sepupu lexsa

933 Kata

Langkah Andin terasa tergesa sore itu. Kemeja kerjanya yang sudah agak kusut menempel di tubuh karena keringat setelah menempuh perjalanan panjang. Sesaat setelah keluar dari kantor, ia tak ingin membuang waktu. Langkahnya cepat menuju halte bus, menunggu kendaraan umum yang akan membawanya ke apartemen Lexsa. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, meski lelah, ia harus mampir untuk mengambil sesuatu yang penting milik sepupunya itu. Bus berhenti dengan decitan rem, Andin segera naik, memilih duduk di kursi dekat jendela. Pandangannya kosong, sesekali menatap bayangan kota yang berkelebat. Di kepalanya, ia hanya membayangkan bagaimana reaksi Lexsa ketika mengetahui bahwa tas dan ponselnya sudah ia amankan. Butuh waktu tiga puluh menit, cukup membuat Andin membiarkan pikirannya mengembara

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN