03. Tamu Tak Terduga

2245 Kata
Eleena keluar dari kamarnya dengan membawa beberapa buku yang akan menjadi mata pelajaran besok di sekolah. Dia harus mempelajari materi terlebih dahulu sebelum disampaikan oleh guru. Agar dia bisa lebih menguasainya nanti. Sama seperti Arkanza, yang memang hal tersebut sudah dibiasakan oleh kedua orangtuanya. Eleena terkekeh memandang saudaranya yang tampak serius berkutat dengan buku-bukunya. "Rajin bener, Mas." goda Eleena, mengambil duduk disebelahnya. Dia meletakkan bukunya di meja yang sama dengan Arkanza. Arkanza mendecak, "Haruslah! Gue nggak mau kalah pinter sama, lo!" balasnya membuat Eleena melepas tawa. Arkanza bertekad untuk menyamai kepintaran saudarinya yang selalu mendapat peringkat satu. Sedangkan, dirinya hanya mampu mendapatkan peringkat dua di kelas. Namun, Arkanza tak putus semangat. Dia akan membuktikan bahwa dirinya mampu mendapatkan peringkat pertama di kelas dengan kerja kerasnya sendiri. Eleena menepuk bahunya. "Yang semangat! Gue yakin, lo pasti bisa." ucapnya memberikan semangat pada Arkanza. Tanpa disadari kedua orangtua mereka mendengar pembicaraan anak-anaknya. Hardi dan Heni merasa bangga dengan putra-putrinya yang selalu semangat untuk meraih cita-cita mereka. Eleena bercita-cita menjadi seorang dokter, maka dari itu ia mengambil jurusan MIPA. Sedangkan Arkanza, mereka tak tahu apa cita-citanya. Karena anak itu sangat labil. Hari ini dia mengatakan ingin menjadi seorang akuntan, besoknya ingin menjadi psikolog. Esoknya lagi dia mengatakan ingin menjadi ahli bisnis, pengacara, jurnalis, dan masih banyak lagi. Namun, mereka akan tetap mendukung apapun cita-cita yang dipilih oleh Arkanza. "Rukun banget sih, anak Bunda." seru Heni dengan senyum merekah. Hardi menarik tubuh Heni ke dalam pelukannya. "Anak Ayah juga loh, Bun!." protes Hardi yang tak terima jika Heni mengatakan mereka berdua hanya anak istrinya saja. Arkanza menutup bukunya, lalu merebahkan tubuhnya di sofa. "Anak kalian berdua. Tanpa Ayah atau Bunda, Eleena nggak akan jadi." sambar Arkanza membuat mereka ambigu. Eleena melempar penanya ke wajah saudaranya. Karena ucapan Arkanza tadi membuat otak sucinya mulai tercemar. "Ngomong apa sih, lo?" pekik Eleena yang tidak menyukai segala hal yang membuatnya merasa ambigu sendiri. Meskipun, usianya menginjak dewasa tetap saja dia merasa tak nyaman jika ada yang membahas hal seperti itu. Arkanza memejamkan matanya. Padahal, dia hanya belajar hanya beberapa menit tetapi kantuk berhasil mendatanginya. Tiba-tiba, dia teringat kejadian di sekolah, dimana saudarinya kesasar setelah kabur darinya. Arkanza pun bangkit dari rebahannya. Dia tersenyum licik menatap Eleena yang tengah membaca buku catatannya. "Yah, Bunda, tau nggak, tadi Eleena kesasar di sekolah?" ungkapnya tertawa kecil. Sontak, Eleena mengalihkan pandangannya ke arah saudaranya yang masih menertawakan dirinya. "Ck! Nyebelin banget sih lo, Za!" sungutnya. Eleena menatap tajam kedua orangtuanya yang ikut tertawa. "Kesasar gimana?" tanya Hardi penasaran. Arkanza menceritakan kejadian tersebut secara detail. Dia memang selalu senang membuat saudarinya malu. Eleena pun sama. Bisa dibilang mereka sering saling menjatuhkan di depan sang Ayah dan Bunda. Heni menyeka air matanya karena terbahak. Putrinya memang sulit mengingat jalan. Sewaktu mereka baru pindah di rumah baru saja, Eleena pernah kesasar ke daerah komplek sebelah. "Kamu itu Leen, kenapa bisa lupa sama jalan." oceh Heni memandang putrinya yang acuh. Hardi menggelengkan kepalanya. Itulah salah satu kekurangan yang dimiliki oleh putrinya dari berbagai macam kelebihan yang dimilikinya. "Itu salah satu kekurangan kamu, Leen. Jadi, kamu harus inget-inget jalan." ucap Hardi menasehati. Mood Eleena telah rusak akibat saudaranya itu. Jadi, dia putuskan untuk mengakhirinya aktivitas belajar malam ini. Setelah menumpuk bukunya menjadi satu, dirinya segera beranjak menuju kamarnya. Arkanza semakin mengencangkan tawanya. "Ngambek itu, Bun!" adu Arkanza disela tawanya. Eleena menghiraukannya, dia tetap melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. "Tanggung jawab sana!" ucap Heni mendorong tubuh putranya. Bagaimanapun, Eleena merajuk karena ulahnya. Jadi, dia harus bertanggung jawab. Arkanza mengangguk dan langsung menyusul saudarinya. Dia memandangi pintu berwarna cokelat yang tertutup rapat. "Eleena.... Lo, beneran ngambek? Leen, nggak asik lo!! Masa gitu doang ngambek? Ya udah, gue minta maaf. Sebagai permintaan maaf, gue kasih lo coklat!!" teriak Arkanza dari balik pintu. Dia berusaha membujuk saudarinya agar tak merajuk lagi. Di dalam kamar, Eleena tak mempedulikan teriakan saudaranya. Bahkan, dengan ketukan pintu yang semakin keras. Toh, dia sudah menguncinya dari dalam. "Leen, Lo masih ngambek? Ck, bener-bener nggak asik, lo! Leen, buka dong pintunya. Gue minta maaf. Lo maafin gue ya? Kalo nggak, besok gue nggak dapet duit jajan. Lo nggak kasian gitu, sama gue? Saudara lo satu-satunya, yang paling ganteng lagi! Bias lo aja kalah ganteng sama gue! Siapa tuh nama bias lo? Si Jongkok sama si Cimin ya?" celotehnya membuat Eleena yang mendengarnya menjadi kesal sendiri. "Jungkook, b**o!! Bukan jongkok!! Terus bias gue satunya lagi itu, Jimin, bukan Cimin! Kalo Cimin mah nama jajanan waktu gue SD, pe'a!!" teriak Eleena penuh amarah. Arkanza menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia memang tak tahu nama member boyband Korea yang digemari saudarinya itu. Tiba-tiba, sebuah ide terlintas di otaknya agar saudarinya mau keluar dari tempat persembunyiannya. "Leen, kata Ayah rumah ini ada penunggunya. Apalagi di kamar lo yang deket sama pohon kelapa tuh." ucapnya menakut-nakuti saudarinya yang penakut itu. Memang benar, di samping kamar Eleena terdapat pohon kelapa yang menjulang tinggi. Eleena langsung membuka pintu kamarya dengan buru-buru. Wajahnya tampak pucat, apalagi setelah mendengar perkataan saudaranya dia mendengar suara burung gagak yang terbang di atas genteng rumah. Eleena mengedarkan pandangannya ke sekitar. Seketika, hawa di rumahnya terasa sangat tidak enak. Dia menelan salivanya, lalu mengulurkan tangannya meraba-raba tubuh saudaranya untuk dirangkul. Dia merasa takut. Sayangnya, Arkanza tidak berada di sana. Dengan cepat, dia berlari menuruni tangga. Sesampainya dibawah, dia tidak menemukan siapapun. Sepertinya, ayah dan bundanya sudah berada di dalam kamar. Sedangkan Arkanza, dia tidak tahu dimana keberadaannya. "Ayah... Bunda... Arza..." lirih Eleena berkaca-kaca. Eleena lebih sering memanggil nama saudaranya dengan Arza. Karena menurutnya, jika dia memanggilnya Arkanza itu terlalu kepanjangan. Makanya, dia menyingkatnya. Tiba-tiba, seseorang memegang pundaknya dari belakang. Tubuh Eleena menegang. Dia harap, itu bukanlah dedemit penunggu rumahnya. "Ya Allah.... Lindungi Eleena... Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyum..." gumamnya membaca ayat kursi. Setahu dirinya, ayat kursi dapat mengusir makhluk halus. Tok tok tok Suara ketukan pintu membuat bulu kuduk Eleena semakin merinding. Dia segera membalikkan tubuhnya. Tak ada siapapun. Napasnya memburu, dengan cepat dia berlari menuju kamar orangtuanya. Namun, di tengah jalan tubuhnya menabrak sesuatu. Eleena tak berani membuka matanya. Dia membeku di tempat. Lain halnya dengan Arkanza yang tak mampu menahan tawa. Ternyata, mengerjai Eleena sampai ketakutan seperti ini sangatlah asyik. Dia menjadi ketagihan. "Leen, ini gue." ujar Arkanza membuat saudarinya membuka sebelah matanya. Eleena bernapas lega. Dia mengelap peluh di pelipisnya. "Za, rumah ini nggak angker 'kan? Tadi gue denger suara burung gagak, terus hawanya kayak nggak enak gini, dan tadi ada yang ketuk pintu, Za!" jelas Eleena mencengkeram erat lengan saudaranya. Tok tok tok "Tuh kan, Za!" seru Eleena merapatkan tubuhnya pada tubuh saudaranya. Arkanza berusaha melepas cengkeraman saudarinya, namun Eleena tak membiarkannya. "Gue cek dulu." ucap Arkanza yang mendapat gelengan dari saudarinya. Eleena mengikuti saudaranya yang berjalan menuju pintu utama. Saat ini dia merasakan orang paling penakut di dunia. Dia merutuki dirinya sendiri. Menjadi penakut bukanlah keinginannya, tetapi karena dirinya yang sering menonton film horor membuat dirinya menjadi seperti ini. "Makanya jangan suka nonton horor, kalo lo masih jadi orang yang penakut." omel Arkanza pada saudarinya. "Ya gimana, gue penasaran sama alur filmnya." jawabnya jujur. Arkanza meraih gagang pintu dan membukanya. Dia mendapati seorang wanita yang membuatnya tertegun. Wanita itu adalah wanita yang bertahun-tahun telah dilupakannya. Dia adalah ibu kandungnya yang tega membuang dirinya demi seorang pria, yang tak lain adalah majikannya saat itu. Waktu dulu, ibu Arkanza adalah seorang ART di sebuah rumah yang pemiliknya adalah seorang duda. Arkanza sering ikut bersama ibunya untuk menemani anak sang majikan yang kesepian. Siapa menyangka, jika ibunya dilamar oleh majikannya sendiri karena putranya yang selalu nyaman bersamanya. Tetapi, jika dia mau menjadi istrinya maka Arkanza harus disingkirkan. Karena dia tak mau kasih sayang yang diberikan ibu Arkanza pada putranya akan terbagi. Mirna--ibu Arkanza yang lebih mencintai harta dan tahta pun akhirnya membuang putra kandungnya sendiri di jalanan. Cinta terhadap dunia telah membuatnya buta. Eleena bingung karena Arkanza tak mempersilahkan tamu mereka untuk masuk. Akhirnya, dia keluar dari persembunyiannya. Kemudian, membuka pintu lebar-lebar. Rasa takutnya telah hilang setelah mengetahui jika yang mengetuk pintu rumahnya adalah manusia. "Eh, Jeng Mirna, udah dateng aja nih?" teriak Heni berjalan ke arah mereka. Arkanza tersadar setelah mendengar teriakan ibunda angkatnya. Dia menyingkir dari tengah pintu agar Heni bisa menghampiri ibu kandungnya. Dia yakin, jika ibunya tak mengenali putranya sendiri. Karena dirinya telah berubah. Heni menggiring temannya ke ruang tamu. Tak lama, seorang pemuda ikut masuk ke dalam. Eleena terpaku saat melihat wajahnya. Dia adalah orang yang telah menolongnya di sekolah. Jadi, dia adalah anak dari teman ibundanya? Eleena rasa seperti itu. "Ini rumah lo?" sapanya dengan bertanya. Eleena mengangguk. "Dion, sini sayang." teriak Mirna memanggil anaknya. Dadaa Arkanza terasa ditusuk oleh ribuan jarum. Dia kecewa dengan ibu kandungnya sendiri. Namun, dia masih bersyukur karena keluarga Prayudha bersedia mengangkatnya sebagai anak. Jika tidak, mungkin dia tak akan ada lagi dunia. Arkanza tersenyum hambar menyaksikan ibunya merangkul pemuda tersebut. Mirna tampak begitu menyayanginya. Iri? Tentu saja. Selama hidup dengannya, Arkanza tak pernah merasakan kasih sayang lebih darinya. Hanya keluarga Prayudha yang melimpahkan kasih sayang padanya. "Za, ayo ke sana." ajak Eleena menarik tangan saudaranya. Arkanza merasa miris dengan hidupnya sendiri. Sejak kecil, dirinya tak pernah melihat sosok ayahnya. Dia pernah mendengar dari rumpian tetangga yang mengatakan bahwa dirinya adalah anak di luar nikah. Jadi, tak aneh jika Mirna tak mempedulikannya. Di lain sisi, dia juga menyalahkan sosok ayahnya yang pengecut. Karena dia tak mau bertanggungjawab atas apa yang telah dilakukan. "Lo kenapa, Za? Nggak kesambet 'kan?" tanya Eleena pada saudaranya yang sejak tadi hanya diam melamun. Eleena melirik sekilas ke arah pemuda yang tengah menikmati kue yang disuguhkan oleh ibundanya. "Oh ya, Jeng, ini anak saya namanya Dion." ucap Mirna memperkenalkan putranya. Otak Arkanza kembali berputar mengingat memori kejadian sepuluh yang tahun lalu. "Kamu main disini sama Dion, ibu mau beberes rumah dulu." Arkanza mengingatnya. Itu adalah nama yang sama dengan nama putra majikan ibunya yang kini menjadi suaminya. Ternyata, mereka satu sekolah. Menyedihkan sekali. "Genteng ya anakmu, Mir. Tapi, masih ganteng anak laki-laki ku." ucap Heni yang membuat Dion terbang dengan pujiannya, lalu terhempas begitu saja setelah mendengar kalimat selanjutnya. Eleena terkekeh. Ibundanya memang seperti itu. Bagi Heni, kedua anaknya akan tetap unggul di matanya. "Tante bercanda kok. Kalian sama-sama ganteng." lanjut Heni yang menyadari ekspresi kesal di wajahnya. Dion tersenyum tipis. Tatapannya teralih pada seorang gadis yang menguap panjang. Kemudian, dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih pukul sembilan, tapi gadis itu sudah mengantuk. "Za, ngantuk." lirihnya menyandarkan kepalanya di bahu Arkanza. Eleena sudah terlelap dalam hitungan detik. Arkanza merasa berat di bagian bahunya. Dia pun mendorong pelan tubuh saudarinya agar bersandar pada kepala sofa. Eleena memang gadis yang langka. Dimana saja dia bisa tertidur, karena tak kuasa menahan rasa kantuknya. "Bunda." panggil Arkanza pada ibundanya yang asyik mengobrol disertai canda tawa. Heni menoleh ke arah putranya. Dia terkejut melihat Eleena yang terlelap. Sekejap, dia merasa malu dengan kelakuan putrinya yang dapat tidur di mana saja saat dirinya merasa ngantuk. "Gendong ke kamar, Ar." titahnya berjalan mendekati anaknya. Arkanza berjongkok di depan saudarinya. Heni melingkarkan tangan putrinya pada leher putranya. Perlahan, Arkanza berdiri dan berjalan menuju kamar saudarinya yang berada di lantai dua. Dia harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk sampai di kamar saudarinya. Sekarang, dia menyesal karena dulu mengatakan Eleena begitu ringan dan hari ini bobot saudarinya begitu berat. Napasnya sampai tersengal-sengal karena berusaha sekuat tenaga untuk tiba dengan selamat. Arkanza menghela napas melihat pintu kamar saudarinya yang terbuka lebar. Dia berhenti sejenak untuk mengumpulkan tenaganya lagi, kemudian masuk ke dalam kamar saudarinya. Dengan pelan, Arkanza membaringkan tubuhnya di atas kasur. Lalu menyelimutinya hingga menutupi dad*a. "Lo berat Leen! Mulai besok, gue bakal suruh lo diet!" ucapnya dengan napas terengah-engah. "Kalo tiap hari gue harus gendong lo ke kamar karena kebiasaan jelek lo, gue bisa encok!" keluhnya memegangi pingganggnya. "Dasar pelor lo! Nempel langsung molor!" umpatnya sambil menutup rapat pintu kamar saudarinya. Arkanza memelankan derap kakinya saat tiba di ruang tamu. Sebenarnya, dia ingin ke dapur mengambil air minum, tetapi Heni lebih dulu mencegatnya. "Arkan, antar Dion ke kamar mandi. Dia mau buang air kecil." suruhnya yang diangguki oleh Arkanza. Dion bangkit dari duduknya menghampiri Arkanza yang menatapnya dingin. Arkanza berjalan lebih dulu, dia tak sudi berjalan beriringan dengan orang yang telah merebut ibu kandungnya. Dia tidak dendam. Hanya saja merasa kesal dengan takdir hidupnya sendiri. Tetapi, tak ada gunanya mengungkit semua itu, karena tak akan merubah apapun. Yang terpenting, dia telah memiliki keluarga yang sangat menyayanginya melebihi ibu kandungnya sendiri. "Gue tunggu di sini." ucap Arkanza menunjuk pintu kamar mandi yang letaknya berdekatan dengan dapur. Setelah Dion masuk ke kamar mandi, Arkanza beranjak menuju kulkas. Dia akan mengambil air untuk stok di kamarnya. Karena dia memiliki kebiasaan menunaikan sholat malam dan dia merasa malas jika harus turun ke bawah untuk mengambil air minum. Tak lupa, dia juga mengambil satu botol air lagi untuk saudarinya. "Eleena itu cewek langka ya?" ucapnya yang keluar dari kamar mandi. Arkanza mengedikkan bahunya. Karena kelangkaan gadis seperti saudarinya, membuat Arkanza ingin menjaganya dari tangan-tangan yang memiliki niat jahat padanya. Jika dipikir-pikir, tingkah laku Eleena memang begitu menggemaskan. Tanpa sadar, Arkanza menarik sudut bibirnya dan itu disaksikan oleh Dion. "Kenapa lo?" tanyanya yang mendapat gelengan dari Arkanza. "Nama lo Arkanza? Lo anak kelas sepuluh IPS 3 'kan?" lanjutnya memastikan. Arkanza mengangguk membuat Dion merasa geram. Dia sudah menurunkan egonya untuk memulai pembicaraan ini, tetapi respon yang diberikan Arkanza sangat jauh dari prediksinya. Dia kira Arkanza adalah orang yang asyik untuk diajak bicara. Namun nyatanya, tidak. "Tingkah laku saudari lo cukup unik, dan gue tertarik." bisiknya membuat Arkanza menatapnya tajam. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN