Davin yang saat itu masih terduduk di ruang keluarga di apartemennya meraba atas meja mencari ponselnya hingga ia berhasil ketika menemukan benda persegi panjang itu. “Sudah hampir satu jam sepupu Lexsa mengambil tas dan ponsel milik Lexsa, mungkin sekarang Lexsa sudah memegang ponselnya sendiri,” pikir Davin. Ia mengarahkan ponsel pintarnya ke mulutnya, lalu berkata pelan, “Siri, telepon nomor Lexsa untukku.” Tak berapa lama, suara sistem otomatis menjawab, “Baiklah, sambungan telepon telah dilaksanakan.” Beberapa saat kemudian, suara dering sambungan mulai terdengar di telinga Davin. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, ada rasa harap sekaligus cemas di dalam dirinya. Di rumah sakit, Lexsa yang tengah duduk bersandar di ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya, tersentak ketika

