah-mudahan ya Paah. Derrel... kamu siap kan 2 bulan lagi urus usaha kamu sama Nick sendiri." tembak Mama Nick langsung membuat Derrel gelagapan.
"Eh... iya, siap Tante. Mudah-mudahan skripsiku lancar." jawab Derrel
"Amiiinnn..." jawab semua yang ada diruangan yang kemudian disambut tawa mereka bersama.
"Oya Naa... tadi Mama sama Papa sempet ngobrol sama Mama Papa Nick. Dokter Ken minta "Sudut Jajan" buka di rumah sakit. Nanti akan dibuatkan tempat disudut dekat pintu masuk kantin. Derrel sudah bersedia mengurus semua design nya. Kamu nanti urus persiapannya ya sampe siap." kata Mama Liana.
"Oohh... ya Maah." jawab Giana bingung sambil menatap Derrel yang hanya mengangkat bahunya.
"Oke semua sudah setuju, nanti Tante atur secepatnya ya supaya tidak mengganggu belajar dan pekerjaan kalian. Sabtu Minggu depan rasanya sudah bisa dirapihkan ya Derrel Giana." tanya Tante Laura.
"Siap Tan." jawab Derrel semangat
"Iya Tante." jawab Giana tersenyum melihat kelakuan Derrel.
"Papa sama Mama pulang ya Naa. Mau urus stok bahan dulu di toko." pamit Papa Gio pada Giana.
"Saya dan istri pamit dulu ya Bu Laura, dokter Ken. Nanti kita kontak-kontak lagi." pamit Papa Gio pada orangtua Nick.
"O ya... terima kasih banyak Pak Bu, sudah repot-repot mampir menjenguk Nick." jawab Mama Nick.
"Tidak repot Bu, Nick sudah seperti anak saya sendiri. Dari SMP sudah sering curhat dia. Saya dan suami pamit ya. Titip anak saya yang ga mau pulang." kelakar Mama Liana yang membuat semua orang tertawa karena Giana cemberut.
Setelah orangtua Giana pulang, orangtua Nick juga pamit pulang. Tinggal Giana dan Derrel yang masih menunggu Nick.
"Gimana ceritanya tadi? Kok tiba-tiba jadi begitu?" tanya Giana karena penasaran.
"Gw juga waktu dateng dah langsung ditodong kaya lu tadi. Gw suruh gimana?! Ga mungkin juga gw jawab ga mau kan?! Yang ada gw dipecat Pak Bos nanti."
"Gw juga bingung nolaknya. Ya dah kita atur waktu aja nanti."
"Btw kasih tau gw ya design nya mau gimana? Biar gw bisa kerjain dikit-dikit sambil urus skripsi ama kerjaan."
"Siiiaapp Pak Derrel." jawab Giana sambil memberi hormat pada Derrel.
"Ternyata kelakuan lu ama bos gw emang sebelas dua belas yaa... kalo jodoh minus-minus nya juga mirip yaa?!" ucap Derrel sambil menepuk jidatnya.
"Rese lu!" ucap Giana sambil melempar bantal sofa.