Saat Lea mencibir Andrew, ternyata dia sedang bermonolog. Andrew sudah terburu menutup panggilannya, sengaja menghindar dari raungan Lea yang sudah seperti singa betina itu. “Kurang ajar,” gerutu Lea menatap layar ponselnya. Terhuyung-huyung, Lea membalikkan badan dan berjalan ke tasnya lagi sambil tersenyum pahit pada Lies dan pegawai itu. Kedua tangan Lea terlihat gusar. Kemudian dia mengambil dompet berwarna abu dan pink miliknya itu. Lea memegang kartu debit di dadanya itu. Lantas menoleh pada pegawai butik yang berdiri di samping Lies. “Mbak ... bisa pakai kartu kredit kan?!” tanyanya ragu. “Bisa, Kak.” Pegawai itu membawa kartu debit Lea ke kasir. Pembayaran dilakukannya hingga selesai. Setelahnya, dia menanyakan pada Lea. Gaun itu akan diantar besok ke rumahnya atau sekalian d

