Jealousy

3943 Kata

"Eli, terima kasih ya." Jemari lentik milik Stefhana menekan saklar lampu kamarnya. Segera setelah kamarnya redup, lampu tidurnya menyala secara otomatis. Membuat suasana kamar menjadi temaram nyaman. Stefhana naik ke kasurnya, dimana Eli sudah lebih dulu bergulung dalam selimut. Merasakan permukaan kasur yang menurun, Eli segera bergeser untuk memberikan ruang Stefhana berbaring. "Sama-sama. Jangan diam terus ya, Stefy. Kalau kamu sedang takut, bilang. Jangan hanya diam saja." ucap Eli saat wajah Stefhana sudah berhadapan dengannya. Tetapi, Stefhana hanya menghela napas disertai raut frustasi yang tipis. "Maaf ya, aku belum bisa cerita kenapa aku ketakutan. Intinya, aku sebenarnya aku masih menganggap kalian teman, hanya saja traumaku membuatku sulit fokus. 'Kan tidak enak kalau aku ga

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN