Nyonya Victoria duduk anggun di ruang keluarga kediaman Poland, rumah besar bercorak klasik dengan d******i marmer putih dan perabotan berlapis emas. Jemarinya yang lentik mengangkat cangkir porselen berisi teh mawar, aroma harum menenangkan seisi ruangan. Namun ketenangan itu segera pecah begitu seorang pelayan masuk dengan langkah tergesa. “Nyonya, Tuan sudah pulang,” ucap pelayan itu sambil menunduk hormat. Nyonya Victoria hanya mengangguk kecil, senyumnya tipis tapi penuh perhitungan. “Siapkan kopi dan cemilan seperti biasa untuk suamiku,” titahnya singkat. Pelayan itu kembali menunduk, lalu bergegas meninggalkan ruangan. Beberapa detik kemudian, terdengar derap langkah berat di koridor. Tuan Tommy muncul dengan wajah merah padam, napasnya memburu, kemeja yang biasanya rapi kini sed

