Di rumah sakir, Arga terdiam membeku. Kata-kata dokter barusan terus berputar di kepalanya, menghantam batinnya bertubi-tubi. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Lexsa, gadis yang selalu terlihat ceria, penuh semangat, dan seakan kuat menghadapi apa pun, ternyata menyimpan rahasia sebesar ini—sebuah bom waktu yang siap meledak kapan saja dan merenggut hidupnya. “Waktu pasien tidak lama lagi,” suara dokter tadi masih terngiang jelas. “Menurut catatan medis, ia hanya mampu bertahan enam bulan saja.” Tubuh Arga terasa lemas. Tangannya yang sedari tadi mengepal kini lunglai di atas lutut. Jantungnya berdegup kencang, wajahnya pucat pasi, dan matanya memandang kosong ke arah ranjang tempat Lexsa terbaring. Sulit baginya menerima kenyataan itu. “Bagaimana bisa…? Bagaimana bisa gadis seperti

