“Kenapa juga aku bawa-bawa dia ke rumahku? Kenapa aku harus terima cewek aneh itu ke perusahaan ini? Harusnya pecat aja langsung! Ahh…” Arya merutuki dirinya sendiri. Dia merasa begitu menyesali keputusannya terkait Tiara. “Tapi Melani… Dia b******k sih… Aargh!” Saking frustasinya, Arya sampai mengacak-ngacak rambutnya sendiri.
Arya tahu, jika dirinya memecat Tiara saat ini, pasti Melani akan melakukan aksi balas dendam padanya. Mantab sekretarisnya itu pasti akan melakukan seribu cara untuk membalasnya, otomatis Arya memilih untuk tidak mengambil resiko itu.
“Gimana kalau aku balikin Tiara ke Melani? Biar dia bawa tuh bocah, tidur di tempatnya.” Arya kembali berpikir, tapi dia juga teringat tentang ucapan Tiara yang tidak ingin merepotkan kakak sepupunya.
Apa lagi, Arya juga takut jika Tiara sampai cerita kepada Melani bahwa dirinya sempat tinggal di rumahnya. Tentu hal tersebut akan menjadi bahan omelan panjang Melani, yang tiada habisnya kepada Arya.
“Enggak, enggak. Melani nggak boleh tau," gumamnya sambil menggelengkan kepala.
Tak lama ponsel Arya berbunyi, membuat lamunannya barusan jadi terbuyarkan. Sebuah pesan dari Melani masuk:
[Jaga Tiara baik-baik, ya Pak Bos. Jangan diisengin, jangan dinakalin, jangan dikerjain. Dia anak baik. Kalau sampai Bapak ngapa-ngapain dia, AWAS!]
Arya memijat pelipisnya. “Lagi-lagi dia berani ngancem kayak gini, cih. Emang aku apaan? Predator?” gumamnya sambil meletakkan ponsel di meja. Ia berusaha mengabaikan pesan itu, tapi kata-kata Melani tetap terngiang di kepalanya.
***
Saat jam makan siang tiba, Arya keluar dari ruangannya. Di lorong, ia melihat meja-meja karyawan sebagian besar kosong. Hampir semua sudah pergi makan siang, kecuali satu orang—Tiara.
Tiara duduk di meja kecilnya, masih sibuk mengetik sesuatu di laptop. Sesekali ia mengerutkan kening, terlihat fokus pada pekerjaannya.
Arya menghela napas, lalu berjalan mendekat. “Hei,” sapanya dengan nada ketus.
Tiara mendongak, terkejut melihat bosnya berdiri di dekatnya. “Iya, Pak?” jawabnya hati-hati.
“Kok masih di sini? Gak makan kamu?” tanyanya dengan nada suara yang terdengar setengah memerintah, setengah mencela.
Tiara tersenyum tipis, merasa sedikit canggung. “Nanti aja, Pak. Ini belum selesai.”
Arya mendengus. “Nanti kalau kamu pingsan gimana? Saya juga yang repot! Perusahan saya nanti rugi gara-gara harus bayar pengobatan kamu,” oceh Arya yang masih saja menyalahkan sikap Tiara. “Udah, ikut saya!” lanjutnya memerintah, sambil melirik ke jam tangannya.
Tiara yang tadinya pasrah dimarahi, kini menatap Arya dengan tatapan bingung. “Ikut ke mana, Pak?”
Arya mendecak pelan, tidak sabar. “Mancing. Ya, makan lah. Mau mati kelaparan kamu? Sengaja ya, pengen bikin perusahaan saya rugi gara-gara melihara kamu?” Lagi-lagi sikap Arya ketus.
Tiara menggelengkan kepala. Sesungguhnya, dia ingin menolak ajakan Arya ini. Tapi sebelum sempat berkata apa-apa, Arya sudah berjalan menjauh. Tiara kini hanya bisa menurut dan buru-buru mengejar Arya.
***
Arya membawa Tiara ke sebuah restoran yang cukup mewah. Saat mereka masuk, Arya langsung melihat sosok yang tidak ingin ia temui sekarang—Melani.
Sialan! Malah ketemu Melani. Kenapa harus sekarang, sih? batin Arya jadi panik.
Arya hendak membalikkan badan, mengurungkan niat untuk makan di tempat ini. Tapi Melani malah melambaikan tangan dari meja di sudut ruangan, dengan wajah berbinar saat melihat kedatangan Arya dan Tiara.
“Tiara!” seru Melani dengan suara ceria. Ia bangkit dari kursinya, langsung menghampiri adik sepupunya itu, lalu memeluknya erat. “Aduh, kamu makin kece aja! Padahal baru sehari kerja, udah berubah gini,” ujarnya memuji dengan kagum.
Tiara merasa sedikit canggung, tapi ia sangat senang melihat saudaranya ada di sini. “Makasih, Kak,” balasnya malu-malu.
Arya yang berdiri di belakang mereka, merasa heran. Dia seperti penonton di tengah drama keluarga. Ia hanya berharap Tiara tidak akan membuka mulut soal tempat tinggalnya sekarang.
Melani menoleh ke Arya, menyipitkan matanya curiga. “Tumben Pak Bos makan bawa orang?”
“Maksudmu? Biasanya bawa demit gitu? Kamu dong,” sahut Arya ketus.
Bibir Melani mengkerut. “Bukan gitu, ih! Biasanya kan Bapak makan siang sendirian.”
Arya mengangkat bahu, mencoba bersikap santai. “Ya kan dia sekretaris baruku. Jadi harus ikutlah ke mana kakiku melangkah.”
Melihat Arya yang tidak rewel seperti biasanya, Melani menyipitkan mata lebih tajam. “Hmm… Pak Arya udah gede ternyata… Udah bisa mikir normal,” ujarnya, setengah bercanda.
“Kamu ngejek? Mending diem. Tutup mulut rombengmu pakai kain kafan.”
“Ih, Pak Arya! Nyebelin banget mulutnya!” sentak Melani tak terima.
Arya memilih duduk, membiarkan Melani kesal sendiri. Sedangkan Tiara kini berusaha menenangkan kakak sepupunya, dan menyuruhnya untuk ikut duduk di meja yang sama. Hingga saat Melani memulai percakapan ringannya kepada Tiara, Arya terus berusaha mengawasi dengan perasaan ketar ketir.
“Jadi gimana? Pak Arya nakalin kamu nggak?” tanya Melani sambil melirik Arya dengan tatapan meledek.
“Em? Enggak kok, Kak. Pak Arya baik banget. Dia malah…” Tiara mulai bicara dengan mimik wajah gembira, tapi langsung dipotong oleh Arya.
“Udah, buruan pesen makanannya. Bukannya tadi kamu laper katanya? Pesen lah sekarang,” ujar Arya terlihat memaksa.
Tiara terdiam, bingung dengan sikap Arya. Tapi ia memilih menurut, meski tatapan penasaran Melani tidak luput dari pandangannya.
Arya merasa jantungnya hampir copot sepanjang makan siang itu. Namun, untungnya, Tiara tidak mengatakan apapun tentang situasi mereka di rumah.
Setelah selesai makan, Arya buru-buru mengajak Tiara kembali ke kantor. Ia tidak mau memberi Melani lebih banyak alasan untuk bertanya-tanya.
Namun, di perjalanan kembali, ia tak bisa menahan diri untuk menegur Tiara. “Lain kali, jangan terlalu banyak cerita kalau lagi sama Melani. Pokoknya saya gak mau kalau Melani sampe tau, kamu tinggal di rumahku.”
Tiara mengangguk, tanda paham maksud pria ini dan berniat menuruti perintahnya.
“Kalau nggak, kamu pindah aja di Melani. Gimana? Tapi pokoknya jangan cerita tentang saya yang udah berbaik hati nampung kamu.”
Tiara terdiam. Sesungguhnya, jika harus memilih, dia lebih sungkan jika harus tinggal bersama kakak sepupunya. Hal ini karena Melani punya kekasih yang tinggal bersama dengannya.
“Hmm… Pak… Kalau… Saya kasbon dulu boleh nggak?”
“Kasbon? Kasbon gimana maksudnya?”
“Mm… Buat ngekos, Pak. Saya pinjam uang Bapak dulu. Nanti gajian saya ganti deh, Pak. Soalnya saya nggak enak juga kalau mau nebeng tinggal sama Kak Melani. Kan… Dia ada pacarnya yang suka nginep. Nanti saya malah jadi ganggu.”
“Emangnya saya rentenir apa? Nagih-nagih utang ke kamu?” Arya terlihat kesal.
Tiara pun terdiam menunduk, tapi ia berusaha memberikan solusi. “Pak, kalau gitu, saya boleh ya ngekos di rumah Bapak? Saya bayar pake tenaga deh. Kalau perlu 24 jam saya akan standby melayani Pak Arya.”
Mendengar Tiara mau standby 24 jam untuk melayaninya, pikiran Arya pun mulai ke mana-mana. Tiba-tiba saja dia merasa keadaan saat ini begitu panas, membuatnya kian gerah.
Bersambung…