Bab 14. Perang Pikiran Arya

1039 Kata
"Pak Arya... tolong ambilkan handuk saya, sepertinya ketinggalan di luar," suara Tiara terdengar lagi, kali ini lebih lirih namun jelas terdengar oleh Arya. Arya memejamkan matanya sejenak, berusaha menenangkan diri. Tenang Arya, tenang! Ini ujian kesabaran! batinnya berteriak. Tapi apa boleh buat? Dalam situasi seperti ini, ia harus bertindak. “Bentar!” Arya menjawab sambil mencari handuk yang dimaksud. Setelah menemukannya di jemuran dekat dapur, ia berjalan ke depan pintu kamar mandi. Napasnya terasa berat. Ragu rasanya untuk mengetuk pintu kamar mandi ini. Merasa tak dapat mengontrol pikirannya, Arya pun kembali menjawab. “Handuknya saya taruh di gagang pintu. Kamu ambil sendiri aja,” kata Arya cepat sambil menggantungkan handuk itu. "Terima kasih, Pak," jawab Tiara pelan dari dalam. Arya buru-buru menjauh dari kamar mandi, kembali duduk di sofa sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Jantungnya masih berdebar kencang. Bayangan kejadian sepanjang malam ini membuat pikirannya makin kacau. “Gila… ini gila,” gumam Arya, berusaha meredam perasaan yang terus menyerangnya. Bayangan Tiara dalam keadaan basah kuyup, tubuhnya yang samar-samar terlihat, hingga suara lembutnya dari kamar mandi—semuanya terasa membekas di kepalanya. Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di ruang tamu untuk mengalihkan pikiran. Namun, semakin ia mencoba, bayangan itu justru semakin kuat. “Dia itu bawahan lu, Arya! Jangan kebawa suasana!” ia berusaha menegur dirinya sendiri. Namun pikiran kotornya kembali mendominasi. Bayangan akan tubuh Tiara tanpa busana tiba-tiba mengisi khayalannya. Glek! Arya benar-benar hampir gila. Dia ingin sekali berbuat tak senonoh pada wanita itu. "Ah, sial! Ini nggak bisa dibiarkan," Arya mendesis. Ia mendadak menjatuhkan diri ke lantai, lalu mulai melakukan hal konyol demi menenangkan diri sendiri. "Koprol dulu, biar pikiran jorok ini hilang," gumamnya sambil menggulingkan tubuhnya ke depan. Tapi satu koprol ternyata tidak cukup. Ia terus melakukannya, bahkan mencoba salto ke belakang. Setelah beberapa kali jungkir balik, ia berhenti sejenak, duduk di lantai dengan napas terengah. Namun, pikirannya masih belum tenang. "Oke, sekali lagi. Mungkin kalau kepala dibolak-balik terus, semua pikiran kotor ini bakal hilang," ujarnya, lalu melanjutkan aksinya. Belum selesai dengan aksinya, tiba-tiba Tiara kembali memanggil. “Pak Arya… maaf… bisa minta tolong ambilin baju saya juga tidak? Saya… lupa,” ujar wanita di balik pintu kamar mandi. Glek! Bayangan Tiara tanpa busana semakin tergambar jelas, apa lagi usai wanita itu mengatakan permintaannya. Arya semakin merasa panas. Merasa tak bisa berpikir jernih, Arya malah masuk ke kamarnya dan mengambil kaos miliknya. Lalu ia kembali berdiri di depan pintu kamar mandi. “Nih! Pake punyaku dulu. Saya gak mau bongkar-bongkar barangmu,” sahut Arya menjelaskan singkat. Tidak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka sedikit. Tiara muncul dengan rambut basah yang terurai, dan handuk yang melilit tubuhnya. Glek! Entah ini sudah keberapa kalinya Arya menelan ludah. Dia benar-benar dibuat terbujur kaku, dengan pandangan mata fokus ke arah tubuh Tiara–yang sedang mengintip dari balik pintu. Pria ini benar-benar tak bisa berpaling menatap, meski hanya sepintas tubuh Tiara yang terekspos sebagian. Tiara buru-buru mengambil kaos dan celana pendek yang Arya bawa. Dia lalu segera menutup pintu kembali, hingga membuat Arya kembali sadar dengan keadaan sekarang. Fiuh! Untung saja cuma sebagian, pikirnya. Namun lagi-lagi—namanya pria lajang, bujang lapuk, yang sudah lama tidak dijamah—pikiran kotornya kembali menguasai. Arya sungguh seperti berada di dalam neraka, kepanasan. “Argh! Kalau kayak gini terus aku bisa gila!” gumamnya merutuki diri sendiri. Arya kembali bertingkah, dia mengulang koprol di dalam rumah ini, demi menurunkan hasratnya. Dia mondar mandir berkali-kali, berharap pikiran joroknya segera gilang. Tiara keluar dari kamar mandi beberapa menit kemudian. Rambutnya basah, wajahnya bersih, dan ia mengenakan kaos gombrong serta celana pendek yang diberikan Arya. Tapi, karena kaos itu terlalu tipis dan longgar, bentuk tubuhnya—terutama bagian dadanya—masih terlihat samar di bawah lampu. Saat itu, ia melihat Arya sedang melakukan salto dengan gerakan yang tampak begitu... tidak masuk akal. "Pak Arya?" panggil Tiara dengan nada bingung. Arya yang sedang berguling langsung berhenti dan berbalik. Matanya secara refleks menatap Tiara yang berdiri di ambang pintu kamar mandi. Kaos yang dikenakan Tiara menempel lembut pada kulitnya, dan bagian tertentu terlihat cukup jelas, terutama di bagian ujung dadanya. Arya menelan ludah, mencoba mengalihkan pandangannya, tapi otaknya seakan memprotes. "Jangan lihat, Arya. Jangan lihat," gumamnya pelan pada dirinya sendiri, sambil memalingkan wajah. Namun, rasa penasaran membuatnya melirik lagi, meski hanya sesaat. "Astaga, Arya! Fokus! Anak orang itu, woy! Jangan rusak dia!" katanya dalam hati, setengah berteriak. Tapi semakin ia mencoba menenangkan pikirannya, bayangan itu terus menghantui pikirannya. "Pak, Bapak kenapa… koprol kayak gitu?" tanya Tiara sambil menatap bosnya dengan penuh rasa heran. Arya mencoba bersikap santai, bangkit dari lantai, dan menyeka keringat di dahinya. "Oh, ini... olahraga malam. Biar badan tetap bugar, tetep sehat, tetep semangat. Kamu nggak ngerti, ya? Cih! Kelihatan, sih, kamu klemar-klemer gak pernah olahraga." Arya sengaja meremehkan, menutupi rasa malunya. Tiara mengerutkan kening, tapi akhirnya mengangguk kecil. "Oh, begitu ya, Pak. Ya, maaf kalau mengganggu,” balas Tiara santai. Arya hanya mengangguk, lalu berjalan ke dapur. Ia membuka kulkas, mengambil sebotol air dingin, dan meneguknya dalam-dalam, berharap hawa dingin bisa menenangkan pikirannya yang sedang kacau. Di ruang tamu, Tiara duduk di sofa, mengeringkan rambutnya dengan handuk yang dibawanya. Ia terlihat masih santai, tapi Arya merasa seluruh rumah itu tiba-tiba terasa terlalu sempit. Ia berusaha tetap tenang, tapi bayangan Tiara terus bermain di pikirannya. "Arya, kontrol diri. Anak orang itu. Kalau sampai terjadi apa-apa, habislah kau," pikirnya, sambil menyandarkan kepala ke pintu kulkas yang dingin. Tiara kemudian menyadari ruangan yang baru saja terbuka. Dia lalu bertanya pada Arya. “Itu, ruangan apa, Pak?” Arya hampir tersedak, kaget dengar suara Tiara yang menghalau pikirannya. Dia lalu menoleh, menatap ruangan yang dimaksud wanita ini. “Ah, itu, kamarmu. Kamu tidur di sana aja. Biar saya gak kaget kalau mau keluar kamar liat ada kamu mulu,” jawabnya asal. Tiara tersenyum lebar, dia lalu berdiri sambil meloncat. “Yeah! Beneran, Pak? Saya dapat kamar?” teriaknya. Arya yang lagi minum kini menyemburkan air dalam mulutnya. Dia kaget ketika Tiara meloncat dengan dua buah dadanya yang menggantung ikut bergoyang, terlihat tak ada penyangga. Hal ini membuat fantasi liarnya kian beraksi. Tak ingin kalah perang dengan dirinya sendiri, Arya pun langsung menegur sikap Tiara. “Heh! Udah! Gak usah berlebihan!” teriaknya, lalu pergi meninggalkan Tiara. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN