“Argh!” Arya mengerang. Matanya langsung terbelalak. Dia mengecek bagian celananya yang terasa basah. “Sial!” gerutunya.
Pagi itu Arya terbangun dengan nafas memburu. Mimpinya semalam benar-benar membuat dirinya kepanasan, padahal suhu ruangan ini sudah begitu dingin.
Berusaha untuk melupakan mimpi panas yang menghampirinya, Arya pun segera bangkit dari kasur, membersihkan diri. Bisa-bisanya aku mimpiin dia… batin Arya masih saja heran sendiri.
Sedangkan Tiara kini sudah berada di dapur. Dia menyiapkan sarapan yang hendak disantap oleh bosnya. Setidaknya ini adalah salah satu pekerjaan yang bisa dia lakukan sebagai penumpang di sini.
Arya yang telah selesai mandi, kini merasa kelaparan. Dia berjalan menuju dapur dan tertegun ketika mendapati Tiara sudah berdiri di sana. Mampus… Ada Tiara… Arya makin ketar ketir.
Tiara terlihat mengenakan baju tidur tipis berwarna pastel dengan celana pendek yang hanya menutupi sebagian pahanya. Rambutnya yang masih sedikit berantakan menambah kesan natural, tapi justru itu yang membuat Arya menelan ludah.
Tersadar ada yang berdiri memandangnya, Tiara pun mengangkat wajah. "Selamat pagi, Pak," sapa Tiara. “Bentar ya, Pak. Belum mateng,” lanjutnya, sambil sibuk menggoreng telur di wajan, sambil sesekali mencicipi kuah sup yang sedang dia buat.
Arya terdiam, berusaha menjaga ekspresinya tetap datar meski pikiran liarnya kini kembali menghampirinya. Kenapa dia harus pakai baju kayak gitu, sih? pikirnya dengan kesal.
Tak ingin terlihat canggung, Arya pun berusaha memecahkan suasana. “Kok kamu udah bangun?” tanyanya basa basi sambil duduk di bar stool.
“Kan, bikin sarapan, Pak. Buat Bapak,” jawab Tiara polos.
“Emang siapa yang nyuruh?”
“Emang Bapak gak mau?”
“Ya, mau.”
Tiara hanya mengangkat kedua alisnya. Keheninganmu kembali. Perbincangan mereka berdua tak berlanjut. Mati begitu saja.
Sejenak Tiara membalikan badan saat hendak mengambil peralatan makan. Terlihat jelas siluet tubuh wanita ini begitu menggoda, membuat Arya menelan ludah. Namun Arya langsung mengalihkan pandangannya. Dia pura-pura memeriksa ponsel yang dibawa.
“Jadwalku udah keluar belum?” tanya Arya tanpa menatap ke arah Tiara.
Mendengar pertanyaan yang belum dipersiapkan jawabannya, Tiara jadi kaku. Hah? Jadwal? Emang yang bikin jadwal aku juga? batinnya bertanya-tanya.
Tak mendapatkan jawaban, Arya jadi menatap ke arah Tiara kembali. “Heh! Kok gak dijawab?” suara ketusnya kembali terdengar.
Tiara langsung membalikan badan, mendekat ke hadapan Arya. “Pak. Emangnya… saya juga ya yang bikin jadwalnya? Bukan, Pak Arya? Saya tinggal mengingatkan gitu kan?” Tiara berbicara dengan penuh kehati-hatian, memastikan kembali keadaan.
Arya mengerutkan kening. “Lah? Apa guna kamu kalau saya juga yang buat? Kamu kan sekretaris saya,” nada bicaranya mulai meninggi. Tiara menundukan wajah. Dia merasa bersalah, karena jujur saja dia tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan.
“Jadi kamu belum buat?” tanya Arya lagi.
Tiara mengangguk pasrah.
Arya menghela nafas. “Udah, deh. Sarapan saya mana,” pintanya tak ingin makin pusing di pagi hari gara-gara darah tingginya naik.
Tiara bergegas menyiapkan dua piring berisi nasi dan telur. Tak lupa dia juga menyiapkan sup di mangkuk kecil. “Semoga Bapak suka,” ucapnya sambil tersenyum canggung.
Sesungguhnya, Tiara berharap masakannya kali ini bisa meluluhkan hati Arya supaya tidak merasa kecewa padanya. Tapi Arya tampak tak peduli. Dia hanya makan, tanpa mengatakan apa-apa. Hal ini membuat Tiara semakin tidak enak. Ia pun membalikan badan, sambil membersihkan dapur.
Sesekali Arya mengangkat pandangannya, matanya secara otomatis tertuju pada Tiara yang sibuk membereskan dapur.
"Baju kamu itu…" Arya akhirnya membuka suara kembali.
Tiara menoleh, bingung. "Kenapa, Pak?"
Arya berdeham, berusaha mencari kata-kata yang tepat. "Lain kali pakai yang lebih sopan. Ini kan rumah saya. Kamu gak takut apa, kalau saya ngapa-ngapain kamu?” Arya berucap jujur, sesuai apa yang ada di pikirannya.
Tiara mengerutkan kening, wajahnya agak cemberut. “Kan, Bapak bilang gak napsu sama saya. Emang… Bapak mau… ngapain saya?” Tiara menyipitkan matanya, memastikan kembali jawaban Arya.
Arya mendengus pelan, merasa suasana ini makin membuatnya tidak nyaman. Ia meletakkan sendok dan garpu, lalu berdiri. "Udahlah. Capek ngomong sama kamu. Saya berangkat duluan. Kamu naik taksi saja ke kantor. Jangan terlambat."
Tiara merasa bingung. Dia takut jika ucapan sebelumnya ada yang salah. Bergegas ia keluar dapur untuk mencegah Arya di depannya. “Bapak marah?” tanyanya dengan tatapan takut.
Melihat ekspresi Tiara yang ketakutan begini, entah mengapa membuat Arya jadi gemas padanya. Ia ingin sekali mencubit pipi gembul wanita aneh ini. Namun Arya segela menepis pikirannya. “Gak. Saya gak marah, asal kamu kerja yang bener.” ucapnya tegas. “Udah sana, minggir. Nanti ada rapat, jadi kamu pastiin hadir.” Arya pun kembali melangkahkan kaki, meninggalkan Tiara sendiri.
“Baik, Pak. Saya segera menyusul setelah ini,” teriak Tiara sambil memandangi punggung Arya, membiarkan atasannya itu pergi.
***
Setibanya di kantor, Arya langsung menuju ruang rapat. Beberapa staf nampak sudah memenuhi ruangan ini, dan duduk di kursi melingkar. Mereka menyiapkan dokumen-dokumen yang siap dibahas.
Tak lama, Tiara masuk ke dalam ruangan ini. Dia terlihat sangat berbeda dibandingkan tadi pagi. Kali ini Tiara kembali mengenakan kemeja putih sederhana yang dimasukkan ke dalam rok pensil hitam. Meski tampilannya terbilang rapi, potongan pakaian itu justru membuat lekuk tubuhnya semakin menonjol.
Arya mengernyit pelan. Kancing kemeja Tiara di bagian d**a terlihat terlalu ketat, hampir seperti akan lepas kapan saja. Belum lagi roknya yang membentuk pinggulnya dengan jelas.
Apa-apaan nih bocah? Bukannya waktu itu udah kusuruh milih yang agak gedean? batinnya keheranan.
Arya ingin sekali memarahi Tiara saat itu juga. Tapi ia berusaha menahan diri. Dia tidak ingin mempermalukan asisten barunya di hadapan orang banyak seperti sekarang.
Beberapa staf pria mulai mencuri pandang. Beberapa bahkan saling berbisik dan tersenyum kecil, jelas tidak fokus pada rapat.
Arya mencoba memberi kode pada Tiara. Ia mengangkat alis, lalu melirik ke arah dadanya, berharap Tiara mengerti. Namun, Tiara hanya mengernyit bingung, tidak memahami maksud Arya.
"Pak Arya, jadi strategi marketing untuk kuartal depan ini bagaimana?" salah satu staf pria bertanya, meski matanya jelas masih melirik ke arah Tiara.
Arya menyadari jika tatapan para karyawan pria yang ada di sini, sedang mengarah ke arah d**a Tiara yang pakaiannya terlihat begitu kesempitan dan hendak meledak.
Sungguh melihat sikap para pria itu, Arya jadi kesal sendiri. Dia pun berusaha menegur perbuatan mereka, dengan menggebrak meja di hadapannya.
Brak!
“FOKUSS! FOKUS KE DOKUMEN KALIAN! MATA DIJAGA!!” teriaknya menggetkan yang lainnya.
Ruangan langsung sunyi. Tiara terkejut, matanya membesar saat menatap Arya. Ia masih tidak sadar apa yang terjadi.
Arya melirik ke arah Tiara dengan tatapan tegas. "Dan kamu," ujarnya dengan nada yang lebih rendah tapi tetap tegas, "lain kali pakai baju yang bener ukurannya. Ini kantor, bukan acara fashion show."
Tiara menunduk malu, wajahnya memerah. Dia hanya mengangguk, tak mampu menjawab dengan mulut.
Arya menghela napas panjang, berusaha meredakan emosinya. "Lanjutkan rapat ini," perintahnya kembali, dengan suasana canggung itu tetap terasa hingga rapat selesai.
***
Setelah rapat usai, Arya kembali ke ruangannya. Ia menjatuhkan diri ke kursi, mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu ia bersandar di kursinya, menatap layar komputer dengan pikiran melayang. Rasanya ia belum benar-benar bisa fokus sejak pagi tadi. Keberadaan Tiara di rumahnya kini menjadi beban pikiran yang tak terduga.
Kayaknya ini keputusan yang salah, deh… pikir Arya sambil menghela napas panjang.
Bersambung…