Bab 9. Putar Balik

1096 Kata
Hujan deras terus mengguyur, dan mobil Arya terjebak di antara kendaraan yang berderet panjang. Arya mencoba tetap fokus pada jalan, tetapi pikirannya berkali-kali melompat pada hal-hal yang tidak seharusnya. Jangan khilaf, Arya. Jangan khilaf, gumamnya dalam hati, meski sulit menepis bayangan yang semakin liar. Merasa penasaran dengan bentuk benda yang menekannya itu, Arya pun melirik ke arah benda empuk tersebut. Glek! Arya menelan salivanya. Dia merasa terkagum-kagum dengan bentuk yang penuh sesak itu. Gile nih cewek. Gede banget nennya. Pengen di … Arya menggantungkan ucapan dalam batinnya. Dia malah sedang meremas setir mobilnya. “Ah! Akhirnya dapet juga!” seru Tiara yang kini segera membawa tas Arya ke depan, lalu segera menyerahkannya pada bosnya itu. “Ini, Pak.” “Ya coba cari aja,” ujar Arya singkat, sambil mengalihkan pandangannya dari Tiara. Arya tidak ingin ketahuan, jika saat ini dirinya merasa begitu b*******h dan berdebar tak karuan gara-gara wanita di sampingnya. Tiara sebenarnya merasa canggung jika harus membongkar tas bosnya ini, tapi karena dia membutuhkannya, ia pun melaksanakan perintah bosnya. Tiara yang sedang membongkar tas Arya di kursi sebelahnya, tampak serius mencari kabel charger yang tidak kunjung ditemukan. Dia mengeluarkan berbagai barang dari tas itu, termasuk dompet, parfum, dan bahkan... "Lotion?” gumam Tiara, memegang benda itu dengan alis terangkat. “Pak Arya, serius nih? Lotion? Buat apa?” tanyanya heran. Baru kali ini Tiara mengetahui seorang pria membawa lotion segala. Arya yang semula berusaha menahan diri, langsung tersentak. “Itu... eh, itu lotion buat... tangan kering! Cowok juga perlu perawatan, tahu! Emangnya saya cowok sembarangan?” jawabnya cepat, mencoba menghindari tatapan skeptis Tiara. Tiara tak berkomentar lagi. Dia kembali menggeledah tas Arya. Namun, setelah beberapa menit mencari, Tiara menyerah. “Pak, gak ada. Ini tas isinya macam-macam, tapi charger gak ada,” katanya sambil mengembalikan tas itu ke tempatnya. Arya melirik sekilas ke tasnya, lalu ke ponselnya yang juga sudah mati sejak tadi. “Ya udah, gimana lagi? Emang kamu gak bawa power bank?” tanyanya. Tiara mendesah panjang. “Kalau bawa, gak mungkin saya bongkar tas Bapak, Pak.” Arya mengangkat bahu, lalu kembali fokus pada kemudi. Beberapa jam berlalu, jalan menuju tempat Melani benar-benar macet, membuat Arya merasa bosan sendiri. Melihat ada celah untuk putar balik, Arya pun langsung mengambil keputusan cepat. “Pak…? Mau ke mana?” Tiara langsung menegakkan tubuhnya. Wajahnya terlihat panik. “Balik rumah. Macet kayak gitu, kok.” Arya terlihat kesal. “Ke rumah Bapak?!” “Ya, ke mana lagi? Masa mau tidur di mobil? Rumahku lebih aman daripada di jalan.” “Terus saya gimana, Pak?” “Ya ikutlah! Emang kamu mau diturunin di jalan? Enggak kan?” “Tapi…” Tiara menggigit bibirnya, takut pada sikap Arya saat ini. Jangan-jangan dia punya niat tertentu? Jangan-jangan… ah! pikirnya dengan hati berdebar. Paham apa yang ditakutkan Tiara, Arya pun mencoba menjelaskan. “Udah, sih. Tenang aja. Lagian aku juga gak bakal ngapa-ngapain kamu,” ucap Arya tegas. “Gak napsu,” lanjutnya sambil melirik sekilas ke arah Tiara dengan tatapan meremehkan. Sungguh ucapan Arya kali ini berbanding terbalik dengan apa yang ada di pikirannya sebelumnya. Tiara merasa lega, meski begitu perasaannya masih tak enak. *** Setelah sampai di rumah Arya, hujan masih turun dengan deras. Arya membuka pintu dan masuk begitu saja meninggalkan Tiara yang masih di dalam mobilnya. Tiara di dalam mobil masih berusaha menguasai diri. “Udah… nggak apa-apa, Ra. Lagian Bosmu udah banyak nolong kamu. Dia juga bukan orang mesuum kok,” gumamnya meyakinkan diri sendiri. Arya yang sudah di dalam rumah membalikan badan. Tidak ada tanda-tanda Tiara membuntutinya, atau mengetuk pintu rumahnya. Hal ini jelas membuatnya kembali emosi. “Gimana, sih, nih, bocah? Mau nginep di dalem mobil?” ocehnya dengan kening mengkerut. Arya akhirnya kembali ke luar rumah, untuk mengecek keberadaan Tiara. Terlihat Tiara baru saja turun dari mobil sambil menutupnya pelan. Arya berjalan di belakang Tiara, lalu kembali memarahinya. “Lambat banget kayak siput! Sengaja ya kamu? Bikin saya harus nyamperin kamu?” sentaknya membuat Tiara hampir mencelat karena kaget. “Ma-maaf, Pak,” ujar Tiara sambil menundukan wajahnya. “Buruan masuk! Mandi, abis itu masakin saya makan malam. Saya kelaperan dari tadi gara-gara ngurusin kamu tau nggak?!” Masih saja bos tantrum ini marah-marah, lalu ia pun kembali masuk ke dalam rumah. Tiara mengikuti jejak Arya. Dia melangkah masuk, memandang rumah besar itu dengan takjub. “Wah… Punya Bapak gede ya, Pak,” ucap Tiara terkagum-kagum. Mendengar kalimat yang barusan Tiara ucapkan, Arya pun menghentikan langkahnya. Dia menelan ludah, lalu membalikan badan memandangi Tiara dengan tatapan panik. “Dari mana kamu tau punyaku gede?” tanyanya memastikan. Jujur saja, Arya yang terkejut dengan ucapan Tiara merasa berdebar bukan main. Tiara menatap Arya bingung. Dia lalu menunjuk sekeliling rumah bosnya. “Kan, kelihatan, Pak. Rumah Bapak gede,” ucapnya polos. Glek! Arya malu bukan main. Dia tidak menyangka ucapan yang dimaksud Tiara adalah rumahnya. Arya pikir itu… ah, sudahlah. Arya berusaha menepis pikiran kotornya, tapi karena dia tidak ingin malu, dia melampiaskan amarahnya kembali pada Tiara. “Kamu itu kalo ngomong yang jelas, dong!” sentaknya penuh emosi, lalu berbalik badan lagi. Tiara mengernyitkan wajah. Dia benar-benar bingung dengan sikap emosional bosnya ini. “Perasaan udah jelas ngomongku,” gumamnya pelan, memprotes ucapan Arya. Tiara kembali melanjutkan melangkah masuk dengan hati-hati. Rumah Arya memang besar dan mewah, tapi terasa sepi. Dia jadi penasaran. “Bapak tinggal sendirian di sini?” tanyanya. “Ya iyalah. Emang sama siapa lagi? Saya itu belum kawin, ya,” tegas Arya. Dijawab dengan ketus, membuat Tiara kembali diam. Dia merasa canggung. Namun ia perlu memastikan kembali keadaannya di rumah ini. “Terus… saya… tidur di mana, Pak?” Arya menunjuk sofa panjang di ruang tengah. “Di situ aja. Nyaman kok. Kalau kamu mau lebih mewah, ada kasur tiup di gudang. Mau ditiupin sekarang?” Sengaja sekali dia menggoda. Tiara mendengus. Dia tidak menyangka jawaban Arya seperti ini. Jika dirinya harus tidur di ruang tengah, bagaimana dia mengganti pakaiannya? Apakah dia harus memamerkan pakaian tidurnya di depan Arya? Namun sebagai orang yang menumpang tinggal gratisan, Tiara tidak berani protes. Dia hanya cemberut, sambil memandangi kursi sofa itu. Arya menahan senyumannya. Dia merasa puas mengerjai Tiara. Baginya, Tiara seperti mainan baru yang bisa dia kerjai sepuasnya. Arya lalu memilih untuk pergi ke kamarnya, tapi sebelum masuk, dia melirik ke arah Tiara sekali lagi. “Jangan lupa matiin lampu kalau mau tidur. Mahal tuh listriknya,” ocehnya memperingatkan, kemudian pergi begitu saja. Tiara menghembuskan nafas dengan kasar, sambil berbisik pelan, dia mulai mengumpat. “Dasar Bos pelit!” “Heh, saya denger ya!” Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN