Bab 7 Pertemuan Dua Kakek

1874 Kata
Helikopter mewah perlahan mendarat di landasan roof top gedung Cheng Group, tampak pula di luar landasan berdiri Steven didampingi Alvian dan enam ajudan bertubuh tegap yang semuanya tentara yang berguru sama kakek Yolanda. Setelah helicopter mendarat dengan sempurna dan mesin dimatikan, Watson dan Joey turun dari sana bersama dua ajudan kepercayaan ayah Hansen tersebut. Steven dan rombongan bergerak menyambut. Watson melihat rombongan tersebut, kemudian focus ke Steven yang melangkah dengan tenang. Ketika mereka berhadapan, Steven menyapa ramah Watson. “Tuan Watson Salvador?” sapanya dengan wajah tersenyum tulus, “Saya, Steven Cheng, kakek kandung dari Yolanda Cheng.” Dia memperkenalkan nama sambil mengulurkan tangan kanan ke Watson. Sejenak Watson mengamati Steven, lantas dijabat tangan kakek Yolanda itu. Merasa Yolanda punya strata setinggi Hansen. “Tuan Steven-“ Watson membalas sapa Steven, “Iya, Saya Watson Salvador, ayah kandung Hansen Salvador, suami dari Yolanda, cucu Anda.” Dia pun memperkenalkan identitasnya. Sejenak keduanya berjabatan tangan, lantas Steven memperkenalkan Alvian, baru kemudian Watson mengenalkan Joey. “Tuan Steven-“ Watson menegur setelah perkenalan selesai, “Maaf, di mana Yolanda?” dia mempertanyakan Yolanda, sebab tidak tampak kehadiran cucu Steven tersebut. Steven menghela napas pelan, “Mari Tuan, kita ke ruangan saya, biar bisa mengobrol lebih nyaman.” Dia belum memberi jawaban, “Di sana, Anda akan tahu di mana cucu saya.” Imbuh dia dengan suara sedikit bernada pilu. Mendengar suara Steven, jantung Watson berdetak sedikit cepat, merasa terjadi sesuatu yang tidak baik atas Yolanda. Tapi dia tidak bertanya lebih jauh, ikut Steven meninggalkan roof top menuju ruangan kerja Steven sebagai presiden direktur Cheng Group di lantai 7. Perusahaan ini yang tahu hanya Mona, Joseph, Juan, Bethel dan Alvian, sebab Steven memang tidak membuka mengenai sisi lain dia yang pengusaha kelas ikan hiu seperti Watson. Orang cukup tahu dia hanya master kungfu di perguruan yang sederhana. Mereka sampai di ruangan Steven, tampak di sana ada boks bayi dengan model ayunan. Di dalam boks ada Donita yang sedang dimomong Juan. Kedua mata Watson langsung melihat boks tersebut, hatinya jadi bertanya-tanya, sebab terdengar suara gelak bayi perempuan. Steven membawa Watson ke dekat Donita. Juan segera berdiri di sebelah Alvian. “Tuan-“ Steven menegur tuan besar ini yang tampak surpraise melihat Donita bayi menggemaskan itu, “Ini adalah Donita, putri hasil pernikahan Hansen dan Yolanda.” Diberitahu identitas Donita. Mendengar ini, kedua mata Watson dan Joey membesar, lantas berbarengan melihat ke Steven. Si kakek buyut mengangkat Donita dari dalam boks, disandarkan tegak ke d*** dia. Watson dan Joey mengamati Donita yang hari ini cantik memakai overall celana pendek, berlengan pendek berkaret dan kerah renda. Rambut anak itu yang ikal keriting dihias bando kain yang diikat pita pada sisi kanan kepala. “Joey-“ Watson menegur Joey, “Kamu cubit lengan saya, apa saya bermimpi atau tidak punya cucu secantik ini?” diminta asisten Hansen ini mencubit lengannya untuk mengetahui apakah yang dilihat saat ini kenyataan bahwa dia punya cucu cantik menggemaskan bernama Donita. Joey pun mencubit sedikit lengan tuan besar tersebut. “Auw!” terdengarlah pekikan Watson, “Joey!” serunya memandang si asisten, “Saya benar punya cucu secantik ini.” Dia kini tahu bahwa kenyataan punya cucu yang cantik. “Puji Tuhan!” Joey menjadi senang, air mata haru sedikit bergulir dari kedua manik dia, “Selamat Tuan Besar, anda sudah jadi opa.” Dia pun memberi selamat, “Tuan Sulung pasti bahagia jika bertemu Nona cilik.” Dia merasa Hansen akan bahagia saat melihat Donita. Steven menghela napas, digiring Watson ke sofa, lantas duduk bersama di sana. Didudukan Donita ke pangkuan dengan menopang punggung bayi itu pakai lengannya. “Tuan-“ Watson tampak gemas melihat Donita yang tersenyum cerah, “Boleh saya gendong cucu saya?” dia minta izin menggendong Donita. Steven menganggukan kepala, “Sayang Zu Yeye-“ ditegur dulu Donita, “Beliau itu-“ menunjuk Watson, “Bernama Watson Salvador, kakek kamu dari ayahmu.” Diperkenalkan identitas Donita, “Mau ya, Kamu digendong beliau?” Donita hanya memandangi Watson dengan kedua maniknya yang bulat indah seperti mata Hansen, lantas melonjak-lonjakan badan, berarti dia terima Watson sebagai kakek dari pihak Hansen. Steven perlahan memberikan Donita ke pangkuan Watson, lantas tampak kedua mata ayah Hansen ini meleleh air mata haru. “Puji Tuhan!” dia memuji Tuhan, “Puji Tuhanku! Engkau bukan hanya menyelamatkan nyawa putraku, tapi memberi dia istri dan anak secantik ini.” Mengucapkan rasa syukur, “Terima kasih, Tuhanku.” Lantas mencium saying sejenak kepala Donita, lalu tersadar sesuatu, “Tuan Steven-“ ditegur Steven, “Mana Yolanda?” dia teringat Yolanda, “Kata Anda, saat kita di sini, Saya bisa bertemu dia.” Steven menghela napas, lantas mengarahkan jari telunjuk ke satu foto yang tergantung di dinding belakang meja kerja, tepatnya ke Yolanda. Watson dan Joey melihat ke sana. “Itu-“ Steven bersuara pilu, “Yolanda, cucu saya yang adalah ibu kandung Donita.” Dijelaskan siapa Yolanda yang berdiri di sisi Mona, “Disebelah dia adalah Mona, putri tunggal saya-“ dilanjutkan memperkenalkan Mona, “Lantas, disisi lain saya ada Joseph, suami Mona.” Watson berdiri sambil menempelkan badan Donita ke d***, di dekati foto tersebut, diamati Mona, Joseph, dan Yolanda. Hatinya menjadi pilu, seolah merasakan ketiga orang tersebut sudah tiada di dunia. Pelan dia mengalihkan pandangan, dituju ke Steven. Tampak wajah Steven pilu, meski tetap tenang. Dia pun kembali ke sofa. “Tuan-“ ditegurnya, “Apa yang terjadi sama mereka bertiga?” entah mengapa dia bertanya seperti itu, sebab hati dia semakin pilu. “Mereka sudah meninggal, Tuan.” Steven memberi jawaban, “Joseph meninggal saat Yolanda berusia delapan tahun.” Diceritakan waktu meninggal ketiga orang tersebut, “Lantas, Mona dan Yolanda, meninggal setelah Yolanda melahirkan Donita.” Imbuhnya. Mendengar ini, Watson terhenyak, pandangan kedua mata pilu. Kemudian dia teringat cerita Joey, bahwa Hansen bermimpi melihat Yolanda ditikam belati berkali-kali hingga tewas mengenaskan. Apakah Yolanda meninggal dibunuh? Berarti hari itu, Tuhan perlihatkan bagaimana Yolanda meninggal ke Hansen. Jika Hansen diberitahu, pasti sangat berduka. Steven mencolek lengan Alvian yang berdiri di sisinya, lantas sang jenderal segera mendekati televise yang terletak di dinding. “Tuan-“ Steven menegur Watson, “Silahkan Anda lihat peristiwa meninggalnya Yolanda, satu jam setelah dia melahirkan Donita.” Ujarnya meminta ayah Hansen melihat ke televise. Tanpa Norman tahu, Bethel, Lao San, dan Nan Sung berhasil mendapatkan copy peristiwa meninggalnya Yolanda sesuai instruksi Steven. Kakek Yolanda ini mengumpulkan perlahan jejak kejahatan Norman dan para sekutu ayah Almira tersebut. Watson dan Joey mengarahkan pandangan ke televise yang mulai menayangkan peristiwa meninggalnya Yolanda. Tidak lama kedua mata mereka membesar, sebab yang terlihat sama dengan mimpinya Hansen. Dalam benak mereka pun muncul pertanyaan, siapa yang sadis membunuh Yolanda ibu baru melahirkan? Kemudian mata mereka mengarahkan ke Donita yang tampak pilu. Seketika hati mereka menangis, merasa Donita tahu ibunya meninggal tragis, setelah melahirkannya. Alvian mematikan televise, lantas ke sisi Steven. Watson mendekap Donita, air mata berlinang. “Maafkan Opa, cucuku-“ dari bibirnya meluncur penyesalan, “Opa terlambat tahu mengenai ibumu yang dinikahi ayahmu.” Hatinya terasa sakit bukan main, terlambat mengetahui Hansen menikah sama Yolanda di masa lalu, “Maafkan Opa, cucuku. Maafkan Opa.” Sesekali dicium pilu kepala Donita. Joey yang berdiri disisi Watson pun berlinang air mata. Dia pun menyesal, mengapa tidak segera mencari Yolanda yang dilarikan Juan hari itu, sehingga kini Yolanda meninggal tragis. Bagaimana jika hal ini diketahui Hansen? Watson menyeka air mata dari wajah, lantas memandang Steven. “Tuan!” ditegurnya, “Dari mana Anda dapat rekaman ini?” “Dari rumah si pelaku.” “Apa pelaku sudah ditangkap?” Steven menggelengkan kepala. “Mengapa tidak ditangkap dan ditindak hukum?” Watson terheran dengan jawaban Steven. “Tuan-“ Steven bicara lirih, “Terlalu enak untuk pelaku jika hanya ditangkap dan dipenjara.” Ujarnya, “Pelaku harus membayar kematian Joseph, Mona dan Yolanda dengan cara lebih menyakitkan dari apa yang dia perbuat kepada ketiga orang itu.” “Maksud Anda-“ Watson terperangah, “Joseph, menantu anda, meninggal di bunuh orang yang sama?” Steven menganggukan kepala, “Pelaku adalah adik kandung Joseph, satu orangtua mereka berdua.” “Astaga, Tuhanku!” Watson terhenyak, “Apa karena harta, dia membunuh?” Steven menganggukan kepala,”Manusia, seringkali gelap mata akibat terlalu lama hidup miskin, sehingga saudara kandung pun bisa dibunuh untuk mendapatkan seluruh harta si saudara.” Ujarnya menjelaskan sikap manusia yang kerap gelap mata karena hidup susah. “Bahkan manusia itu mampu menghabisi keluarga sendiri.” Watson menghela napas, terkena omongan Steven, sebab Lydia dan Mike pun gelap mata, ingin menguasai WS Group dan seluruh harta pria itu. Dia dan Hansen beruntung masih berumur panjang, hanya celaka fisik akibat perbuatan Lydia dan Mike. “Berarti-“ Watson bicara sambil memandang Steven, “Yang terjadi masalah keluarga kalian?” Steven menganggukan kepala. “Yolanda-“ Watson bicara lagi, “Menantuku, maka kematian dia juga menjadi urusan keluargaku.” “Tuan-“ Steven menghela napas, “Saat ini, Hansen masih sakit dan dalam incaran orang-orang yang mencelakai dia, yang membuat dia sampai kehilangan ingatan,” ujarnya, “Maka baiknya Anda focus memulihkan dia dan mengganjar para pelaku yang saya rasa orang terdekat Anda.” Jreng, bagaimana Steven tahu bahwa yang mencelakai Hansen sampai pria itu kehilangan ingatan adalah orang terdekat Watson? Sangat mudah bagi Steven mengetahui itu sebab dia punya tim intelgent yang handal. Mengetahui konflik di keluarga Watson, saat Juan mengatakan ada Joey yang mencari Yolanda, dia memutuskan menemui Watson. Itu pun karena Watson menghubungi nomor telpon dia di kartu namanya. Dia kirim Fred, kapten pilot, untuk menerbangkan helicopter menjemput Watson di tempat yang tidak diketahui Lydia dan Mike, lantas membuka cerita meninggalnya Yolanda, serta mempertemukan Watson sama Donita. “Baik-“ Watson paham yang dikatakan Steven, “Apa rencana?” “Mengasuh Donita sampai usia enam tahun.” Steven memberi jawaban, “Saat itu tiba, Saya kirim dia ke Hans untuk membantu Anda dan Hans mengakhiri ambisi orang terdekat Anda yang haus ingin perusahaan dan harta Anda.” Mendengar ini, Watson mengamati Steven, lantas menghela napas, menemukan kenyataan Steven bukan pria biasa. Tapi mengapa dia belum pernah mendengar sama sekali pemberitaan mengenai Steven yang billionaire sukses? Pasti tidak, sebab Steven tidak pernah publikasikan kesuksesannya mengembangkan Cheng Group. Bahkan tidak pula memamerkan kehebatan dia sebagai master kungfu dan militer. Cukup kesuksesan dia diketahui orang-orang kepercayaan dia. Ini karena Steven menyadari sifat manusia yang serakah dan iri, jika tahu dia billionaire sukses, maka akan melakukan apa pun untuk menghancurkan dia. “Berarti-“ Watson sedikit kecewa, “Saya tidak bisa membawa Donita saat ini ke Hans?” Steven menganggukan kepala, menengadahkan telapak tangan kanan ke atas, lantas keluar dua botol keramik, diberikan ke tangan Watson. “Apa ini?” tanya Watson terheran. “Obat untuk menyembuhkan seluruh luka luar dan dalam di badan Hans.” Steven menjelaskan, “Hans cukup rutin minum ini sehari sekali menjelang tidur sampai obat habis. Setelah itu, Hans hanya perlu menjaga kesehatan tubuh dan pikiran.” Ujarnya, “Lantas, dengan minum obat racikan saya ini, system tenaga dalam milik Hans bisa normal kembali.” “Apa maksud Anda?” “Satu jam sebelum Hans dicelakai orang-orang itu, seseorang membubuhkan racun dalam minumannya, sehingga mengacaukan system tenaga dalam kungfu Hans. Membuat Hans terluka parah hingga kehilangan ingatan.” Dhuar, Watson terhenyak, lantas terpikir, apakah Lydia, atau Mike, yang meracuni Hansen?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN