Pagi itu, udara masih terasa dingin saat Lexsa menutup pintu apartemennya. Hatinya dipenuhi rasa penasaran yang bercampur cemas. Cerita dari Arga tentang Clara tidak bisa hilang dari kepalanya. Ia tahu, Arga bukan orang yang sembarangan melebih-lebihkan sesuatu. Jika ia sampai menyebut “darurat”, berarti ada hal serius yang tengah terjadi. Begitu pintu apartemennya terbuka, sosok Arga langsung terlihat di hadapannya. Lelaki itu berdiri di koridor dengan wajah pucat, matanya sembab seperti kurang tidur. Begitu melihat Lexsa, ia langsung bernafas lega, seolah seluruh beban di pundaknya sedikit terangkat. “Nona!” rengek Arga, segera maju dan menggenggam tangan Lexsa erat-erat. Jemarinya bergetar, membuat Lexsa terkejut. Lexsa menatapnya dengan penuh kebingungan. “Ada apa, Arga? Panggilan d

