05. Dion

2416 Kata
Eleena berdiri di tengah-tengah kantin. Dia merasa bingung, karena semua meja sudah penuh. Padahal, tangannya sudah tak kuasa menahan panas kuah bakso. Eleena berpikir sejenak, mungkin dirinya akan makan di kelas saja. Tetapi, saat dirinya akan membalikkan badan, seseorang berteriak memanggil namanya. "Eleena!" Ternyata, yang berteriak memanggilnya adalah Dion. Dia tengah berkumpul dengan teman-temannya. Eleena tersenyum. Dia dapat lihat masih ada kursi yang kosong di sana, namun dirinya tak akan bergabung bersama mereka. Apalagi, dengan tatapan mengintimidasi dari gadis yang duduk disebelah Dion membuatnya malas untuk mendekat. Dia tidak mau dicap sebagai cewek caper dihadapan teman-teman Dion yang berjumlah tiga orang. Dua diantaranya laki-laki dan satu perempuan. "Sini, Leen! Masih ada kursi kosong nih!" Dion melambaikan tangan pada Eleena. "Nggak Kak, makasih." tolak Eleena menampilkan senyum manisnya. Dion beranjak dari duduknya. Dia menghampiri gadis yang berhasil menarik perhatiannya atas tingkah lakunya semalam. Setibanya, Dion mengambil alih mangkuk bakso dan menggiringnya menuju meja yang biasa menjadi tempat nongkrongnya saat istirahat. "Duduk, Leen." titah Dion meletakkan mangkuk di meja. Eleena tersenyum canggung. Dia duduk berhadapan dengan Dion. Di samping kanan dan kirinya ada dua cowok yang terus menatapnya. "Eh, kenalin gue Yoga." ucapnya mengulurkan tangannya. "Eleena." Eleena menjabat tangannya. Eleena sedikit merasa tak nyaman, karena Yoga tak kunjung melepas jabatan tangannya. Tiba-tiba, kaki Yoga diinjak oleh seseorang. Dia mendecak setelah tahu pelakunya. Dion. Dengan segera, dia melepas jabatan tangannya dengan wajah tertekuk. "Hahaha... Makanya nggak usah modus! Salaman aja lama bener!!" cibir cowok yang duduk di samping  kanan Eleena. "Eleena ini kelas sebelas MIPA 3. Anak pindahan dia." jelas Dion setelah meminum jus jeruknya. "Oh ya, ini cewek di sebelah gue namanya Kania." ucapnya menunjuk gadis di sebelahnya, lalu beralih pada cowok yang belum memperkenalkan dirinya. "Dan, dia Regi. Kita berempat best friends forever." Dion merangkul Kania. Hati Eleena mencelos melihatnya. Regi berbeda dengan Yoga yang begitu menunjukkan ketertarikannya pada Eleena dengan melontarkan banyak pertanyaan membuat sang gadis terganggu dalam menikmati baksonya. "Ga, bisa nggak sih, lo jangan nanya mulu. Kasian tuh, si Eleena mau makan aja keganggu jawab pertanyaan lo terus!" semprot Regi merasa tak tega dengan gadis itu. "Iya deh, sorry." Eleena bersyukur, karena sekarang dia bisa memakan baksonya dengan nikmat tanpa ada gangguan dari Yoga. Namun, matanya tak luput memperhatikan Dion dan Kania yang tampak mesra dengan saling menyuapi. Rasa penasarannya semakin memuncak. Dia ingin mengetahui kebenarannya, apakah Kania hanya sahabat dari pemuda yang dirinya suka atau merangkap menjadi pacar dan sahabat?. Eleena mengelap keringat di pelipisnya. Dia terlupa membeli air. Untuk itu, Eleena beranjak hendak membeli air dengan menahan pedas di mulutnya. Tetapi, sebuah tangan mencekalnya. "Nih, diminum aja. Masih disegel kok." ucap Dion memberikan air mineral yang dingin. "Nggak usah, Kak, aku beli sendiri aja!" Eleena melenggang pergi begitu saja. Dia memilih membeli su*su untuk mereda rasa pedas yang dirasakannya. Setelah itu, kembali untuk mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya. "Yoga, itu noh gebetan lo!" pekik Regi menunjuk gadis cupu berkacamata tak lupa dengan rambut kepangnya. "Njing! Enak aja lo! Mending juga, gue gebet si Eleena. Iya nggak, Leen?" Yoga mengangkat kedua alisnya ke arah Eleena yang terbengong. Masih mencerna ucapannya. "Ehem!" dehem Dion. Yoga dan Regi diam seketika. Dion bangkit berpindah tempat di sebelah gadis yang menjadi incaran sahabatnya. Eleena merasa napasnya tak beraturan setelah menyadari Dion duduk di sebelahnya. Apalagi, saat manik mata mereka saling bertemu. Eleena merasa sesak napas. Dia tak pernah bertatapan seperti ini dengan pemuda manapun, kecuali saudaranya. "Lo nggak usah ladenin, Yoga." ujarnya sembari menyalipkan anak rambut Eleena di telinganya. Eleena membeku. Dia tak menyangka Dion akan bersikap seperti itu padanya. Matanya mengerjap beberapa kali saat Dion kembali ke posisi awal dan meninggalkan rasa bahagia di hatinya. "Gila tuh, si Dion! Ngerebut gebetan gue, njir." cibir Yoga kesal. "Haha... Lo lagi, Ga, udah tahu yang bawa Eleena ke sini itu Dion. Ya pasti, jatahnya dia-lah!" Regi merasa kasihan pada sahabatnya yang sampai saat ini masih jomlo. Tidak seperti dirinya yang sudah memiliki kekasih. Tunggu, dia lupa jika Dion juga masih jomlo. Eleena menggigit bibir bawahnya. Memberanikan diri untuk bertanya tentang hubungan pemuda disampingnya dengan gadis yang sibuk memainkan ponsel di tangannya.  "Kak, aku boleh tanya, nggak?" Eleena menundukkan kepalanya. Tak berani menatap wajah lawan bicaranya. "Tanya aja." "Kak Dion udah punya cewek belum?" Eleena memejamkan matanya. Merutuki pertanyaan yang terlontar begitu saja dari mulutnya. "Gue? Belum punya." jawab Dion memandang wajah cantiknya. "Kenapa? Lo mau jadi cewek gue?" Dion tersenyum smirk ke arahnya. ***** Arkanza berdiri di luar kelas saudarinya yang masih mengerjakan ulangan. Dia rasa guru di kelas MIPA 3 memberi waktu tambahan hingga sampai saat ini murid-muridnya masih menguras otak mengerjakan soal demi soal. Tanpa menyadari, jika ada sepasang mata yang terus memandanginya. "Waktu sudah habis." Satu persatu siswa maju ke meja guru memberikan kertas hasil kerjanya. Wajah mereka tampak begitu frustasi, mungkin soal-soal yang diberikan begitu sulit. Tetapi, itu tak berlaku bagi seorang gadis yang tengah berjalan ke arahnya. "Yuk, balik!" serunya yang tak sabar merebahkan tubuhnya di kasur. Otaknya terasa ingin meledak setelah berpikir mati-matian mengerjakan soal matematika tadi. "Gue ada ekskul, Leen." Arkanza merangkul saudarinya. Eleena merasa kecewa. Padahal, dirinya ingin cepat pulang. Hari ini, mereka berangkat menggunakan kendaraan beroda dua. Sebenarnya, Eleena bisa pulang sendirian, tetapi karena dirinya tak hapal jalan pulang, mau tak mau harus menunggu saudaranya selesai ekskul. "Gue anter lo balik, terus abis itu gue ke sekolah lagi." ucap Arkanza mengetahui jika saudarinya ingin segera pulang ke rumah. Eleena menghentikan langkah kakinya. Dia menatap lekat wajah saudaranya. "Gue nunggu lo aja, Za." cetus Eleena. "Nggak. Lo balik!" Arkanza menarik tangan saudarinya agar cepat sampai di parkiran. Lalu, mengantarnya pulang. Dua puluh menit lagi, ekskul yang diikutinya akan dimulai. "Nggak, Za! Gue nunggu lo, aja! Kalaupun gue di rumah, gue nggak berani sendirian, Za! Bunda 'kan ikut Ayah dinas ke luar kota!" Eleena menatap sendu manik mata saudaranya. Dia tak bisa membayangkan jika dirinya benar-benar sendirian di rumah barunya. Pikiran-pikiran buruk mulai bermunculan. Mulai dari makhluk halus yang akan bermunculan hingga kejahatan yang akan menerpa dirinya. Dia takut menjadi sasaran empuk komplotan maling dan sejenisnya. Arkanza mendekap tubuh saudarinya. Dia terlupa, jika hanya mereka berdua yang ada di rumah. Hardi dan Heni akan pulang dua hari lagi, setelah urusan bisnis suaminya selesai. Arkanza mendaratkan satu kecupan di dahinya. Hanya hal itu yang bisa membuat saudarinya tenang. "Maafin gue, Leen. Gue nggak inget kalo Ayah dan Bunda lagi di luar kota." ucapnya menangkup wajah Eleena yang memerah karena tangis. Eleena mengangguk pelan. "Ya udah, yuk kita ke lapangan." ajak Arkanza. "Eh bentar, gue ganti baju dulu." Arkanza melepas tas gendongnya, lalu mengambil pakaian gantinya. "Gue tunggu disini, Za!" ucap Eleena mengambil alih tas saudaranya. Arkanza mengangguk, kemudian berlari menuju toilet. Tak butuh waktu lama untuk dirinya berganti pakaian, hanya beberapa menit saja. Setelah itu, dia kembali menemui saudarinya. "Yuk!" Arkanza memberikan baju seragamnya untuk dimasukkan ke dalam tas oleh saudarinya. Mereka berjalan beriringan menuju lapangan yang sudah ramai oleh siswa-siswa yang mengikuti ekskul futsal. Arkanza menunjuk sebuah pohon besar yang berada tak jauh dari lapangan. Dia menyuruh saudarinya menunggu di sana, karena tempat itu masih bisa diawasinya. Eleena menurut, dia membawa tas saudaranya. Dirinya tak membiarkan tas Arkanza bercampur dengan tas-tas yang lain. Setibanya di bawah pohon, Eleena duduk dengan meluruskan kakinya. Tas saudaranya di letakkan di atas pahanya dan tasnya juga. Semilir angin membuat rasa kantuknya semakin menjadi. Eleena menguap panjang, setelah itu memejamkan matanya. "Itu cewek lo, Ar?" tanya salah satu teman ekskul Arkanza. "Bukan, kakak gue." jawabnya. Arkanza tak bisa memenuhi keinginan saudarinya yang ingin menjadi seorang adik. Karena faktanya, Eleena menjadi kakak kelasnya. Dia terlambat masuk sekolah kala itu "Dasar pelor." Arkanza menggelengkan kepala melihat saudarinya yang terlelap. **** Seorang pemuda merenggangkan otot-ototnya setelah menyelesaikan rapat bulanan sore ini dan akan dilanjutkan besok. Ternyata, menjadi ketua OSIS itu melelahkan. Setelah berpamitan, dia pun segera berjalan menuju parkiran. Tetapi, teriakan menginterupsi yang berasal dari lapangan berhasil membuatnya penasaran. Akhirnya, dia melangkah mendekatinya. Dion mendecak mendapati Arkanza yang tubuhnya telah basah oleh keringat. Tak jauh dari sana, terlihat sosok gadis yang tertidur pulas. Gadis itu adalah Eleena. "Lo beda dari yang lain, Leen." gumamnya berlari menghampiri Eleena yang masih nyenyak dalam tidurnya. Mata Arkanza tak luput memandangi pemuda yang berlari dipinggiran lapangan. Dia sudah menduga jika Dion akan menghampiri saudarinya. "Gue minta maaf, Leen. Lo pasti butuh istirahat setelah ulangan tadi. Sebentar lagi ekskul gue selesai, dan gue bakal cepet bawa lo pulang." ucap Arkanza dalam hati. Setibanya, Dion duduk disampingnya tanpa mengeluarkan suara. Dia terus memandang wajah damainya. Gadis yang dipandangi oleh Dion, memiliki kecantikan alami. Tanpa make-up pun, dia tetap terlihat menarik. "Lo cantik, Leen." gumamnya. Arkanza mengepalkan tangannya menyaksikan sang ketua OSIS yang tengah menikmati kecantikan wajah saudarinya. Setelah ekskul dibubarkan, dia langsung berlari mendekati saudarinya. Dion yang menyadarinya pun langsung berdiri. "Biar Eleena balik bareng gue." cetus Dion tanpa menatap wajah lawan bicaranya. Sudah jelas Arkanza pasti menolak. Oleh karena itu, Dion perlu meyakinkannya. "Gue bawa mobil." Arkanza tampak berpikir. Dia sama sekali tak tega membangun saudarinya yang masih tertidur pulas. Coba saja, dirinya membawa mobil. Mungkin, tak akan menerima tawarannya. "Ya udah." ujar Arkanza meraih tasnya yang berada di atas paha saudarinya. "Nih bawain tas gue." suruhnya memberikan tas miliknya dan saudarinya pada Dion. Mau tak mau Dion pun menerimanya. "Eleena duduk di belakang." ucapnya yang tak mau bila saudarinya duduk bersebelahan dengan Dion dengan kondisinya yang tertidur seperti ini. Arkanza menggendong saudarinya ala bridal style. Dia mengikuti Dion yang berjalan lebih dulu menuju parkiran. Setibanya, Dion langsung membukakan pintu. Dengan pelan, Arkanza mendudukkan tubuh saudarinya di kursi belakang. Lalu memasangkan seat belt. "Lo nggak bareng gue?" tanya Dion saat Arkanza mengambil tas miliknya dan Eleena dari genggaman tangannya. Arkanza menggeleng. "Nggak. Gue bawa motor." jawabnya membuat Dion menyunggingkan senyum. "Jangan macem-macem sama saudari gue, lo!" pekiknya memperingatkan sebelum beranjak mengambil motornya. Dion masuk ke dalam mobilnya. Dia menatap gadis yang duduk di belakang. Entah, apa yang membuat gadis tersebut tak terusik sama sekali dalam tidurnya. Setelah melihat motor Arkanza berada di sebelah mobilnya, dia mulai melajukan kendaraannya. Dion tersenyum sinis saat Arkanza berusaha agar terus beriringan dengan mobilnya. "Gue salut, ternyata lo begitu ngejaga Eleena, Ar." gumamnya. Setelah lima belas menit dalam perjalanan, akhirnya Dion tiba di depan rumah gadis yang diantarnya pulang. Arkanza segera membuka gembok pagar dan membukanya. Setelah itu, menghampiri saudarinya yang masih berada di dalam mobil sang ketua OSIS. Sayangnya, Dion lebih dulu membuka pintu mobil dan langsung menggendong saudarinya. Wajah Arkanza memerah menahan amarah. Untuk pertama kalinya, tubuh saudarinya tersentuh oleh pemuda lain, selain dirinya. "Lo bukain pintu, sana!" suruh Dion padanya. Arkanza mendecak. Jika bukan demi saudarinya, dia tak akan sudi menurutinya. Dion tersenyum miring melihat Arkanza beranjak membukakan pintu. Tanpa disadari, Eleena sudah terbangun sejak satu menit yang lalu. Tetapi, dirinya sengaja tak membuka matanya. Agar tidak ketahuan. Di dalam hati Eleena, dia mencoba menerka siapa yang menggendong tubuh mungilnya ini. Eleena yakin, bukan saudaranya. Melainkan, orang lain. "Ikutin gue, Dion!" interupsi Arkanza naik ke atas tangga menuju kamar saudarinya. Dion mengikuti Arkanza dari belakang. Dengan hati-hati, dia menaiki tangga. Sedikit sulit, tetapi dia akan tetap berusaha agar tidur sang gadis tak terusik. "Dion?! Dion yang gendong, gue?? Ah, ya ampun... Gue seneng banget, gila!" sorak Eleena di dalam hatinya. Arkanza membuka pintu kamar saudarinya. Kemudian, Dion masuk ke dalam dan membaringkan tubuh gadis tersebut dengan amat hati-hati. Lalu, menarik selimut hingga menutupi dadaanya. "Nggak usah liatin saudari gue terus!" tegur Arkanza saat Dion terus memandangi wajah saudarinya. "Ya gimana, saudari lo cantiknya nggak ketulungan." pujinya tersenyum sangat manis. Arkanza memutar bola matanya jengah. Dia sadar, jika saudarinya memiliki kecantikan di atas rata-rata. Tak jarang, banyak pemuda yang mencoba mencari perhatian padanya. Tetapi, ketika ada Arkanza bersamanya, tak ada yang berani menggodanya. Karena mereka menyangka, bahwa Arkanza adalah kekasihnya. "Udah sore, mending lo balik. Nanti dicariin emak lo!" usir Arkanza tanpa berterima kasih padanya. "Oke. Gue balik. Besok, gue jemput saudari lo. Gue mau berangkat bareng sama dia!" ucapnya sebelum mengangkat kaki dari kamar gadis yang sedari tadi menyimak pembicaraan keduanya dengan mata terpejam. "Nggak! Gue nggak ngizinin!" jawab Arkanza berteriak. "Slow bro." Dion mengangkat kaki dari kamarnya. Ketika berada diambang pintu, dia kembali memandang wajahnya sebelum benar-benar pergi. Arkanza merasa geram karena Dion tak kunjung pergi. Akhirnya, dia menutup pintu kamar saudarinya dan mendorong tubuh Dion agar benar-benar pergi dari rumahnya. "Lo kenapa sih, Ar? Kenapa sikap lo itu kek seolah lo itu adalah pacarnya Eleena, bukan saudaranya! Lo beneran adiknya 'kan?" Pertanyaan Dion berhasil membuat Arkanza mematung. Dia bingung harus menjawab apa. Tak mungkin, bila Arkanza mengatakan bahwa dia dan Eleena bukanlah saudara kandung. Malah nanti, dirinya akan menjadi bulan-bulanan pemuda dihadapannya ini. "Gu-Gue cuma nggak mau Eleena deket sama cowok yang salah! Apalagi, cowok macem lo!!" pekik Arkanza menunjuk wajahnya dengan jari telunjuknya. Kemudian, melenggang pergi meninggalkannya. Dion tersenyum miring menatap kepergiannya. Setelah pintu gerbang tertutup, dia langsung melajukan mobilnya. Waktu semakin sore, dia tak mau membuat sang Mami khawatir karena dirinya tak kunjung tiba di rumah. Di dalam kamarnya, Eleena tersenyum tidak karuan. Hatinya begitu berbunga-bunga setelah tahu bahwa Dion-lah yang menggendongnya. "Dion..." pekiknya sambil meremas bantalnya kuat-kuat. Suara derap kaki terdengar mendekati kamarnya. Eleena segera membaringkan tubuhnya kembali. Dia akan melanjutkan kepura-puraannya. Karena biasanya, dirinya akan terbangun setelah tiga jam tertidur. Tetapi sekarang, dia hanya tertidur selama sekitar satu jam setengah. Ngiiitttt..... Arkanza membuka pintu kamarnya. Lalu, menyibakkan selimut yang membalut tubuh saudarinya. Setelah itu, melepaskan sepatu dan kaos kakinya. Eleena membuka matanya dan tersenyum saat saudaranya meletakkan sepatunya di rak sepatu, Arkanza berdiri membelakanginya. Tepat, saat saudaranya membalikkan tubuh, Eleena kembali memejamkan matanya dan sengaja membuat gumaman kecil. "Emmm...." gumamnya merubah posisi tidur yang semula telentang menjadi miring ke sebelah kanan. Arkanza menutupi tubuh saudarinya lagi dengan selimut. Kemudian, duduk di samping tubuhnya. Tangannya terulur melepaskan kuciran rambutnya. "Leen, gue sayang banget sama, lo. Gue nggak mau lo disakitin sama cowok manapun. Gue bakal selalu jagain, lo. Karena lo satu-satunya, saudari yang gue punya." ucapnya sambil membelai rambut hitam panjang saudarinya. "Gue nggak mau ngecewain Ayah dan Bunda, kalo sampe lo nangis karena cowok! Air mata lo begitu berharga bagi gue, Leen." Arkanza menundukkan kepalanya. Dia tak bisa membayangkan bila perasaan saudarinya dipermainkan. Apalagi, saat menyadari jika Dion memiliki ketertarikan pada Eleena. "Tidur yang nyenyak. Gue mau mandi dulu." pamitnya. Eleena membuka matanya setelah mendengar suara pintu yang ditutup oleh saudaranya. Tanpa sengaja, butiran bening melolos dari pelupuk matanya. "Gue juga sayang banget sama lo, Za. Makasih, udah mau jagain gue selama ini. Tapi gue yakin, kalo Dion itu cowok baik, Za." lirihnya menatap pintu kamar yang tertutup rapat. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN