“Aara, kamu dimana?” tanya Harist yang melihat sekeliling, namun tidak menemukan keberadaan perempuan itu. Pagi itu mereka sudah berada di stand jualan nasi empok. Meskipun Aara beberapa hari pergi tanpa kabar, tapi Harist berusaha tetap menjalankan usaha tersebut. Pikirnya usaha itu akan tetap menjadi penghasilan tambahan Aara, meski jika nanti akhirnya perempuan itu tidak mau lagi dengannya. Tapi takdir memang berpihak pada mereka, Aara kembali bersama Harist, bahkan sekarang dengan perasaan yang utuh. “Aku disiniii.” Ucap Aara sembari membawa makanan ditangannya. “Aku baru bereksperimen, buat nasi gule ditambah sate. Hmmmm.. enak juga ternyata. Ayo coba sini.” Perempuan itu menarik Harist untuk ikut dengannya. Mereka pun duduk di meja paling pojok, dan Harist sudah disuguhi makanan y

