Pagi itu seperti biasanya olive Membantu ibu nya menjemur baju di sebelah penginapan. Sesekali menyapa tamunya yang akan pergi ke pantai. Ember yang berisi baju- baju basah itu sudah hampir kosong saat desiran angin sejuk menghela olive. Wangi kayu yang maskulin menyeruak.
"Bonjour, Mademoiselle!!" alex tersenyum manis dibelakang ketika olive menoleh.
"Bounjour, mon ami.....!" Olive tertawa lebar. Sebulan bersama alex, kosa kata bahasa prancisnya meningkat dengan pesat.
"Baju siapa itu olive?" Alex menunjuk kesebuah gaun hitam pemberian dari bapak.
Olive menunjuk kedirinya sendiri.
"Keliatan nya bagus." Alex bergumam sambil mengangguk - anggukan kepalanya.
Olive memandang kearah alex dengan tatapan bingung, kemudian memandang ke arah jemuran. Gaun hitam itu teronggok pasrah tanpa bentuk di atas tali jemuran. Tidak ada tanda - tanda bahwa gaun itu bagus, walaupun memang olive akui bahwa gaun itu adalah pakaian ter baik mikiknya dari sekian pakaian yang ia miliki.
"Pakai gaun itu ya, buat nanti malam. Aku akan ajak kamu ke pesta bakar ikan kecil - kecilan malam nanti di pinggir pantai dekat hotel."
Olive menahan napasnya.
Alex mengajak aku kencan....???
"Bo... boleeh!"
Yess.... pasti bakalan seruuu dan romantis....
"Bagus! jadi nanti malam kita ketemu di....," Alex tersenyum senang.
"Persimpangan jalan dekat hotelmu aja .....," Olive memotong.
"Okee, jam 7 , yaa!"
*
Setelah berbagai persiapan yang olive lakukan baik itu persiapan lahir batin, dikamar mandi selama lebih dari 3 jam, digedor - gedor bapak karena dikira apingsan dikamar mandi, dan juga di omelin mama, akhirnya olive keluar dengan jiwa dan raga yang luar biasa kinclong.
"Mau pergi kemana?" Tanya mama agak heran.
Olive hanya bisa nyengir dan lari ke kamar nya. Ia mengobrak - abrik meja riasnya untuk mencari bedak dan lipstik yang sekiranya belum expired.
Gaun hitam kebanggaan nya pun sudah teronggok lemas di atas tempat tidurnya. Olive memaksanya untuk kering. Ketika langit mulai berawan dan gaunnya itu belum kering, Olive langsung saja menyetrika gaun itu dengan sepenuh hati dan berharap gaun itu tidak terlalu ' lepek' saat dipakainya nanti.
Dengan sangat hati - hati , olive memakai gaun hitam itu.
Bagus!.
Olive pun mematut dirinya di hadapan cermin yang ada dikamarnya. Menyemprot kan cologne milik lidia ke gaun nya.
Oke .... aku sudah siap.
Dilihat nya jam di tangan kanan.
Wah, tinggal 10 menit lagi ...
Dengan langkah tergesa olive pergi keluar rumah tanpa pamit trrlebih dahulu kepada orang tuanya.
Olive berjalan terseok - seok karena mengenakan sandal ber hak tinggi, Olive berusaha mempercepat jalan nya di atas
jalan desa yang berpasir.
Duuhh... ini mah salah pakai sendal ,,, gara - gara mau gaya di depan alex, jadi menderita begini sih!!
Olive kemudian melihat petunjuk jalan beertuliskan arah menuju hotel tempatt alex menginap. Olive berhenti disitu. Alex belum terlihat.
Olive menghela napas lega karena dia belum terlambat. Namun kelegaan nya langsung berubah jadi rasa ngeri setelah melihat di sekeliling nya sepi. Dengan hati gelisah olive menoleh ke kanan kiri. Belum ada tanda - tanda kedatangan alex.
Sesosok bayangan mendekat.
Ah.... itu pasti alex!
Olive tersenyum sambil menunggu wajah orang yang datang itu terlihat. Bayangan itu semakin mendekat. Bentuk nya sedikit aneh. Olive mulai pucat. Kepalanya bertanduk dengan bulu-bulu di seluruh wajahnya.
Olive mundur dua langkah. Dari arah belakang nya Seseorang menepuk pundak nya.
"Alex ......" Olive menoleh. "Aaaaaaaa."
Sayup - sayup terdengar suara gaduh dalam bahasa prancis. "Waah dia pingsan!"
Olive mulai tersadar saat ia melihat 5 pasang mata berkeliling melihat nya. Semuanya pria dengan rambut berwarna emas.
"Olive .... maaf ya .... kamu sampai kayak gini!" Olive mendengar suara alex dari atas kepalanya. Ternyata alex sedang memangku kepalanya. Olive berusaha duduk dan bangun perlahan - lahan.
"Apa yang terjadi?"
"Mmm.... teman - temanku yang tadi menakut - nakutimu... olive"
Bersambung.......