Kebebasan

915 Kata

Arga melangkah perlahan mendekati sofa tempat Davin duduk. Tatapannya tajam, bukan pada Davin, melainkan pada Clara yang berdiri tak jauh darinya. Wanita itu menyilangkan tangan di d**a, wajahnya penuh keangkuhan, seolah tengah menunggu sebuah pertunjukan yang akan segera dimulai. Arga menarik napas panjang. Ia tahu betul keberadaannya di ruangan itu adalah sesuatu yang tidak diinginkan Clara, bahkan mungkin juga oleh Davin. Namun ia tidak peduli. Satu-satunya hal yang ada di benaknya adalah melindungi Davin, apapun caranya. Ia kemudian menunduk, membungkuk sedikit di samping sofa, lalu menyentuh tangan Davin dengan hati-hati. Sentuhannya lembut, penuh hormat. “Ayo, Tuan. Kita pergi dari sini,” bisiknya pelan namun tegas. Davin sempat diam beberapa saat. Jemarinya yang dingin bergetar s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN