Davin duduk tenang di sofa ruang keluarganya. Sinar matahari pagi menyelinap masuk lewat celah tirai, menebar cahaya hangat yang menyinggahi permukaan meja kayu dan rak buku di sudut ruangan. Sesekali, ia meraba ponsel pintarnya yang terletak di samping, lalu menekan tombol suara untuk mengetahui waktu. “Pukul tujuh tepat,” suara elektronik dari ponsel menjawab. Davin menarik napas panjang. Ada sedikit kegelisahan yang mengusik hatinya. “Kenapa Lexsa belum juga datang? Kemarin dia mengatakan bahwa dia akan pulang pagi,” gumamnya lirih, nada khawatir menyelusup di balik kata-katanya. Hening menyelimuti ruangan beberapa saat hingga tiba-tiba bunyi bel pintu terdengar nyaring. Davin sontak tersentak, namun senyum kecil terbit di wajahnya. “Itu pasti Lexsa,” ujarnya penuh keyakinan. Dengan

