Tuan Tommy mengemudikan mobilnya menuju gedung apartemen milik Davin. Wajahnya tegas, sorot matanya penuh dengan maksud tertentu. Begitu mobilnya berhenti di parkiran, ia segera keluar tanpa menoleh ke belakang. Dengan jas hitam yang rapi, langkahnya menyusuri lobi apartemen dengan wibawa yang membuat beberapa orang menoleh. Tanpa basa-basi ia langsung menekan tombol lift dan masuk. Di lantai tujuh, ia keluar dengan gerakan mantap, lalu berdiri di depan pintu unit apartemen milik Davin. Ia menghela napas sejenak, lalu dengan cepat menekan bel. TING TONG Di dalam, Davin yang saat itu sedang berada di kamarnya terbangun dari tidurnya. Ia mengusap wajahnya sebentar, lalu meraih tongkat penunjuk jalan yang terletak di samping ranjang. Dengan langkah hati-hati, ia menuju pintu. “Entah kenap

