Bab 10. Malam yang Tak Terduga

1126 Kata
Arya yang sudah selesai membersihkan diri kini keluar dari kamar mandi. Rambutnya terlihat masih basah dan ia mengenakan kaos oblong yang membuat tubuh atletisnya tampak lebih menonjol. Dengan langkah santai, ia menuju ruang tamu dan duduk di sofa sambil mengusap lehernya dengan handuk kecil. “Laper, nih. Buatin mi, dong,” perintah Arya dengan nada santai, sambil menyalakan televisi, menghampiri Tiara yang masih sibuk mengisi daya ponselnya. Tiara terkejut dengan kehadiran Arya yang tiba-tiba. Sebelumnya ia memang tidak memperhatikan sekitar. Namun sekarang Tiara jadi bingung sendiri dengan adanya pria yang tiba-tiba menghampiri. Bukannya segera bergerak, Tiara malah terdiam. Dia menatap Arya dengan tatapan kosong. Arya yang menyadari tatapan Tiara pun menoleh. “Ngapain kamu liat-liat? Saya ganteng? Ya, emang.” Arya malah memuji dirinya sendiri. “Udah buruan bikinin, mi. Ada di dapur, tuh. Dapurnya di sana,” lanjut Arya sambil menunjuk ke arah dapur yang berada di samping kanan ruang tengah. Sadar jika saat ini dirinya bersama dengan bosnya, Tiara buru-buru mengangguk. “Baik, Pak. Saya buatkan sekarang.” Lalu ia pun bergegas menuju dapur, membuka lemari dan menemukan sebungkus mi instan. Dalam hati, ia mengomel kecil. “Rumah segede ini, masak makannya mi instan doang?” gumamnya heran. Tiara kembali mengecek isi kulkas, tapi tidak banyak bahan makanan yang bisa digunakan untuk menambah isi mi yang akan dibuatnya. Akhirnya, Tiara tetap membuatkan mi dengan bahan seadanya. Beberapa menit kemudian, aroma mi kuah yang menggugah selera memenuhi udara. Tiara membawa dua mangkuk ke ruang tamu, meletakkannya di meja. “Ini, Pak. Saya ijin buat dua mangkuk, ya, Pak. Soalnya… saya juga laper,” ujarnya canggung, merasa perlu hati-hati menyampaikan hal ini karena takut diamuk oleh bosnya yang tidak jelas ini. Arya hanya menatapnya sejenak, lalu mengambil mangkuknya. Dia tidak peduli dengan ucapan Tiara barusan dan memilih untuk segera menikmati suapan pertama. Mereka makan dalam hening, hanya suara sendok yang terdengar dan acara televisi yang sedang tersiar. Tiara merasa begitu canggung. Dia berusaha menjaga jarak dengan Arya, supaya tidak terlalu dekat dengan bosnya. Setelah beberapa menit, Arya akhirnya membuka pembicaraan. “Besok cek semua jadwal saya. Pastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Kata Melani kamu bisa kerja bener, jadi kamu harus buktiin itu, dan jangan buat saya menyesal sudah menerima kamu.” Tiara mengangguk dengan sigap. “Baik, Pak. Saya akan pastikan semuanya beres.” Arya kini telah menghabiskan makanannya. Dia bersandar di sofa sejenak, menurunkan isi perutnya. “Nanti di cuci bersih, ya. Pastiin jangan ada sisa sabun yang menempel,” titahnya kembali, sambil menendang pelan kaki Tiara yang ada di sampingnya. Tiara yang lagi menyeruput mi-nya jadi kaget. Dia hampir tersedak dan berusaha menguasai diri, lalu mengangguk menjawab ucapan Arya. “Pelan-pelan napa, sih? Orang gak diminta juga.” Arya kembali menimpali dengan nada naik satu oktaf. Dia lalu bangkit dari sofa, mengambilkan segelas air putih yang diminum untuknya dan juga mengambilkan segelas lainnya untuk Tiara. “Nih, minum dulu. Entar nyiprat kena karpet saya, saya yang rugi,” lanjutnya masih tetap dengan nada ketus. Tiara kemudian menerima gelas dari Arya, dan meminum air dalam gelas. Terasa lega, memudahkannya untuk mencerna makanan yang baru saja disantapnya. “Abis ini mandi sana. Biar gak bau. Lagian kamu kan tadi abis kebocoran. Inget lho ya, pastiin itu mu gak keluar bleber ke mana-mana. Saya gak mau rumah saya jadi kotor gara-gara kamu. Najis,” oceh Arya lagi. Tiara mengangguk pelan, merasa tak enak mengingat hal yang sebelumnya terjadi. Namun mendadak teringat sesuatu. “Oh, iya, Pak! Saya belum ambil koper dari mobil.” Arya mengernyitkan kening, menatap Tiara dengan tatapan tajam. “Ya udah, ambil sono.” Kemudian dia kembali duduk sambil melihat acara televisi. “Kuncinya, Pak?” tanya Tiara hati-hati, sambil menengadahkan tangan. Arya kembali melirik Tiara. Dia mengendus kencang. “Hiss! Jadi cewek ngerepotin mulu!” gerutunya, lalu bangkit kembali untuk mengambil kunci mobilnya. Setelah menemukannya, Arya melemparkan kunci mobilnya itu ke arah Tiara. “Jangan lupa nanti dikunci lagi. Udah ya. Saya mau istirahat. Jangan ganggu-ganggu saya lagi,” ujar Arya tegas, lalu ia memilih masuk ke dalam kamar. Tiara berjalan cepat ke luar, menuju garasi. Baru saja Arya masuk kamar dan merebahkan diri, tiba-tiba saja terdengar suara teriakan dari luar. Hal ini jelas membuat Arya kelabakan, langsung bangkit dari posisinya, dan berlari menuju garasi. “Ada apa? Kenapa teriak-teriak?” amuknya kepada Tiara yang saat ini berdiri kaku. “I-itu, Paak… ta-tadi… kresek tempat sampahnya gerak-gerak sendiri.” Tiara menunjuk ke arah yang dia maksud. Arya pun melirik ke arah tersebut. “Mana? Gak ada apa-apa gitu.” Arya celingukan, tapi dia juga tidak berani mendekat. Cit..cit..cit Tiara terbelalak saat seekor tikus melewati kakinya. “Aaa!! Ada tikus, Pak!” Tanpa banyak berpikir, dia langsung merangkul Arya yang berdiri dekatnya, dengan kaki yang menggantung di pinggang pria ini. “Pak, saya takut,” teriaknya dengan suara cemas. Arya yang juga melihat tikus itu terkejut, tapi dia tidak bisa bergerak gara-gara posisi Tiara di tubuhnya. “Heh! Minggir! Sialan! Saya juga takut!” jawab Arya, berusaha melepaskan diri dari Tiara, tetapi Tiara tetap memeluknya erat. Mereka berdua berteriak bersamaan ketika tikus itu mendekat. Dengan penuh perjuangan, Arya bergerak mengambil sapu yang ada di dekatnya. Bagaimanapun juga dia berusaha untuk mengusir tikus itu. “Minggir kamu tikus! Datang gak permisi! Pulang ngerepotin! Mati aja kamu! Mati!” Arya terus saja mengumpat, sambil mengarahkan sapu ke arah tikus itu. Hingga beberapa menit keadaan kacau ini berlangsung, sampai akhirnya tikus itu pergi dari garasi, menghilang ke luar rumah. Tiara akhirnya turun dari gendongan Arya. Mereka berdua tergolek lemah, dengan nafas terengah-engah. “Akhirnya… tikus itu pergi juga,” kata Arya, mencoba menenangkan dirinya. Tiara hanya mengangguk, merasa lega meski tubuhnya masih gemetar. Arya memandang ke arah Tiara. “Kamu itu… bener-bener ya… bawa siaal!” gerutunya menyalahkan wanita di sampingnya. Tiara hanya menunduk. Lalu Arya memilih kembali ke dalam rumah, dan masuk ke dalam kamar. Di dalam kamarnya, Arya yang sudah berbaring di kasurnya, kini masih mencoba menenangkan diri. Dia sengaja menurunkan suhu kamarnya, untuk membuat keringat di tubuhnya cepat kering. Sampai akhirnya, Arya pun tertidur. Namun, bayangan Tiara kembali muncul. Kejadian persis saat mereka berdua di dalam mobil kembali terulang. Tiara tiba-tiba mengeluarkan suara desahannya yang terdengar begitu erotis ketika Arya melepaskan seat belt. Dengan mengenakan kacamata frame hitam, kemeja putih yang kesempitan, Tiara terus saja mendesahh sambil menggigit-gigit bibir bawahnya. Tubuhnya pun terlihat bergoyaang perlahan, seperti cacing kepanasan. Hal ini jelas membuat Arya tak tahan lagi melihatnya. Tiara terlihat begitu seksi. Apa lagi kancing bagian dadanya hampir terlepas karena terlalu sesak. Hingga tak lama, Arya langsung mendekatkan diri ke arah Tiara. Dia meraup bibir Tiara dengan penuh gairah, dan kedua tangannya sudah menggenggam erat dua buah padat yang menempel di tubuh Tiara. Adegan panas pun kini terukir jelas, membuat Arya semakin kepanasan. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN