04. Di Sepertiga Malam

2233 Kata
Seorang gadis duduk termangu di dalam kamarnya. Pikirannya masih tertuju pada kejadian dimana saat dirinya terlelap begitu saja. Malu. Itu yang dirasakan Eleena sekarang "Haduh, kenapa sih, Leen? Lo itu suka banget pelor!" teriak Eleena pada dirinya sendiri. Pukul 03.00 Eleena memutuskan untuk mendatangi kamar saudaranya. Biasanya, di jam segini, Arkanza tengah melakukan sholat malam. Dan, benar. Eleena mendengar gemercik air. Tangannya terulur memegang gagang pintu. Dia membuka pelan pintu kamar saudaranya. Tepat saat dirinya akan melangkah, Arkanza keluar dari kamar mandi dengan wajah basah karena air wudhu. Eleena terpaku menatapnya. Tiba-tiba, jantungnya berdegup kencang diluar normal. Untuk pertama kalinya, ia melihat Arkanza dengan damage yang—Eleena tak bisa mendeskripsikannya lagi. Saat teringat, bahwasannya pemuda dihadapannya itu adalah saudaranya sendiri. "Gu-Gue." ucapnya tergugup. Arkanza mengangkat sebelah alisnya. Dia mencoba menerka tujuan saudarinya berkunjung ke kamarnya. "Gue mau sholat." Arkanza mengambil sajadahnya yang tergantung pada kastok yang tertempel dibalik pintu. "Lo mau sholat juga, nggak?" ajaknya sembari memasang peci di kepalanya. Eleena mengangguk. Netranya masih memperhatikan saudaranya yang tengah memakai sarung, kemudian menggelar sajadah di atas lantai. Eleena mengakui jika saudaranya memang taat beribadah. Tidak seperti dirinya, yang sholatnya saja masih bolong-bolong. "Em... Za, gue baru inget, kalo gue lagi bocor." tutur Eleena menampilkan deretan giginya. Arkanza menggeleng. Lalu, mulai melaksanakan sholat malam dua rakaat dan dilanjutkan dengan membaca Al-Qur'an. Dua hal itu sudah melekat dengan dirinya. Sejak kecil, dia dididik oleh guru mengajinya untuk tidak meninggalkan sholat bagaimanapun keadaannya. Sampai saat ini, ucapan sang guru masih diingatnya. Bahkan, dia semakin meningkatkan ibadahnya dengan menambah dua sholat sunnah setiap harinya, jika tidak ada halangan, yaitu sholat dhuha dan tahajud. "Nyesel gue, karena waktu kecil, gue suka nggak ikut Arza ngaji." keluhnya memandangi Arkanza yang berada diposisi rukuk dalam sholatnya. Flashback on Arkanza keluar dari kamarnya dengan memakai baju koko dan peci, serta juz amma yang dipeluk di dad*anya. Setiap sore, dia akan mengaji setelah sholat ashar berjamaah di masjid. Sebenarnya, mengaji adalah keinginannya sendiri. Orangtuanya tak menuntutnya untuk mengaji ataupun sholat. Tetapi, Arkanza sudah terbiasa di kehidupannya dulu sewaktu belum diangkat menjadi anggota keluarga Prayudha. Dan, orangtuanya tak keberatan saat dia mengutarakan keinginannya untuk ikut mengaji di masjid dekat komplek. Justru, mereka mendukung keinginannya itu. Sayangnya, Eleena sama sekali tak tertarik dengan hal yang berbaur agama. Hardi dan Heni sudah sering membujuknya, namun selalu gagal. Ada saja alasan yang dibuatnya. "Bun, aku berangkat ngaji dulu, ya?" pamit Arkanza mencium punggung tangan ibundanya. Heni mengelus pucuk kepala putranya. Dia tersenyum bangga melihat semangat yang terpancar diwajahnya. "Iya, Ar. Itu, Eleena nggak ikut?" Heni menunjuk putrinya yang tengah berkutat dengan novel ditangannya. "Nggak! Males! Eleen, lagi nanggung baca novelnya, Bun!" ketusnya merubah posisi yang semula berbaring menjadi duduk. Arkanza mengedikkan bahunya. Dia sudah terbiasa mendapat penolakan dari saudarinya itu. "Ya udah, Bun, aku berangkat sekarang. Assalamu'alaikum." Arkanza menatap intens saudarinya. Ingin sekali, dirinya memaksa Eleena agar mau mengaji bersamanya. Tetapi, Eleena itu keras kepala. Jika dia mengatakan tidak, maka tetap tidak. Baiklah, Arkanza akan fokus pada dirinya sendiri. Bagaimanapun, di kemudian hari nanti, dirinya akan menjadi seorang imam di keluarganya dan dia harus bisa membimbing anak dan istrinya kelak. "Apa lo, liat-liat?" pekik Eleena saat tatapannya bertubrukan dengan Arkanza "Enggak." jawab Arkanza melanjutkan langkahnya. Satu jam berlalu, Eleena mulai merasa kesepian. Dia memutuskan untuk mendatangi Arkanza yang sedang mengaji. Ini adalah kali pertama dirinya akan menginjakkan kaki di masjid. Setelah izin kepada ibundanya, Eleena mengendarai sepeda menuju tempat dimana saudaranya berada. Setelah lima menit mengayuh sepeda, akhirnya Eleena sampai di halaman masjid. Napasnya memburu melihat saudaranya tengah berlarian bersama teman perempuannya. Dia tak menyukai bila Arkanza dekat dengan perempuan lain, selain dirinya. "Arza!" Eleena berteriak membuat si empunya nama menoleh. Arkanza berlari mendekatinya dengan napas yang masih tersengal-sengal. Setibanya, dia segera mengatur napas. "A-Ada apa, Leen?" Arkanza menelan salivanya saat saudarinya menatapnya tajam. "Katanya ngaji, malah main lari-lari!" sarkasnya. Arkanza menengok ke belakang pada teman perempuannya. Yeah, memang benar dirinya bermain lari-larian sembari menunggu giliran mengajinya. Itu sudah menjadi kebiasaannya dan teman-temannya juga. Hanya saja, hari ini tak banyak teman laki-lakinya yang berangkat mengaji. Jadilah, dirinya bermain bersama teman perempuan. "Aku lagi nunggu giliran ngaji, Leen. Bosen kalo diem di dalem masjid, tuh." jelasnya. Eleena mengacuhkan penjelasan saudaranya. Pandangannya terfokuskan pada teman perempuan Arkanza yang menatapnya intens. Wajar saja, karena Eleena memakai celana di atas lutut dengan kaos pendek, serta rambut yang terurai. Sedangkan, anak perempuan di depannya memakai gamis dan jilbab. Tampak begitu menutup aurat tubuhnya. "Leen, tau nggak, kalo cewek pake jilbab itu cantiknya nambah. Kayak mereka!" bisik Arkanza. Wajah Eleena memerah menahan amarah. Pertama kalinya, saudarinya mengatakan kata 'cantik' pada perempuan selain dirinya dan Heni. Dia tak rela. Flashback off "Ck, jadi kesel lagi 'kan gue?!" gumamnya yang sampai saat ini masih merasa kesal jika mengingat kejadian tersebut. Eleena beranjak menuju kamarnya. Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di meja belajar. Sudah lama, dia menelantarkan akun sosial medianya. Yang pertama kali Eleena kunjungi adalah laman i********:. Mulutnya ternganga melihat notifikasi permintaan mengikuti, like, dan komentar yang jumlahnya mencapai ratusan. Padahal, dia hanya sebulan tak memainkan akun instagramnya. Jika terus begini, Eleena akan sering-sering tak aktif agar pada saat dirinya mengunjungi laman instagramnya lagi, dia akan kembali dikejutkan dengan mendapat banyak notifikasi. "Kira-kira, Dion punya Ig nggak, ya?" Eleena memutuskan untuk men-stalk akun i********: milik sekolahnya. Pasti, akun i********: Dion mengikutinya. Secara dia adalah ketua OSIS di sekolah. Eleena mengetahuinya dari Meisya yang begitu heboh saat dirinya masuk ke dalam kelas setelah Dion mengantarnya. Mengingat peristiwa itu, Eleena merasa senang karena mendapat tatapan iri dari teman-teman perempuan di kelasnya. Dion_gntg01 Senyum Eleena mengembang, akhirnya dia menemukan akun yang dicarinya. Tanpa membuang waktu, dia segera men-stalking akun i********: sang ketua OSIS. Eleena bersyukur, karena akunnya tak di privat. Jadi, dirinya bisa melihat postingan-postingannya. "Anjir! Ganteng banget, gila! Nggak salah, dia pake g.n.t.g di nama akunnya!!" seru Eleena saat matanya terpana akan ketampanan sang ketua Osis yang tengah berpose memegang kacamata hitamnya dengan style pakaian kekinian. Senyum Eleena meluntur ketika membaca komentar-komentar disetiap postingannya. Ternyata, saingannya begitu berat. Dominan, para gadis yang mengomentari postingan Dion, memiliki paras yang sempurna. Meskipun tak beda jauh darinya, tetap saja Eleena merasa tersaingi. Apalagi, dengan Dion yang selalu membalas semua komentar. "Kenapa segala, dibalesin, sih Dion!! Mana yang komen cewek semua lagi!" dumel Eleena menekan layar ponselnya yang menampilkan salah satu postingan Dion. Eleena mendesis saat tersadar, bahwa dirinya telah menyukai postingan Dion tanpa sengaja. Ingin sekali dirinya membatalkan, namun nasi sudah bubur. Maka, dia hanya bisa pasrah. Tak selang berapa lama, satu notifikasi muncul. Eleena tercengang saat melihatnya. Dion_gntg01 mulai mengikuti Anda Setelah itu, ponselnya bergetar. Tenggorokan terasa kering seketika. Eleena mendapatkan direct message dari akun yang baru mengikutinya. Dion_gntg01 Makasih udah stalk i********: gue dan  juga menyukai satu postingan gue Eleena kalang kabut. Dia bingung harus membalas apa. Otaknya tak mampu berpikir. Hanya malu yang dirasakannya. Pertama, dia ketiduran dihadapan Dion dan ibunya. Kedua, dirinya ketahuan telah men-stalking akun instagramnya. Sungguh, sial. EleenAfr Ketahuan deh:) Setelah mengirimkan balasan, Eleena segera mengikuti balik akun i********: sang ketua OSIS. Kemudian berlari ke kamar saudaranya. Dia tak sabar untuk menceritakan hal ini padanya. Sayangnya, Arkanza masih dalam aktivitas ibadahnya. Saudaranya itu tengah membaca Al-Qur'an. Seketika, hati Eleena terasa damai mendengar suara lantunan ayat demi ayat yang keluar dari mulutnya. Dia menarik sudut bibir ketika saudaranya menutup kitab suci Al-Quran. Menandakan, bahwa dirinya telah selesai. "Ada apa, Leen?" tanya Arkanza sambil melipat sajadahnya. Arkanza duduk dipinggiran kasur. Tangannya terulur meraih gelas berisi air putih, kemudian meminumnya hingga habis. Eleena mengelap sisa air di atas bibir saudaranya. Jantung Arkanza berdegup kencang. Dia tak biasanya merasakan hal tersebut disaat berdekatan dengan saudarinya. Dapat dikatakan, ini adalah kali pertama dia merasakan degup jantung yang begitu kencang. Setelah itu, tangan Eleena beralih menyingkirkan anak rambut Arkanza yang menempel di dahinya. "Leen..." gumam Arkanza memegang tangan saudarinya, lalu dijauhkannya perlahan. Dia tak bisa mengontrol degup jantungnya yang semakin menjadi. "Hm?" Eleena mengangkat sebelah alisnya. "L-Lo ngapain di sini?" tanyanya gugup. Eleena menghempaskan tubuhnya di sofa kamar saudaranya. Wajahnya tampak berseri mengingat kejadian beberapa saat lalu, dimana saat dirinya mendapatkan direct message dari Dion, pemuda pertama yang menjadi pelabuhan cintanya. Melihat senyum saudarinya yang begitu manis, membuat Arkanza semakin gugup. Entah, apa yang terjadi pada dirinya. Apakah, dirinya mulai—Arkanza segera membuang pikirannya yang tak masuk di akal itu. Tak mungkin, jika dirinya menyukai saudarinya sendiri. "Gue kenapa sih?" gumamnya beranjak menuju meja belajar. Pandangannya teralih pada buku paket yang didapatkannya dari sekolah. Arkanza mendaratkan pantatnya di kursi dan mengambil buku yang berada di tumpukan paling atas. Lalu, membuka lembar demi lembar buku tersebut. "Za, lo mau tau nggak, tadi Dion follow ig gue, terus dia DM gue, Za!" Eleena menutupi wajah dengan kedua tangannya. Dia merasa malu sendiri sekaligus bahagia. "Uhhuukk.... Uhhuuukk..." Arkanza terbatuk. Dia terkejut mendengar ucapan saudarinya itu. Eleena bergegas menuangkan air dari botol tupperware ke dalam gelas yang berada di atas nakas—disamping tempat tidur saudaranya. Setelah itu, memberikan segelas air tersebut pada saudaranya. Tangan Eleena terus mengelus punggung saudaranya. "Lo kenapa, Za?" tanya Eleena tepat saat saudaranya meletakkan gelas di atas meja. "Nggak papa. Oh ya, Leen, mending kita belajar deh. Bagus tau, belajar di jam segini. Bisa cepet masuk otak." Arkanza berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Dia tak suka bila saudarinya kembali membahas sang ketua OSIS. "Masa sih?" Eleena tampak tak percaya. Karena biasanya, dia belajar setiap sebelum tidur dan ketika ada waktu luang. Arkanza mengangguk mantap. "Oke deh. Gue ambil buku dulu di kamar." Eleena mengangkat kaki dari kamar saudaranya. Arkanza membawa buku tersebut keluar kamarnya. Dia tak mau terus berduaan dengan saudarinya. Apalagi di dalam kamar. Maka nantinya, akan ada makhluk halus yang terus membisikkan hal-hal buruk padanya. Mengingat, dirinya dan Eleena bukanlah saudara kandung. "Leen, kita belajar dibawah aja ya? Gue duluan turun!" ucap Arkanza di luar kamar saudarinya. "Tungguin gue, Za! Gue takut!" Arkanza terkekeh. Dia terlupa jika saudarinya itu penakut. Keduanya berjalan beriringan menuruni anak tangga. Arkanza merasa senang melihat saudarinya yang begitu semangat untuk belajar. Begitu juga dengan Eleena, dia merasa senang karena saudaranya memiliki semangat belajar sama seperti dirinya. Setibanya di ruang tengah, Arkanza segera meletakkan buku-buku di meja. Setelah itu, berlalu menuju dapur untuk mengambil cemilan. Tanpa disadarinya, Eleena sudah membuntutinya. Dia merasa takut ditinggal sendirian. "Za." panggil Eleena membuat saudaranya terperanjat. Arkanza menghela napas. Dia sama sekali tak tahu, jika Eleena berdiri di belakangnya. "Lo ngagetin gue aja, Leen!" Arkanza membuka pintu kulkas. Dia  mengambil beberapa cemilan dan minuman dingin yang selalu disediakan oleh ibundanya. "Za, menurut lo, Dion itu gimana?" tanya Eleena tiba-tiba. Dia membutuhkan opini tentang pemuda yang berhasil membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama. Arkanza tak langsung menjawab. Dia menatap lekat manik mata saudarinya. Eleena yang ditatap seperti itu oleh saudaranya, seketika menjadi salah tingkah. Sebenarnya, Arkanza dapat merasakan jika saudarinya memiliki ketertarikan pada ketua OSIS itu, dan dirinya tak akan membiarkan Eleena dekat dengannya. Dion tak baik untuknya. "Dion yang mana?" Arkanza berjalan lebih dulu dengan membawa cemilan dan minuman dingin menuju ruang tengah. Dia tak mempedulikan saudarinya yang mengomel tak jelas padanya. Eleena duduk disebelah saudaranya. Dia memperhatikan Arkanza yang membuka kemasan salah satu cemilan yang dibawanya. Kemudian, menyodorkannya pada dirinya. Arkanza memakan cemilannya setelah saudarinya. Sejenak, keduanya terlarut menikmati cemilan tersebut. "Leen, inget, Ayah larang kita buat pacaran. Jadi, lo harus jaga jarak sama cowok." ujar Arkanza disela mengemil. Arkanza meminum minuman dinginnya, lalu beralih pada buku yang dibawanya tadi. Dia rasa sudah cukup mengganjal perutnya agar dapat berpikir saat belajar. Sebelum itu, dirinya bersenandung kecil seraya mencari halaman materi yang dibahas kemarin di sekolah. "We don't talk wadimor...." Eleena membulatkan matanya. Dia rasa ada yang salah dengan lirik lagu yang dinyanyikan oleh saudaranya itu. Setelah menemukan kesalahannya, Eleena langsung memukul bahu saudaranya. "Anymore, bege! Bukan wadimor!" pekiknya membenarkan. Arkanza hanya tercengir. Kemudian, memfokuskan diri untuk belajar. Tak lama, saudarinya pun melakukan hal yang sama. Baru beberapa menit belajar, Eleena sudah merasa malas. Mungkin, karena tak terbiasa dengan jam belajar yang biasa dilakukan oleh saudaranya. Eleena berpindah duduk di sofa yang semula dirinya dan saudaranya duduk di atas karpet. Kemudian, merebahkan tubuhnya. Dia terus mengamati saudaranya yang tampak begitu fokus. "Za, lo sering sholat malem?" Arkanza menoleh padanya. Eleena mengubah posisinya kembali menjadi duduk di atas karpet. Dia menumpu dagu dengan tangannya yang bertumpu pada meja. Melihatnya, Arkanza berusaha menyembunyikan senyumnya. Saudarinya itu tampak sangat menggemaskan. Rasanya, dia ingin mencubit pipinya yang chubby. Namun, ditahannya karena waktu masih sangat pagi. Dia tak mau membuat keributan hingga mengakibatkan kedua orangtuanya terbangun. Karena, jika sampai dirinya mencubit pipi saudarinya, maka peperangan akan terjadi di rumah ini. "Iya. Kenapa emangnya?" "Nggak papa, cuma nanya aja." Tatapan Eleena tertuju pada tangan saudaranya yang mengarah padanya. Dengan cepat, dia menepisnya. Dia duga, saudaranya itu akan mencubit pipinya. Cubitan Arkanza itu sangat menyakitkan. Sehingga meninggalkan ruam merah. "Jangan cubit pipi gue, Za!" Eleena menutupi pipinya dengan kedua tangannya. "Dih, siapa juga yang mau cubit lo! Gue cuma mau ambil benang yang ada di rambut lo, Leen!" jelas Arkanza mengambil sehelai benang dari rambut saudarinya. Entah darimana asalnya, hingga menyangkut di rambutnya. Pipi Eleena merona menahan malu. Dugaannya salah. Sekejap, dia memaki sehelai benang tersebut yang beraninya ada di rambut panjangnya. Dia terlupa, bahwa dirinya yang telah membuang asal lebihan benang dari bajunya. Saat itu, Eleena membuang lebihan benang tersebut di kasurnya. Mungkin, saat dirinya tidur, benang tersebut menyangkut di rambutnya. Arkanza menatap wajahnya dalam-dalam. Ada makna tersirat dari tatapannya yang tertuju pada saudarinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN