Arga melangkah cepat meninggalkan apartemen Davin. Nafasnya terdengar berat, namun bukan karena lelah, melainkan karena perasaan bersalah yang menyesakkan dadanya. Sesaat sebelum pintu tertutup, Davin sempat menoleh ke arah suara langkah itu, meski matanya tak bisa melihat apa-apa. Yang tersisa hanyalah keheningan yang begitu menusuk. Clara, yang berdiri tidak jauh dari sofa, memandangi pintu apartemen yang baru saja menutup rapat. Bibirnya melengkung membentuk senyum sinis. Tawa kecil keluar dari mulutnya, pelan tapi cukup jelas untuk menyayat hati Davin yang duduk membisu. “Lihatlah, Tuan Davin,” ujarnya dengan nada mengejek. “Orang yang kau sebut ‘kepercayaanmu’ itu… dari dulu sampai sekarang tetap sama. Seorang pengecut. Dia bahkan lari meninggalkanmu begitu saja.” Kata-kata itu men

