Andin memberhentikan mobil tepat di depan gedung apartemen milik Lexsa. Suara mesin perlahan mereda, menyisakan keheningan pagi yang masih diselimuti sisa embun. Matahari baru naik setengah, cahayanya menyapu kaca jendela apartemen tinggi menjulang itu, membuat bayangannya memanjang di atas aspal. “Yakin tidak mau masuk dulu untuk sarapan?” tanya Lexsa sambil menoleh. Suaranya lembut, namun ada sedikit nada cemas, seolah ia tidak ingin Andin terburu-buru. Andin tersenyum, menepuk ringan setir mobil. “Aku segera harus kembali untuk bekerja. Lagi pula mobil ini bukan milikku, aku takut pemiliknya mencarinya. Untuk sarapan, aku bisa di kantin perusahaan nanti.” Lexsa mengangguk kecil, meski dalam hatinya ia ingin sekali Andin beristirahat lebih lama. “Baiklah, pergilah. Terima kasih, Andin

