"Gimana ini, botolnya gak muat... Apa beli vas besar saja ya?" Stefhana mengeluh. Alisnya bertaut kecewa melihat botol parfum terbesarnya yang sudah dikosongkan, masih tidak sanggup menampung semua tangkai mawar itu. Bibir merah mudanya mengerucut saat melihat kembali buket mawar di atas mejanya yang telah diambil beberapa tangkai, kemudian mendekapnya lagi hingga hidungnya menghirup kembali aroma mawar yang sensual itu. "Kamu siapa, sih... Tiba-tiba saja kasih aku mawar? Kita bahkan belum pernah bertemu." keluhnya lirih, tetapi tidak bisa menyangkal debar jantungnya yang mulai tidak berirama. Jemari lentiknya memainkan mahkota bunga itu dan merasakan permukaan asli kelopak mawar yang jarang ia sentuh. Bahkan saat kelulusan sekolahnya saja, ia tidak mendapatkan begitu banyak bunga. Menga

