Nyonya Victoria menyandarkan tubuhnya ke sofa empuk berlapis kain beludru merah marun. Senyum licik mengembang di wajahnya, senyum yang seakan menyimpan ribuan siasat tersembunyi. “Lexsa bukan gadis yang baik,” ucapnya lagi penuh tekanan, seolah setiap kata adalah pisau yang menusuk agar Tuan Tommy percaya pasanya. Tuan Tommy yang duduk di sampingnya mengangguk pelan. “Kau benar. Itu terbukti dari sikap Davin yang sekarang menentang dan membangkang. Dulu dia selalu menurut, kini dia berani mengusirku dari apartemennya. Semua ini karena pengaruh Lexsa.” Nyonya Victoria menunduk sedikit, menahan tawa puasnya agar tidak terlalu kentara dan terlihat oleh Tuan Tommy. “Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan gadis itu pada Davin. Bisa saja dia mencuci otak Davin, lalu memanfaatkannya. Gadis s

