Bab 13. Basah Dalam Hujan

1310 Kata
Suasana dalam mobil terasa cukup tenang, meski Arya masih sedikit gugup dengan percakapan yang baru saja terjadi. Tiara terlihat santai, bahkan mungkin sedikit terlalu santai. Dia bahkan tidak berpikiran macam-macam atas ucapannya barusan. Begitu mereka tiba di parkiran kantor, Tiara hendak membuka pintu mobil dan mencoba keluar. Namun, pergerakannya yang terlalu cepat membuat ia merasa tidak nyaman dengan pakaiannya. Ia berusaha memperbaiki posisi duduknya sebelum keluar. “Aduh,” gumam Tiara pelan, tangannya merapikan bagian atas blusnya. Tapi saat ia menarik sedikit kainnya, tiba-tiba… Ctak, ctak… Kancing bajunya terlepas. Arya, yang baru saja mau turun dari mobil, membeku sejenak. Matanya secara refleks tertuju pada Tiara, dan ia langsung melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat. Belahan dadanya Tiara terlihat jelas, membuat Arya tertegun dan panas dingin. "Tiara..." Arya mencoba bicara, tapi suaranya terdengar serak. Tiara yang menyadari situasinya langsung panik. "Astaga! Kancing saya lepas, Pak!" Ia buru-buru menutup dadanya dengan kedua tangan. Panik rasanya. Arya memalingkan wajah, mencoba mengendalikan pikirannya yang mulai berantakan. "Cari apa kek buat nutupin itumu. Kamu tenang. Jangan panik," katanya dengan nada kaku. "Bentar, Pak.” Tiara merogoh tasnya dengan cepat dan menemukan sebuah peniti. “Untung saya bawa peniti, Pak," ujarnya lega. Saat Tiara sibuk memperbaiki bajunya dengan peniti, Arya melirik sekilas. Tapi, pikiran aneh masih mengganggunya. "Pake peniti? Emang, nggak takut meletus?" tanyanya tanpa berpikir. Tiara mengerutkan kening, bingung dengan pertanyaan bosnya. "Meletus? Maksud Bapak? Apanya yang meletus?" Arya tersadar ucapannya terlalu jauh. Ia berdeham untuk mengalihkan perhatian. "Nggak, nggak apa. Dah, gak usah pikirin. Udah selesai, kan? Kita masuk kantor." Tiara mengangguk lalu keluar duluan. Dia berjalan mendahului Arya menuju gedung kantor. Namun, sepanjang perjalanan ke ruangannya, Arya tidak bisa menghilangkan pemandangan tadi dari pikirannya. Di dalam kantor, situasi menjadi lebih rumit bagi Arya. Ia mulai memperhatikan bagaimana beberapa karyawan pria melirik Tiara, terutama saat ia berjalan melewati mereka. Tatapan mereka jelas tidak sopan, membuat Arya merasa terganggu. Saat Tiara datang ke ruangannya untuk menyerahkan laporan, Arya langsung menyuruhnya. "Pakai blazer saya. Jangan dilepas sampai pulang." Tiara terkejut. "Blazer Bapak? Tapi ini terlalu besar." "Udah, nurut. Saya bilang pakai, ya pakai. Jangan tanya kenapa," Arya menegaskan. Tiara menurut dan mengenakan blazer itu meski ukurannya terlalu longgar. Ia kembali ke meja kerjanya, mencoba menahan tawa kecil karena tampak seperti anak kecil yang memakai jas orang dewasa. *** Hari sudah larut malam, dan sebagian besar karyawan sudah pulang. Tiara masih di mejanya, menyelesaikan beberapa dokumen yang diminta Arya. Ia berpikir, bosnya masih di dalam ruangannya, jadi ia memilih menunggu untuk memastikan tidak ada hal lain yang harus ia selesaikan. Ketika Arya keluar dari ruangannya, ia terkejut melihat Tiara masih duduk di mejanya. "Kamu belum pulang? Udah jam segini," katanya dengan nada kesal. "Saya menunggu Bapak selesai, barangkali ada dokumen lain yang perlu saya kerjakan," jawab Tiara dengan penuh kehati-hatian. "Lain kali nggak usah nunggu! Saya lembur, nggak ada hubungannya sama kamu. Pulang sekarang!" Arya memerintah dengan nada tegas. Tiara mengangguk ketakutan. Dia merasa salah karena telah menunggu bosnya. Ia segera berkemas dan meninggalkan kantor, sesuai dengan perintah Arya. Namun, begitu keluar gedung, hujan deras turun. Tiara tidak membawa payung, jadi ia melepas blazer Arya untuk menutupi kepalanya. Sayangnya, blazer itu tidak cukup menutupi seluruh tubuhnya. Bajunya yang tipis langsung basah, menempel di kulit, membuat bra-nya terlihat samar-samar. Arya yang baru keluar beberapa menit kemudian, langsung melihat pemandangan ini. “I-itu kan… Tiara?” gumamnya heran. Entah mengapa melihat pemandangan tubuh Tiara yang lagi-lagi tak sengaja terekspose, membuat Arya merasa berdebar. Namun ketika jantungnya berdegup kencang, ada rasa amarah yang lebih dominan menguasai dirinya. Dia sengaja menghentikan mobil di dekat Tiara, lalu menurunkan jendela, sambil berteriak. "Tiara! Masuk ke mobil sekarang!" Tiara menoleh, sedikit terkejut dengan nada suaranya. Dia berusaha memperhatikan kembali orang yang ada di dalam mobil, sampai akhirnya menyadari jika itu adalah Arya. "Pak Arya?” “Cepet masuk!” “Tapi, Pak, saya basah." "Saya bilang masuk!" Arya tidak memberikan ruang untuk penolakan. Tiara akhirnya menurut dan masuk ke mobil Arya dalam keadaan basah kuyup. Saat ini tubuhnya terasa begitu menggigil karena kedinginan. Sementara Arya yang masih diselimuti amarah yang tak jelas, kini sengaja menyalakan pemanas mobil. Di balik rasa kesalnya, sesungguhnya Arya merasa peduli dengan Tiara, tanpa dia sadari. Selama perjalanan keduanya tidak berbicara. Tiara terlalu takut memulai obrolan karena dari tadi Arya terus saja meninggikan suaranya saat berbicara dengannya. Dia takut jika membuat kesalahan lagi, sampai membuat Arya kembali kesal padanya. Sedangkan Arya entah mengapa masih merasa jengkel sendiri. Dia bahkan tak mengerti keadaan dirinya, dan juga perasaannya yang tiba-tiba menjadi seperti sekarang. Dalam perjalanan pulang, selain hujan deras yang terus mengguyur, jalanan pun terlihat macet parah. Tiara berusaha menguatkan diri, meski saat ini dia merasa begitu kedinginan, sampai gemetaran. Arya melirik Tiara sekilas. Terlihat wajah Tiara mulai memucat. Blazer yang ia kenakan tadi kini diletakkan di pangkuannya, tapi bajunya tetap basah. Terlihat jelas dalaman Tiara menembus baju putihnya. Arya berusaha mengalihkan pandangan, namun melihat Tiara yang terus menerus menggigil, membuatnya semakin khawatir. “Lepas bajumu. Pakai ini aja.” Arya sengaja mengambil jas miliknya yang ada di jok belakang. Dia lalu melemparkannya ke arah Tiara, supaya wanita itu segera menuruti perintahnya. Hanya saja, Tiara merasa bingung. “Lepas… di sini, Pak?” tanyanya gugup, memastikan kembali ucapan Arya barusan. Arya menoleh menatap Tiara dengan tatapan serius. “Biar gak kedinginan. Rumah masih jauh, ini jalanan macet banget. Dan baju kamu itu basah kuyup, yang ada kamu makin kedinginan nanti,” jelas Arya. “Lagian tenang aja, saya gak bakal ngintip. Kaca mobil ini juga gelap, gak kelihatan dari luar,” lanjutnya. Tiara jelas merasa ragu. Rasanya tidak mungkin memamerkan tubuhnya saat berada dengan bosnya seperti sekarang. Namun melihat Arya memalingkan wajahnya mengarah ke jendela di samping, Tiara pun akhirnya menurut. Sambil menutupi tubuhnya dengan jas yang baru saja Arya berikan, Tiara perlahan membuka kancing bajunya. Dia sedikit kesulitan ketika melepaskan seluruh pakaiannya. Alhasil, terpaksa Tiara menurunkan jas tersebut untuk memudahkan nya melepaskan pakaian. Glek! Arya menelan ludah. Dia memang tidak melihat secara langsung tubuh Tiara, namun bayangan tubuh itu terpantul di jendela sampingnya. Terlihat jelas bagaimana Tiara melepaskan pakaiannya hingga memperlihatkan tubuh bagian atas yang hanya tertutup bra hitam. Juniornya pun kembali meronta. Tahan… Tahan Arya! Jangan gegabah! batin Arya berusaha untuk memperingatkan diri. Jujur saja, dalam keadaan ini, Arya ingin sekali meraup tubuh Tiara. Dia ingin menyatukan tubuhnya dengan, untuk menghangatkan diri. Namun pikir jorok itu berusaha ia tepis, ketika mendengar suara Tiara. “Sudah, Pak. Terima kasih,” ucap Tiara, membuat Arya jadi reflek menoleh ke arahnya. Arya menghela nafas ketika melihat Tiara sudah menutupi tubuh dengan jasnya. Dia berusaha mengatur debaran jantungnya, dan menguasai diri kembali. Hingga akhirnya macet pun mulai terurai. Tak ingin terjebak terlalu lama dalam situasi panas seperti ini, Arya pun segera memacu mobilnya, supaya segera sampai di rumahnya. *** Arya sengaja mengambil segelas air hangat dan memberikannya kepada Tiara yang terlihat masih menggigil. “Minum, abis ini mandi dulu. Saya siapkan kamarmu,” ucap Arya, kemudian melewati Tiara begitu saja. Hal ini membuat Tiara bingung, namun ia tak banyak protes. Tiara pun mematuhi ucapan Arya. Dia meminum air putih hangat itu, lalu meletakan pakaian yang basah ke mesin cuci terlebih dahulu, baru masuk ke dalam kamar mandir. Arya yang tak tega membiarkan Tiara tidur di ruang tengah, kini sengaja membuka salah satu ruang di dalam rumahnya. Ruangan yang biasanya dia pakai untuk ruang baca dan santai, akhirnya ia tata untuk Tiara. Di dalamnya sudah ada kasur single. Tak banyak yang diubah Arya, hanya dirapikan saja. Lalu barang-barang Tiara pun dimasukan juga ke dalam kamar yang dekat dengan ruang tengah ini. Suara air mulai terdengar dari kamar mandi, Arya tak begitu memperhatikan dan ia sibuk membereskan kamar untuk sekretarisnya. Hingga tak lama, terdengar suara Tiara memanggilnya. “Pak Arya, bisa minta tolong?” Mendengar suara wanita seperti itu di dalam kamar mandi, Arya pun mematung. Berusaha menelaah arti dari kalimat Tiara barusan. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN