“Mau permen?” Mika terkesiap. Ia menoleh ke kanan dan melihat Asa tersenyum ke arahnya. Ada sensasi berdesir yang menyusup ke dalam hati pemuda ini. Bibirnya merekah membentuk senyum dan memandang hangat ke arah gadis itu. “Terima kasih,” ucap Mika seraya mengambil bungkus permen yang disodorkan Asa. Pemuda berjaket coklat ini juga tak lupa memberi permen kepada Budi yang sejak tadi sibuk membaca buku di sampingnya. Setelah Budi mengambil beberapa permen, Mika pun mengembalikannya pada Asa. “Aku ingin tanya satu hal padamu.” “Oh ya? Soal apa?” sahut Mika seraya membuka bungkus permen tadi, tanpa memandang Asa. “Kau bilang ada masalah saat aku meneleponmu dulu. Memangnya ada apa?” Mika yang sudah mengemut gula-gula tadi langsung melebarkan matanya. Ia tak mengira Asa akan bertanya so

