Di ruang rawat sederhana yang masih dipenuhi aroma antiseptik, Andin menyerahkan tas hitam kecil milik Lexsa. Gadis itu tampak lemah, duduk bersandar di tempat tidurnya, wajah pucatnya tersapu oleh cahaya lampu putih rumah sakit. Dengan tangan gemetar, ia meraih tas tersebut dari Andin, bibirnya yang kering menyunggingkan senyum tipis. “Terima kasih, Andin,” ucap Lexsa lirih. Andin hanya mengangguk, matanya memperhatikan setiap gerakan sepupunya itu dengan tatapan khawatir. Ia tahu Lexsa berusaha menyembunyikan sakitnya di balik senyum tipis yang dipaksakan. Begitu resleting tas terbuka, benda pertama yang dicari Lexsa adalah ponsel pintarnya. Tangannya bergerak cepat meski tenaganya terbatas. Ia menemukan ponsel itu di dasar tas, segera menyalakannya, dan tanpa berpikir panjang langsun

