Hansen sudah siuman dan menanti Watson yang melangkah masuk ke dalam kamar perawatan bersama Joey yang menenteng tas kain. Sang CEO duduk bersandar di atas bed perawatan yang setengah ditegakan, dan ditemani Andreas.
“Papa─!” Hansen langsung menyapa Watson yang sudah di dekat dia, “Papa dari mana?” lantas bertanya dengan tatapan menyelidik. Kedua mata dia pun melihat Joey di belakang sang papa menenteng beberapa tas belanja, “Sepertinya, Papa habis belanja.”
Watson tersenyum, dicium sayang kepala si anak, hal yang selalu dia lakukan kepada kedua putranya, jika dia datang atau hendak pergi. Baru kemudian dia mematikan roda pengatur aliran cairan infusan, lantas mengeluarkan dua botol keramik yang dari Steven dari saku kanan celana panjangnya, dituang dua butir obat dari masing-masing botol, baru mencekokan ke dalam mulut sang anak,
“Telan, Hans!” meminta putra sulung ini menelan dua butir kecil obat dalam mulut.
Hansen terlihat kebingungan, menelan obat itu, lantas mengamati sang ayah yang menyimpan kembali botol ke dalam saku kanan. Tampak kemudian si ayah mengambil satu barang dari dalam tas belanja ditangan Joey.
“Andreas─!”
Terdengar suara Watson memanggil Andreas.
“Saya, Tuan.” Andreas menyahut.
“Sibak selimut Hans─” Watson menyuruh asisten menyibak selimut dari badan Hansen, "Tegakan dia ke depan, kamu topang badannya.” melanjutkan perintahnya. “Joey!” kini memanggil Joey, “Lepas kemeja pajamas dari badan Hans.” Memberi perintah ke asisten si anak.
Joey segera meletakan semua tas belanja ke bufet sebelah ranjang, lantas bersama Andreas cepat melakukan perintah Watson. Tidak lama Watson membelit badan dan punggung si sulung dengan perban kaos.
Hansen melihat ini tampak kebingungan, mengapa sang ayah memasang perban tersebut. Dia hendak bertanya, tapi tertahan, tubuh dia merasa hangat, dan juga mengilu.
“Bertahan, Hans─” Watson melihat Hansen merasakan perban tersebut yang adalah obat bikinan Steven. “Luka dalammu bisa sembuh, dan system power tenaga dalam kungfumu pun kembali benar.” Diberitahu dia sedang mengobati Hansen.
Sebelum Watson meninggalkan kantor Steven, diberikan beberapa obat lagi untuk memulihkan kondisi Hansen.
Hansen tidak menanggapi, sebab sekujur badan terasa ngilu dan hangat.
Watson naik ke tempat tidur, duduk menghadap Hansen, dibikin kedua kaki putranya bersila, lantas mengangkat kedua tangan si anak, ditekuk agar telapak tangan mengarah ke dia, lalu memijat beberapa titik di syaraf telapak tangan tersebut.
Dia melakukan itu sesuai instruksi Steven, di mana setelah perban terpasang, dia harus memijat syaraf di kedua telapak tangan Hansen.
“Papa─!” mulai terdengar pekik pelan Hansen, sebab pijatan itu membuat dia tambah ngilu, “Tuhanku!” dia sebut nama Tuhan, berusaha menahan rasa ngilu.
Andreas dan Joey mengernyit-kernyit, ikut merasa ngilu melihat Hansen diterapi sama Watson. Watson punya kemampuan kungfu, dan tenaga dalam yang bagus. Bisa melakukan terapi pengobatan ke Hansen seperti yang diajarkan Steven.
Peluh mulai menghias wajah Hansen, sebab terapi tertujuan mengeluarkan toksin yang mengganggu aliran darah dalam syaraf dan memperbaiki system tenaga dalam yang kacau.
Tidak lama, Watson selesai memijat, dilepas perban dari badan Hansen. Tampak tubuh si anak penuh keringat.
“Joey─” dipanggil Joey, “Ambilkan handuk kering dalam tas belanja.” Diminta asisten mengambil handuk untuk menyeka semua keringat dari badan Hansen, “Andreas─” beralih ke Andreas, “Ambilkan pajamas baru untuk Hans.” Meminta asisten dia membawakan seragam pajamas baru.
Kedua pria tersebut segera melaksanakan perintah tuan besar. Tidak lama setelah Watson mendapatkan barang yang diminta, dia melap seluruh keringat dari badan Hansen.
Inilah Watson, ayah dan suami yang baik. Tidak segan mengurus istri dan anak baik saat sakit dan sehat.
Setelah keringat tidak ada, Watson mengeluarkan satu botol minyak dari saku kiri celana, baru meneteskan masing-masing empat kali cairan ke punggung dan bagian depan badan Hansen, lantas diratakan ke seluruh permukaan kulit dengan telapak tangan dia.
Kali ini Hansen tidak merasa ngilu, malah rileks. Minyak itu pun dari Steven. Setelah semua selesai, Watson menyandarkan punggung Hansen ke bed. Andreas cepat membentangkan selimut baru ke atas badan Hansen.
“Makasih, Papa─” Hansen mengucapkan terima kasih, “Makasih Andreas, Joey─” dia pun mengatakan terima kasih ke Andreas dan Joey. Lantas mengalihkan pandangan ke Watson yang duduk di kursi, “Papa─” ditegur sang ayah, “Papa dari mana?” kembali bertanya si ayah dari mana, “Mengapa bawa obat herbal untuk Hans?”
“Papa─” Watson bicara, agar Hansen tidak kembali bertanya hal yang sama, “Ke Shinse.” Ujarnya, “Karena Papa ingat Kamu punya kemampuan kungfu, mengapa bisa cedera hingga kehilangan ingatan.” Dia mengarang cerita sesuai scenario Steven.
Saat Steven mengatakan system tenaga dalam Hansen kacau, Watson tersadar si anak punya kemampuan kungfu, mengapa dia tidak menyadari system tenaga dalam sang anak kacau hingga kehilangan ingatan dalam insiden yang mencelakai anaknya.
“Shinse?” Hansen terheran mendengar ini, “Papa ke Shinse?” diamati sang ayah.
“Betul,” Watson menganggukan kepala, “Papa penasaran apa yang membuatmu kehilangan ingatan akibat dicelakai tempo hari, jadi Papa datang ke Shinse yang Papa dengar bisa mengetahui penyebab seseorang yang cedera mengalami hilang ingatan.”
“Papa ke Chinatown kah?” Hansen langsung feeling sang ayah ke Chinatown, sebab di sana banyak Shinse ahli pengobatan Cina.
“Betul.” Watson membenarkan, “Hans─” dialihkan perhatian Hansen, “Joey sudah menceritakan mengapa Kamu pingsan dan koma.” Dia menceritakan bahwa Joey melaporkan peristiwa Hansen pingsan di depan gerbang belakang perguruan Steven. “Dia juga bilang saat Kamu kehilangan ingatan, menikahi perempuan yang menyelamatkanmu.”
Hansen menyimak semua ini, feeling sang ayah ingin tahu perjalanan cinta dia dan Yolanda.
“Apa yang ingin Papa ketahui sekarang?” lantas bertanya ke ayahnya itu. “Iya, Hans ingat di masa lalu menikahi Yolanda, dewi penyelamat nyawa Hans.”
“Apa Kamu ingat kapan bertemu dia?”
Hansen terhenyak, terdiam, lantas mencoba memundurkan ingatan ke belakang, lalu dipelupuk mata melihat saat pertama bertemu Yolanda.
“Hans─!” Watson menegur Hansen, “Apa yang Kamu lihat?” lantas bertanya sebab feeling si anak melihat peristiwa saat kehilangan ingatan.
Hansen menghela napas, lantas menceritakannya.
Hansen berhenti berlari sebab sudah tidak kuat lagi akibat tubuhnya penuh luka tusuk dan tembak. Dia kini berada di jalan setapak, menyandarkan badan ke tembok bangunan tinggi. Napasnya tersengal-sengal, kepalanya berdenyut-denyut.
“Dams─!” dari mulutnya keluar makian, “Aku di jebak ke Chinatown ini.” Dia merasa masuk ke dalam jebakan.
Setengah jam sebelum dia meninggalkan kantor WS Group pusat, ditelpon seseorang yang minta bertemu sebab ada informasi mengenai penyebab kematian Emina. Orang tersebut menyuruhnya ke losmen di Chinatown.
Sesampai di sana, ternyata dia dikepung banyak pria berpakaian ninja. Tak anyal dia melakukan perlawanan sebab para pria itu menyerang dia. Awalnya dia baik-baik saja, tapi lambat laun merasa jurus kungfu yang dia gunakan tidak bertenaga sekaligus tidak terarah. Tinju dan tendangan meleset dari target. Jadilah dia kena hantam peluru dan ditikam pisau. Stamina dia pun mulai ngedrop, memutuskan melarikan diri sampai di sini.
Kini dia meraih pergelangan tangan kanan, mengecek aliran darah di nadi bagian dalam pergelangan tersebut.
Bruk! Dia kini terduduk di aspal jalan, sebab stamina semakin menurun, kepala bertambah berat, pandangan mulai nanar.
“Dams!” sekali lagi keluar makian dia, “Aku kena racun.” Dia menemukan diri terkena racun, “Pantas jurus kungfuku tidak bertenaga, dan selalu meleset dari lawan.”
Sekonyong-konyong dari arah belakang datang Yolanda yang menenteng tas belanja, sebab dia tadi melihat Hansen berlari kemari dengan tubuh penuh luka. Dia tergerak untuk menolong, jadi menyusul tuan muda itu.
“Tuan─” ditegur Hansen sambil berjongkok di hadapan tuan muda, “Tuan.” Satu tangannya menyentuh pundak Hansen, manik mengamati tubuh sang CEO.
Hansen mendengar suara Yolanda, mengangkat wajah yang tertunduk, lantas melihat rupa si gadis, cepat tangannya memegang kedua lengan atas milik sang nona.
“Nona─” ditegur Yolanda yang tampak lega sebab dia mendengar suara si nona, “Nona, tolong aku.” Dia minta pertolongan.
“Anda siapa, Tuan?” Yolanda bertanya siapa nama Hansen, “Mengapa Anda terluka parah begini?” dia ngilu melihat tubuh pria itu yang berhias luka. “Astaga!” detik berikut dia memekik sebab sang CEO rubuh pingsan ke d*** dia, “Tuan! Tuan!” dia mengangkat tubuh tersebut sambil sedikit digoyang, berusaha menyadarkan Hansen.
“Jadi begitu pertemuanmu dengan Yolanda?” Watson memandang Hansen yang sudah selesai bercerita tentang awal berjumpa Yolanda, “Lantas, saat Kamu siuman, Kamu tidak mengenal siapa dirimu?”
Hansen menganggukan kepala, lantas kedua pelupuk mata melihat peristiwa dia yang siuman dan kehilangan ingatan. Dia pun menceritakan ke Watson.
“Tidak!”
Hansen memekik dan terlonjak menegakan setengah badan di tempat tidur. Kedua pupil mata bergerak menyisiri kesekitar dengan napas memburu. Tubuh dia, kecuali kemaluan, terbungkus perban kassa luka.
“Tuan─” terdengar suara Yolanda menegur dia. Rupanya si gadis berada di sisinya, melihat dia siuman, “Tuan.”
Mendengar suara sang gadis, Hansen memutar badan untuk melihat siapa yang menegurnya. Lantas terpekik.
“Akh!” dia tidak mengenali Yolanda, gegas, menyibak selimut, turun dari tempat tidur, tapi karena tidak ada tenaga terjatuh ke lantai, “Akh!” pekik dia kesakitan.
“Tuhanku!” Yolanda terkaget, gegas, mendekati Hansen, tapi pria itu mengacungkan telapak tangan ke depan sambil berseru.
“Stop!” terdengar suara Hansen menghentikan langkah Yolanda, “Kamu siapa?” lantas bertanya sambil menunjuk sang gadis, “Jangan mendekat!” meminta si gadis tidak mendekati dia.
“Tuan,” Yolanda bicara dengan suara tenang, “Saya menemukan Anda di jalan setapak tidak jauh dari sini.” Dia menjelaskan siapa dirinya, “Saat itu sekujur tubuh Anda terluka karena tusukan dan peluru.”
Mendengar ini, Hansen terhenyak, lantas memandang heran Yolanda.
“Aku terluka parah?” dia menunjuk diri sendiri.
“Anda tidak ingat itu?”
Pria itu menggelengkan kepala, lantas kedua tangan memegangi kepala tersebut, merasa sakit datang mendera hebat.
“Akh!” dia menjerit kesakitan, “Akh!” jeritnya lagi karena syaraf di dalam tubuh ngilu, membuat dia menggelinjai di lantai.
“Tuan─” gegas, Yolanda mendekati Hansen, dengan susah payah diangkat tubuh kekar sang CEO, dipeluk ke d*** untuk meredakan rasa sakit. “Tuhanku─” dia menyebut nama Tuhan, sebab dalam pelukan, Hansen menggeliat kesakitan, “Aku mohon, Engkau ambil kesakitannya, agar bisa kubaringkan lagi ke kasur.”
Doa Yolanda dikabulkan karena perlahan kesakitan yang dirasa Hansen hilang. Pria itu hanya terkulai menyandar ke badan sang gadis.
Yolanda melihat hal ini, perlahan dengan susah payah mengangkat tubuh dia agar mereka berdiri tegak, lalu satu tangan dia dilingkarkan ke belakang leher si nona, dan tangan gadis tersebut memeluk pinggang dia dari belakang, baru dibawa mereka jalan perlahan hingga sampai di tempat tidur.
Yolanda pun mendudukan Hansen di tempat tidur, lantas memberi air minum agar sang CEO lebih tenang. Setelah itu, dibaringkan pria itu ke permukaan kasur.
Hansen terus mengamati Yolanda, bertanya-tanya siapa gadis itu. Paras sang nona cantik glowing dengan make up tipis. Rambut panjangnya di kuncir ekor kuda.
“Tuan─” terdengar suara Yolanda menegur Hansen, dia sudah duduk di tepi tempat tidur, “Anda tenang ya,” diminta tuan muda tenang, “Anda berada di pavilion belakang perguruan kungfu milik kakek saya.” Dijelaskan di mana sang CEO kini.
“Aku kenapa?” Hansen malah bertanya, sebab menemukan dirinya di perban seperti mummy, kecuali kemaluan yang dibungkus celana kolor saja.
“Saya tidak tahu kenapanya, hanya merasa Anda habis fighting sengit, dan mengalami kekalahan sebab terluka parah.”
“Aku?” Hansen terheran, dia sama sekali tidak ingat apa yang terjadi, pelan dia menghela napas.
“Tuan-” Yolanda feeling Hansen kehilangan ingatan, “Anda tenang ya. Jika kondisi Anda sudah membaik, pasti ingat mengapa Anda terluka.”
Hansen menghela napas, mengangguk pelan, “Kamu, siapa namanya?”
“Yolanda Cheng.” Yolanda memberitahu namanya, “Anda bisa panggil dengan Yola.”
“Oke.” Hansen tersenyum, “Terima kasih Anda menolong saya, jika yang Anda bilang benar tadi.”
“Sama-sama, Tuan.” Yolanda menerima ucapan terima kasih dari Hansen, “Anda, siapa namanya?”
Siapa namaku, Hansen terhenyak diberi pertanyaan itu. Pupil dia bergerak-gerak kebingungan.
“Tuan.”
Hansen menoleh, “Nona, Aku tidak tahu siapa namaku.” Dia mengeluh tidak mengenal namanya.