“Leaaa,” sapa Lies memasuki kafe di siang bolong ini. Lea mencincingkan bibirnya kaget. “Ehh?!” “Ahh akhirnya tiba saatnya buat kamu fitting baju,” seru Lies lagi mendekati Lea yang berdiri di samping kasir bersama Rini. “Ahh ... iya ... fitting,” ucap Lea ragu. Dia sangat menyesali kontrak yang telah disetujuinya dengan Andrew. Jari-jari kakinya mengkerut. Sejuta umpatan terbenam dalam hatinya. “Sh*t, aku sudah gila. Benar-benar gila. Aku pikir tidak akan secepat ini pernikahannya. Andrew ambisi banget dapetin posisi itu lagi. Sial sial sial!” Lies merapatkan tangannya ke dalam lengan Lea. Hendak menggiring Lea keluar dari kafe ini. Seketika seluruh otot Lea menegang, menahan kakinya agar tidak melangkah ke dalam mobil bersama Lies. Ini adalah mimpi buruk Lea yang kesekian kalinya.

