Setelah dari rumah sakit, Elang kembali lagi ke puskesmas. Jam satu tepat, ia sudah berada di ruang rapat dengan laptop dan setumpuk berkas. Wajahnya tampak lebih segar setelah sempat makan dan solat tadi. Beberapa orang masuk ke ruangan setelah Elang dengan perasaan segan. Laki-laki itu tampak serius di balik kacamata minusnya, membaca berkas dan sesuatu di layar laptopnya dengan bergantian. Ayu masuk bersama Zara berbarengan. Mereka menjadi bagian tim yang terakhir masuk ke ruangan rapat, membuat Elang mengangkat wajahnya. “Selamat siang, Dokter Zara, dan Dokter Ayu.” “Siang, Dok,” Zara membalas dengan cuek. Dia sengaja mendahului Ayu mengambil kursi terjauh dari Elang, membuat Ayu menghela napas karena hanya tersisa satu kursi di dekat atasannya itu. Zara terkikik. “Kita mau sampa

